PM Khan: Pakistan Tidak Akan Gunakan Senjata Nuklir
INDEX

BISNIS-27 431.53 (-3.35)   |   COMPOSITE 4906.55 (-27.45)   |   DBX 934.495 (-1.3)   |   I-GRADE 129.531 (-1.1)   |   IDX30 408.573 (-4.05)   |   IDX80 107.231 (-1.06)   |   IDXBUMN20 271.434 (-3.2)   |   IDXG30 114.42 (-1.08)   |   IDXHIDIV20 364.598 (-3.27)   |   IDXQ30 119.596 (-1.07)   |   IDXSMC-COM 210.435 (-0.56)   |   IDXSMC-LIQ 236.069 (-1.95)   |   IDXV30 101.606 (-0.8)   |   INFOBANK15 772.076 (-4.94)   |   Investor33 357.854 (-2.78)   |   ISSI 144.258 (-0.69)   |   JII 521.112 (-3.55)   |   JII70 177.199 (-1.37)   |   KOMPAS100 960.444 (-7.38)   |   LQ45 749.999 (-7.62)   |   MBX 1355.95 (-8.44)   |   MNC36 267.764 (-2.13)   |   PEFINDO25 261.843 (-3.84)   |   SMInfra18 232.762 (-2.06)   |   SRI-KEHATI 301.662 (-2.42)   |  

PM Khan: Pakistan Tidak Akan Gunakan Senjata Nuklir

Selasa, 3 September 2019 | 08:35 WIB
Oleh : Unggul Wirawan / WIR

Islamabad, Beritasatu.com- Pakistan tidak akan menggunakan senjata nuklir terlebih dahulu, di tengah ketegangan dengan saingan beratnya India. Pernyataan itu dilontarkan Perdana Menteri Imran Khan pada Senin (2/9), setelah New Delhi mencabut status khusus bagiannya dari wilayah Kashmir yang disengketakan.

“Kami berdua adalah negara-negara bersenjata nuklir. Jika ketegangan ini meningkat, dunia bisa dalam bahaya. Tidak akan ada yang pertama dari pihak kami,” kata Khan, berbicara kepada anggota komunitas keagamaan Sikh di kota timur Lahore.

Di Twitter, juru bicara kementerian luar negeri kemudian mengatakan bahwa komentar itu diambil di luar konteks dan tidak mewakili perubahan dalam kebijakan nuklir Pakistan.

“PM hanya menegaskan kembali komitmen Pakistan untuk perdamaian dan perlunya kedua negara nuklir untuk menunjukkan perilaku yang bertanggung jawab,” kata juru bicara Mohammad Faisal di akun Twitter resminya.

Ketegangan tetap tinggi di Kashmir, tempat pasukan keamanan telah menggunakan gas air mata terhadap pengunjuk rasa yang melempar batu. Namun Kashmir tetap terkunci setelah keputusan Perdana Menteri India Narendra Modi menarik hak-hak khusus bagi negara mayoritas Muslim pada 5 Agustus.

Dengan menanggalkan status khusus Kashmir yang dikuasai India, New Delhi memblokade hak kawasan untuk memberlakukan undang-undang sendiri dan mengizinkan orang yang bukan penduduk membeli properti di sana.

Delhi menyatakan perubahan itu akan membantu pembangunan Kashmir, untuk kepentingan semua pihak. Tetapi langkah Delhi justru membuat marah banyak penduduk di wilayah itu dan sangat dikecam oleh Pakistan.



Sumber:Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Serangan Koalisi Saudi di Yaman, 100 Orang Tewas

Seorang pejabat Palang Merah memperkirakan bahwa serangan udara Saudi menewaskan sedikitnya 100 orang di satu penjara Yaman, Minggu (1/9)

DUNIA | 2 September 2019

Partai Buruh Akan Hentikan “No-Deal Brexit”

Oposisi utama Inggris, Partai Buruh, menyatakan akan melakukan apa pun yang memungkinkan untuk menghentikan Brexit tanpa kesepakatan (no-deal Brexit)

DUNIA | 2 September 2019

Milisi Kashmir Desak Intervensi Militer Pakistan

Komandan militan Kashmir menyatakan Pakistan harus mengirimkan pasukan untuk melindungi orang-orang di wilayah Kashmir yang dikuasai India

DUNIA | 2 September 2019

Menlu Resmikan "Migas Corner" Pertama di KBRI Kuwait

Migas Corner dilengkapi dengan informasi terkini mengenai industri hulu sektor migas di Indonesia dan potensi sumber daya.

DUNIA | 2 September 2019

KBRI Riyadh Terima Santunan Rp 85,1 M untuk Korban Crane

Santunan dari Raja Salman ini diperuntukkan untuk para korban musibah jatuhnya crane pada musim haji 2015 lalu.

DUNIA | 2 September 2019

AS dan Tiongkok Berlakukan Tarif Baru Impor

Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok sama-sama memberlakukan kenaikan tarif baru impor pada Minggu (1/9), yang srksligus menandai babak kedua perang dagang antarkedua negara.

DUNIA | 2 September 2019

Dampak Perang Dagang, Vietnam Paling Diuntungkan

Berdasarkan kenaikan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dari perdagangan, Nomura mencatat delapan negara yang mendapatkan keuntungan dari perang dagang AS-Tiongkok

DUNIA | 2 September 2019

AS-Tiongkok "Berperang", Asia Berpeluang

Saat Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok mungkin mengalami kekalahan karena sama-sama terus meningkatkan tarif, situasi itu bisa membuahkan peluang bahkan keuntungan bagi negara-negara di Asia.

DUNIA | 2 September 2019

Perang Dagang, Berawal dari Ambisi Bernama Trump

Trump hanya menggunakan logika pendek saat mengenakan bea masuk sebesar US$ 50 miliar pada barang-barang Tiongkok pada 22 Maret 2018.

DUNIA | 2 September 2019

Warga Polandia dan Turis Ikut Menari Gemu Fa Mi Re

Gemu Fa Mi Re memiliki gerakan yang sederhana, tetapi dinamis serta energik.

NASIONAL | 1 September 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS