Hampir 4.000 Orang Ditahan Setelah Otonomi Kashmir Dicabut
INDEX

BISNIS-27 446.563 (0.9)   |   COMPOSITE 5038.4 (20.82)   |   DBX 922.546 (11.18)   |   I-GRADE 135.148 (0.22)   |   IDX30 424.72 (2.48)   |   IDX80 110.692 (0.82)   |   IDXBUMN20 282.764 (1.87)   |   IDXG30 117.102 (1.3)   |   IDXHIDIV20 380.385 (2.52)   |   IDXQ30 124.37 (0.98)   |   IDXSMC-COM 213.267 (2.27)   |   IDXSMC-LIQ 240.075 (3.67)   |   IDXV30 104.022 (1.02)   |   INFOBANK15 809.007 (-5.39)   |   Investor33 370.782 (0.4)   |   ISSI 146.581 (1.48)   |   JII 534.734 (4.37)   |   JII70 181.171 (1.51)   |   KOMPAS100 994.168 (2.43)   |   LQ45 775.543 (4.77)   |   MBX 1400.42 (4.19)   |   MNC36 279.01 (-0.17)   |   PEFINDO25 262.474 (3.1)   |   SMInfra18 238.826 (3.53)   |   SRI-KEHATI 314.013 (-0.58)   |  

Hampir 4.000 Orang Ditahan Setelah Otonomi Kashmir Dicabut

Jumat, 13 September 2019 | 20:53 WIB
Oleh : Natasia Christy Wahyuni / WIR

New Delhi, Beritasatu.com- Otoritas di wilayah Kashmir yang dikuasai India telah menangkap hampir 4.000 orang sejak membatalkan status khusus negara bagian itu bulan lalu. Ini menjadi bukti paling jelas dari skala terbesar tindakan keras di kawasan itu.

Dari laporan pemerintah tanggal 6 September 2019 disebutkan 3.800 orang telah ditangkap, meskipun 2.600 orang diantaranya dilepaskan. Tidak jelas dasar penangkapan orang-orang itu, tapi pejabat India menyatakan mereka ditangkap berdasarkan Undang-undang Keselamatan Publik (PSA), yaitu hukum di Jammu dan Kashmir yang mengizinkan seseorang ditahan selama lebih dari dua tahun tanpa adanya tuduhan.

Pada Kamis (12/9), polisi India menangkap tiga orang tersangka dari organisasi militan Pakistan, telah ditangkap karena mengirimkan senjata dan amunisi ke wilayah Kashmir. Polisi mencegat para pria itu pada Kamis pagi dan menyita dari mereka senapan serbu AK-56, dua senapan AK-47s, enam majalah, dan 180 peluru.

“Truk itu datang dari negara bagian India, Punjab, dan dalam perjalanan ke Kashmir. Kami menyelidiki dari mana tepatnya mereka mengambil amunisi itu,” kata petugas polisi, Shridhar Patil.

Polisi menaytakan para pria itu, seluruhnya warga Kashmir, terafiliasi dengan kelompok milisi berbasis di Pakistan, Jaish-e-Mohammed, yang melakukan bom bunuh diri pada Februari 2019 di Kashmir dengan korban tewas 40 pasukan India.

Ketegangan meningkat di Kashmir sejak India mencabut otonomi negara bagian itu. Kashmir sendiri terbagi dua menjadi milik India dan Pakistan sejak 1947.

Pemerintah India langsung mematikan jaringan telepon dan internet, serta mengirimkan puluhan ribu tentara untuk mempertahankan perdamaian di sana. Tambahan tentara itu bergabung dengan hampr setengah juta pasukan yang sudah berada di wilayah yang paling sarat militer di dunia.



Sumber:Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Mahathir Kirim Surat ke Jokowi Terkait Kabut Asap

PM Malaysia Mahathir Mohamad akan mengirimkan surat kepada Presiden Joko Widodo untuk menyampaikan keprihatinannya tentang kabut asap lintas batas

DUNIA | 13 September 2019

Thailand Akan Izinkan Warga Tanam Ganja di Rumah

Warga Thailand diperbolehkan menanam enam pot ganja di halaman rumah mereka dalam rancangan aturan perundangan yang tengah diusulkan Partai Bhumjaithai.

DUNIA | 13 September 2019

Asap Karhutla, Malaysia Tidak Kirim Nota Protes

Malaysia justru mengirimkan surat berisi tawaran bantuan untuk penanggulangan karhutla kepada Pemerintah Indonesia.

DUNIA | 13 September 2019

Ungkapan Belasungkawa Dunia untuk Habibie Terus Mengalir

Ungkapan belasungkawa atas wafatnya Presiden Ketiga RI, BJ Habibie, terus mengalir dari pemimpin dunia.

DUNIA | 13 September 2019

Dampak Kabut Asap, Malaysia Tuntut Indonesia Kirim Masker

Pemerintah Malaysia menuntut Indonesia mengirimkan masker wajah dan pasokan medis sebagai kompensasi atas kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatera.

DUNIA | 13 September 2019

Polisi India Tangkap 4.000 Orang di Khasmir

Polisi India di wilayah Kashmir telah menangkap hampir 4.000 orang, sejak Pemerintah India membatalkan status khusus negara bagian itu, pada Agustus 2019.

DUNIA | 13 September 2019

Video Pertemuan Terakhir Habibie-Xanana Viral

Video pendek yang menunjukkan pertemuan terakhir Presiden Ketiga RI, BJ Habibie, dengan Presiden Pertama Timor Leste, Xanana Gusmao, viral di media sosial.

DUNIA | 13 September 2019

Tiongkok-Kazakhstan Sepakati Kerja Sama Strategis Permanen

Tiongkok dan Kazakhstan menyepakati perjanjian kerja sama strategis yang komprehensif dan permanen.

DUNIA | 13 September 2019

Khawatir Kabut Asap, Mahathir Akan Surati Jokowi

Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, dikabarkan akan menyurati Presiden RI, Joko Widodo, untuk menyampaikan keprihatinannya terkait kabut asap.

DUNIA | 13 September 2019

Jepang akan Buang Limbah Radioaktif ke Samudra Pasifik

Air yang terkontaminasi dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima kemungkinan bakal dibuang ke laut, ruang penyimpanan akan habis pada 2022 mendatang

DUNIA | 13 September 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS