Pengadilan PBB Desak Suu Kyi Hentikan Genosida Rohingya
INDEX

BISNIS-27 431.53 (-3.35)   |   COMPOSITE 4906.55 (-27.45)   |   DBX 934.495 (-1.3)   |   I-GRADE 129.531 (-1.1)   |   IDX30 408.573 (-4.05)   |   IDX80 107.231 (-1.06)   |   IDXBUMN20 271.434 (-3.2)   |   IDXG30 114.42 (-1.08)   |   IDXHIDIV20 364.598 (-3.27)   |   IDXQ30 119.596 (-1.07)   |   IDXSMC-COM 210.435 (-0.56)   |   IDXSMC-LIQ 236.069 (-1.95)   |   IDXV30 101.606 (-0.8)   |   INFOBANK15 772.076 (-4.94)   |   Investor33 357.854 (-2.78)   |   ISSI 144.258 (-0.69)   |   JII 521.112 (-3.55)   |   JII70 177.199 (-1.37)   |   KOMPAS100 960.444 (-7.38)   |   LQ45 749.999 (-7.62)   |   MBX 1355.95 (-8.44)   |   MNC36 267.764 (-2.13)   |   PEFINDO25 261.843 (-3.84)   |   SMInfra18 232.762 (-2.06)   |   SRI-KEHATI 301.662 (-2.42)   |  

Pengadilan PBB Desak Suu Kyi Hentikan Genosida Rohingya

Rabu, 11 Desember 2019 | 21:47 WIB
Oleh : Natasia Christy Wahyuni / WIR

Den Haag, Beritasatu.com- Pemimpin de facto Myanmar sekaligus peraih penghargaan Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi (74), memimpin negaranya untuk menghadapi persidangan di Pengadilan Internasional Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) atau International Court of Justice (ICJ) di Den Haag, Selasa (10/12).

Pemimpin sipil itu terpaksa duduk di sana untuk menjawab kasus yang diajukan negara Afrika Barat, Gambia, terkait dugaan pembunuhan massal dan pemerkosaan warga Rohingya.

Pengadilan menyerukan agar Suu Kyi mendesak Myanmar menghentikan genosida kepada Rohingya. Sekitar 740.000 warga Rohingya melarikan diri ke negara tetangga, Bangladesh, setelah tindakan keras berdarah oleh militer Myanmar pada 2017 yang disebut para penyelidik PBB sebagai genosida.

“Katakan kepada Myanmar untuk menghentikan pembunuhan tidak masuk akal ini, untuk menghentikan tindakan kebiadaban yang terus mengejutkan nurani kolektif kita, untuk menghentikan genosida terhadap rakyatnya sendiri,” kata Menteri Kehakiman Gambia Abubacarr Tambadou.

Pada Selasa, sekitar 2.000 orang turun ke jalan di Yangon dan puluhan ribu orang lainnya menggelar aksi di Mandalay untuk mendukung Suu Kyi. Sikap Suu Kyi yang tak bergeming terkait nasib Rohingya sehingga merusak reputasi HAM internasionalnya.

Negara mayoritas Muslim di Afrika, Gambia, menuding Myanmar melanggar Konvensi Genosida 1948 dan mendesak pengadilan PBB mengambil tindakan darurat untuk menghentikan kekerasan lebih lanjut. Pengadilan itu berdiri tahun 1946 sebagai sarana untuk memutuskan perselisihan antara negara anggota PBB.

“Genosida lainnya berlangsung tepat di depan mata kita, tetapi kita tidak melakukan apa pun untuk menghentikannya,” kata Tambadou yang merupakan mantan jaksa penuntut dalam pengadilan kasus genosida Rwanda tahun 1994.

“Setiap hari tanpa tindakan berarti lebih banyak orang dibunuh, lebih banyak perempuan diperkosa, dan lebih banyak anak-anak dibakar hidup-hidup. Atas kejahatan apa? Hanya karena mereka terlahir berbeda,” tambahnya.

Aung San Suu Kyi, yang dianugerahi Nobel Perdamaian 28 tahun, akan menyampaikan pembelaan Myanmar hari Rabu (11/12). Dia diperkirakan akan menyebut Myanmar melakukan opera



Sumber:Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Suu Kyi Bantah Tuduhan Genosida Terhadap Rohingya

Aung San Suu Kyi, pada Rabu (11/12/2019), menolak tuduhan genosida yang dilakukan terhadap minoritas Muslim Rohingya di negaranya.

DUNIA | 11 Desember 2019

Menhan Tawarkan Senjata Buatan Pindad ke Laos

Menteri Pertahanan menawarkan senjata produksi PT Pindad kepada Laos, selain itu Prabowo Subianto juga menawarkan tenaga Kopassus untuk melatih prajurit Laos.

DUNIA | 11 Desember 2019

Tiongkok Akan Singkirkan Semua Komputer Produk AS

Arahan pemerintah Tiongkok kemungkinan akan menjadi pukulan bagi perusahaan multinasional AS seperti HP, Dell dan Microsoft.

DUNIA | 10 Desember 2019

Akibat Doping, Rusia Dilarang Ikut Olimpiade dan Piala Dunia

Rusia dilarang mengikuti acara olahraga top dunia selama empat tahun, termasuk Olimpiade musim panas dan musim dingin berikutnya dan Piala Dunia sepak bola 2022, karena merusak tes doping.

DUNIA | 10 Desember 2019

Pertama Kali, Putin Bertemu Presiden Ukraina di KTT Paris

Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy untuk pertama kalinya pada Senin (9/12) di pertemuan puncak di Paris, Prancis.

DUNIA | 10 Desember 2019

Pemilu Inggris Akan Putuskan Segera Brexit atau Referendum Kedua

Pemilu Inggris yang akan digelar Kamis (12/12) akan memutuskan apakah Inggris akan meninggalkan Uni Eropa (UE) pada Januari atau melakukan referendum Uni Eropa (UE) lainnya.

DUNIA | 10 Desember 2019

Guatemala Resmikan Kedutaan Besar di Jakarta

Pemerintah Guatemala kembali membuka kedutaan besarnya di Jakarta setelah sempat ditutup pada 1992.

DUNIA | 10 Desember 2019

Sidang Pembuktian Penyelidikan Pemakzulan Trump Ramai Interupsi

Sidang pembuktian penyelidikan pemakzulan Presiden Amerika Serikat (AS), Donad Trump, yang berlangsung selama sembilan jam pada Senin (9/12), ramai dengan interupsi.

DUNIA | 10 Desember 2019

Warga NTT Ajukan Klaim Kompensasi Pencemaran Montara ke PBB

Klaim yang diajukan ke PBB itu diajukan atas nama 13 kabupaten di Nusa Tenggara Timur.

NASIONAL | 9 Desember 2019

Pemimpin Hong Kong Tolak Tuntutan Demonstran Po-Demokrasi

Pemimpin Eksekutif Hong Kong, Carrie Lam, menolak memenuhi tuntutan demonstran, termasuk penyelidikan independen atas kekerasan polisi terhadap demonstran.

DUNIA | 9 Desember 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS