Polisi Pelayan yang Makin Dirasakan
INDEX

BISNIS-27 434.176 (-7.64)   |   COMPOSITE 4917.96 (-75.2)   |   DBX 928.196 (-4.7)   |   I-GRADE 130.286 (-2.42)   |   IDX30 412.166 (-7.85)   |   IDX80 107.727 (-2.08)   |   IDXBUMN20 269.265 (-5.95)   |   IDXG30 115.773 (-2.53)   |   IDXHIDIV20 368.481 (-6.65)   |   IDXQ30 120.761 (-2.3)   |   IDXSMC-COM 210.292 (-3.36)   |   IDXSMC-LIQ 235.988 (-6.09)   |   IDXV30 101.893 (-2.12)   |   INFOBANK15 773.605 (-13.29)   |   Investor33 359.92 (-6.34)   |   ISSI 144.524 (-2.29)   |   JII 524.265 (-9.92)   |   JII70 177.451 (-3.41)   |   KOMPAS100 962.885 (-17.72)   |   LQ45 754.177 (-14.18)   |   MBX 1360.94 (-22.87)   |   MNC36 269.191 (-4.78)   |   PEFINDO25 256.961 (-5.33)   |   SMInfra18 232.003 (-3.35)   |   SRI-KEHATI 302.863 (-5.05)   |  

Polisi Pelayan yang Makin Dirasakan

Opini: Upa Labuhari
Praktisi hukum, mantan jurnalis, dan pengamat kepolisian

Rabu, 1 Juli 2020 | 08:00 WIB

Peran Kepolisiain Republik Indonesia (Polri) sebagai pengayom, pelindung, dan pelayan masyarakat semakin terasa ketika pandemi Covid-19 melanda. Polri secara institusi bukan lagi sekadar petugas pemburu penjahat. Ia juga kepanjangan tangan negara membantu kenutuhan masyarakat saat pandemi, meski peran ini tidak menjadi perhatian publik.

Di masa pandemi, dokter dan tenaga medis disebut sebagai garda terdepan melawan Covid-19 karena mereka bekerja keras menyembuhkan pasien yang sakit dan menolong yang sekarat. Namun demikian, pelayanan anggota kepolisian kepada masyarakat tidak bisa diabaikan. Dengan sigap, tak mengenal siang maupun malam, hujan atau terik matahari, personel Polri bersama aparat pemerintah lainnya berupaya memutus rantai penyebaran Covid-19 di seluruh Indonesia.

Anggota kepolisian yang berada di lapangan berisiko tertular karena harus berhadapan dengan masyarakat yang datang dari berbagai latar belakang budaya dan tabiat. Kita melihat bagaimana aparat yang berjaga di check point perbatasan wilayah mencegat para pemudik yang tidak mematuhi protokol kesehatan. Bahkan ditemukan juga kasus dalam satu mobil ternyata sebagian besar penumpangnya positif Covid-19. Dihalaunya warga yang melanggar aturan termasuk yang tidak memiliki surat izin keluar masuk wilayah.

Di beberapa daerah, aparat kepolisian turun tangan ikut menguburkan jenazah Covid-19 ketika warga sekitar enggan melakukannya. Kapolri Jenderal Idham Azis bahkan menelepon langsung dan memberikan penghargaan kepada seorang anggota Polri di Polsek Dimembe, Minahasa Utara, Sulawesi Utara, yang menguburkan jenazah pasien Covid-19. Hal semacam ini tentu mengangkat moril semua anggota sekaligus mendorong agar jiwa melayani masyarakat terpatri dalam benak seluruh personel Polri.

Seiring dengan langkah pemerintah membagikan bansos sebagai jaring pengaman sosial, Polri pun mendukung dengan membagi bantuan bahan makanan kepada masyarakat. Meski mungkin bantuan bahan makanan ini tidak dirasakan banyak orang, karena Polri tidak punya sumber dana besar, setidaknya upaya ini sudah mencerminkan bahwa Polri adalah pengayom, pelindung, dan pelayan masyarakat. Motto ini seperti mengilhami perbuatan semua personel jajaran Polri di Indonesia sekarang. Mudah-mudahan di masa mendatang motto ini masih menjadi pegangan personel jajaran Polri di seluruh Indonesia sehingga tidak ada lagi caci-maki terhadap jajaran Polri yang kita cintai.

Keseriusan Polri sebagai pelindung dan pengayom juga terlihat saat Kapolri mengeluarkan maklumat tentang kepatuhan terhadap kebijakan pemerintah dalam penanganan penyebaran Covid-19. Polri berpedoman pada asas salus populi suprema lex esto atau keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi.

Maklumat dibuat untuk melindungi masyarakat. Di sisi lain, menurut pandangan penulis, maklumat ini juga sekaligus mengawal kebijakan pemerintah dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Seperti diketahui, pemerintah telah menetapkan kondisi darurat pandemi serta telah mengeluarkan sejumlah peraturan pengetatan aktivitas termasuk protokol kesehatan. Maklumat Kapolri ini menegaskan bahwa anggota Polri wajib melakukan tindakan kepolisian yang diperlukan sesuai ketentuan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku bagi para pelanggar aturan terkait pandemi.

Dalam hal penindakan, upaya Polri juga patut diapresiasi. Beberapa contoh kasus di antaranya adalah memproses hukum provokator penolakan penguburan jenazah Covid-19, penyebar hoaks pandemi melalui medis sosial, atau pelaku pengambilan paksa jenazah Covid-19.

Walaupun banyak korban meninggal dan sampai saat ini jumlah kasus kumulatif Covid-19 masih meningkat, peran Polri bersama aparat pemerintah lainnya cukup signifikan mencegah penyebaran virus corona dan menolong masyarakat.

Jika mau jujur melihat keberadaan Polri dibanding tiga dasawarsa lalu, maka tak berlebihan menyebut peran jajaran aparat berseragam cokelat ini sebagai pelayan makin dirasakan. Sebab itu, rasanya judul tulisan ini tidak terlalu memuja Polri yang kini memasuki usia 74 tahun.

Ulah Oknum
Keberadaan Polri sudah jauh lebih baik walaupun pasti masih ada satu-dua oknum Polri yang menyakiti hati rakyat dengan tidak mendasari pekerjaannya sebagai pengayom, pelindung, dan pelayan masyarakat. Satu dari sejumlah kasus pelayanan Polri adalah cerita seorang nenek tua renta yang sudah tidak bisa bangun dari tempat tidurnya di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ia mengadu ke polisi bahwa tanah miliknya seluas kurang lebih 10.000 meter bersertifikat, tidak pernah dijual kepada orang lain. Namun tanahnya sudah diklaim milik seorang pengusaha yang memperlihatkan surat jual beli tanah yang ternyata oleh Pusat Laboratorium Kriminal Polda Bali dinyatakan sebagai non-identik atau palsu.

Hasil tersebut membuat terlapor dijadikan tersangka oleh penyidik Polda NTT. Namun penetapan tersangka itu dianulir sendiri oleh komandan penyidik. Pelapor, Siti Aisyah yang berusia 89 tahun, mengambil langkah praperadilan hingga Pengadilan Negeri Kupang pada 2019 menyatakan terlapor harus tetap jadi tersangka dan perkaranya harus segera dibawa ke pengadilan.

Putusan praperadilan ini ternyata tidak ditindaklannjuti. Keinginan agar kasus ini ditangani Bareskrim Mabes Polri pun belum ditanggapi sehingga jadilah perkara ini sudah delapan tahun sejak dilaporkan dan belum tuntas.

Pencarian keadilan oleh seorang nenek seperti ini tidak bakal terjadi bila fungsi pengawasan dari pusat hingga daerah berjalan baik. Selain penghargaan kepada para personel Polri yang berprestasi, para pimpinan Polri tentu harus mengimbanginya dengan pemberian sanksi kepada para anggotanya yang tidk profesional bahkan menyimpang dari aturan hukum yang berlaku.

Dirgahayu Polri. Jadilah bhayangkara negara yang mengayomi, melindungi dan melayani masyarakat dengan benar.


BAGIKAN




TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS