Grup Astra Incar Lagi "Power Plant" US$ 200 Juta
INDEX

BISNIS-27 447.922 (0.22)   |   COMPOSITE 5096.45 (-4.63)   |   DBX 966.383 (0.26)   |   I-GRADE 139.404 (0.54)   |   IDX30 427.333 (0.82)   |   IDX80 113.424 (-0.07)   |   IDXBUMN20 292.954 (-1.76)   |   IDXG30 119.109 (0.49)   |   IDXHIDIV20 379.033 (0.39)   |   IDXQ30 124.381 (0.25)   |   IDXSMC-COM 220.154 (-1.19)   |   IDXSMC-LIQ 258.539 (-0.54)   |   IDXV30 108.161 (-0.91)   |   INFOBANK15 830.634 (2.07)   |   Investor33 372.738 (0.67)   |   ISSI 150.924 (0.03)   |   JII 548.46 (1.53)   |   JII70 187.38 (0.16)   |   KOMPAS100 1019.47 (0.03)   |   LQ45 787.196 (1.37)   |   MBX 1409.36 (-1.53)   |   MNC36 279.413 (0.25)   |   PEFINDO25 280.307 (-3.18)   |   SMInfra18 241.86 (0.29)   |   SRI-KEHATI 315.824 (0.31)   |  

Grup Astra Incar Lagi "Power Plant" US$ 200 Juta

Jumat, 13 Februari 2015 | 06:39 WIB
Oleh : Farid Nurfaizi / WBP

Jakarta – PT Astratel Nusantara, anak usaha PT Astra International Tbk (ASII), mengincar proyek pembangkit listrik (power plant) berkapasitas minimal 100 megawatt (MW) tahun ini. Nilai investasi diperkirakan sekitar US$ 150-200 juta.

Selain Astratel, anak usaha Astra International lainnya, yaitu PT United Tractors Tbk (UNTR), juga membidik proyek power plant. Namun, United Tractors lebih dahulu masuk ke bisnis power plant daripada Astratel. Pada akhir 2014, United Tractors mengikuti tender proyek pembangkit listrik senilai US$ 900 juta.

Direktur Astratel Arya N Soemali mengatakan, keinginan perseroan untuk masuk ke proyek power plant telah dikaji sejak 2010. Nilai investasi sedikitnya sebesar US$ 1,5-2 juta per MW, tergantung jenis power plant dan bahan bakarnya.

Menurut Arya, bisnis power plant cukup menjanjikan seiring rencana pemerintah membangun pembangkit listrik berkapasitas 35.000 MW di seluruh Indonesia. Selain itu, power plant dinilai sejalan dengan bisnis perseroan di bidang infrastruktur dan penunjangnya.

“Pemerintah akan butuh partisipasi swasta. Kami tertarik mengikuti tender-tender proyek listrik itu. Karena belum pernah bangun power plant sendiri, pada tahap awal kami akan gabung dengan konsorsium,” jelas Arya kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (12/2).

Dia menegaskan, selain masuk melalui tender pemerintah, pihaknya juga mengkaji masuk ke bisnis power plant melalui akuisisi proyek yang telah ada. Pihaknya tidak terpaku pada wilayah tempat power plant yang akan dibangun. Sejauh power plant itu prospektif dan ekonomis secara bisnis, perseroan bersedia mengucurkan investasi.

“Kami tidak mengincar power plant di daerah tertentu. Bisa di Sumatera atau kemungkinan di Sulawesi, yang penting proyek itu sesuai kemampuan dan penawaran yang ada,” pungkas dia.

Arya menambahkan, apabila proyek power plant bisa dieksekusi tahun ini, proyek tersebut akan menjadi proyek pertama Astratel. Perseroan mengincar posisi sebagai investor strategis jangka panjang. Perseroan akan mencari mitra yang bertindak sebagai penyalur teknologi serta operator.

Lebih lanjut Arya mengatakan, perseroan berupaya mengerjakan power plant yang tidak tumpang tindih dengan rencana pengembangan power plant anak usaha Astra International yang lain. Langkah tersebut dilakukan dengan cara mengonsolidasikan rencana pembangunan power plant bersama Grup Astra.

Seperti diketahui, salah satu anak usaha Astra, yaitu United Tractors, berniat menjajaki bisnis pembangkit listrik tenaga minihidro pada 2015.

United Tractors juga mengutus anak usahanya, PT Pamapersada Nusantara, untuk mengikuti tender proyek pembangkit listrik mulut tambang (mine mouth power plant) di Sumatera Selatan. Pembangkit listrik tersebut memiliki kapasitas 600 megawatt (MW) dengan nilai investasi US$ 900 juta.

“Kami bersama United Tractors akan bicara secara intensif, sehingga tidak saling tumpang tindih. Sebagian ada yang mengincar mine mouth atau independent power producer (IPP) atau mungkin hydro. Ini supaya kami lebih tajam daripada sendiri-sendiri ke tempat yang sama,” tutur Arya.

Selama ini, Astratel menjadi pemegang konsensi jalan tol Jakarta-Merak, Mojokerto-Kertosono, dan Kunciran-Serpong. Selain tol, Astra International melalui Astratel juga mengakuisisi 100 persen saham PT Pelabuhan Penajam Banua Taka, pengelola Pelabuha Eastkal Supply Base di Penajam, Kalimantan Timur. Nilai akuisisi sekitar Rp 500-550 miliar.

Astratel mengambil alih saham Pelabuhan Eastkal dari Bahana TCW Investment Management, Bahana Securities, dan pengusaha lokal, melalui pengambilalihan Reksa Dana Penyertaan Terbatas Bahana Private Equity Pelabuhan (RDPT BPEP). Proyek Pelabuhan Eastkal dimulai sejak 2008.

Sumber:Investor Daily


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA



TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS