Kukang Justru Beraktivitas Saat Gerhana Matahari
INDEX

BISNIS-27 446.563 (0.9)   |   COMPOSITE 5038.4 (20.82)   |   DBX 922.546 (11.18)   |   I-GRADE 135.148 (0.22)   |   IDX30 424.72 (2.48)   |   IDX80 110.692 (0.82)   |   IDXBUMN20 282.764 (1.87)   |   IDXG30 117.102 (1.3)   |   IDXHIDIV20 380.385 (2.52)   |   IDXQ30 124.37 (0.98)   |   IDXSMC-COM 213.267 (2.27)   |   IDXSMC-LIQ 240.075 (3.67)   |   IDXV30 104.022 (1.02)   |   INFOBANK15 809.007 (-5.39)   |   Investor33 370.782 (0.4)   |   ISSI 146.581 (1.48)   |   JII 534.734 (4.37)   |   JII70 181.171 (1.51)   |   KOMPAS100 994.168 (2.43)   |   LQ45 775.543 (4.77)   |   MBX 1400.42 (4.19)   |   MNC36 279.01 (-0.17)   |   PEFINDO25 262.474 (3.1)   |   SMInfra18 238.826 (3.53)   |   SRI-KEHATI 314.013 (-0.58)   |  

Kukang Justru Beraktivitas Saat Gerhana Matahari

Rabu, 9 Maret 2016 | 13:58 WIB
Oleh : Ari Supriyanti Rikin / WBP

Bogor- Kukang sebagai satwa nokturnal atau hewan yang giat beraktivitas di malam hari dan tidur pada siang hari memperlihatkan perilaku unik saat terjadi gerhana matahari sebagian (GMS). Hal itu terlihat dari pengamatan di pusat penangkaran sawat Pusat Zoologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Cibinong Science Center (CSC), Bogor. Para peneliti zoologi LIPI melakukan pengamatan perilaku satwa sejak pukul 05.30 hingga 09.00 WIB.

Peneliti Laboratorium Nutrisi dan Penangkaran Satwa Liar Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI Wartika Rosa Farida mengatakan, kukang tergolong satwa nokturnal. "Kukang banyak mengalami perubahan. Saat matahari bersinar dia berhenti beraktivitas (tidur) dan saat matahari meredup atau GMS, beraktivitas kembali. Kemudian ketika GMS berakhir, kembali mencari tempat tidurnya," katanya di Pusat Zoologi, CSC, Bogor, Rabu (9/3).

Sementara itu untuk landak dan bajing relatif tidak berpengaruh karena satwa ini tergolong diurnal atau aktif pada siang hari.

Sementara peneliti burung bidang Zoologi Puslit Biologi LIPI Rini Rachmatika mengatakan, ada lima spesies burung yang diamati. Dua spesies yakni Kakatua Galerita atau Jambul Kuning dan Nuri Bayan diamati menggunakan CCTV. "Dua spesies itu tidak mengalami perubahan signifikan saat gerhana matahari terjadi," kata Rini.

Sementara tiga spesies lainnya yakni Kakatua Goffini, Nuri Kepala Hitam dan Betet Jawa menunjukkan perubahan perilaku saat gerhana matahari. "Aktivitas pada saat gerhana matahari berkurang seperti layaknya perilaku saat magrib atau jelang malam. Perilakunya diam dan berhenti bergerak," ucapnya.

Namun hal unik lainnya ditunjukkan satwa jenis reptil. Peneliti Herpetofauna Puslit Biologi LIPI Evy Arida mengungkapkan, reptil berbeda dengan burung dan mamalia. "Aktif atau tidaknya bergantung suhu tubuh yang dipengaruhi suhu lingkungan. Sekalipun ular satwa nokturnal atau aktif pada malam hari, saat gerhana tidak menunjukkan perubahan," tutur Evy.

Sebab pada saat GMS suhu hanya turun sekitar satu derajat dari 25 derajat ke 24 derajat celcius dan kelembaban hanya 91 persen dari 82 persen.

Sumber:Suara Pembaruan


BAGIKAN


BERITA LAINNYA



TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS