Ini Tantangan Besar Industri E-Commerce di Indonesia
INDEX

BISNIS-27 447.461 (-1.38)   |   COMPOSITE 5059.22 (-5.72)   |   DBX 933.73 (-1.69)   |   I-GRADE 135.366 (-0.39)   |   IDX30 427.201 (-1.97)   |   IDX80 111.513 (-0.46)   |   IDXBUMN20 284.629 (-1.29)   |   IDXG30 118.405 (-0.35)   |   IDXHIDIV20 382.903 (-1.63)   |   IDXQ30 125.347 (-0.68)   |   IDXSMC-COM 215.54 (-0.28)   |   IDXSMC-LIQ 243.745 (-1.22)   |   IDXV30 105.043 (-0.29)   |   INFOBANK15 803.622 (0.32)   |   Investor33 371.182 (-0.62)   |   ISSI 148.056 (-0.35)   |   JII 539.107 (-3.56)   |   JII70 182.679 (-0.98)   |   KOMPAS100 996.599 (-2.49)   |   LQ45 780.316 (-3)   |   MBX 1404.61 (-1.45)   |   MNC36 278.843 (-0.42)   |   PEFINDO25 265.576 (-2.44)   |   SMInfra18 242.356 (-1.53)   |   SRI-KEHATI 313.434 (-0.3)   |  

Ini Tantangan Besar Industri E-Commerce di Indonesia

Selasa, 30 Januari 2018 | 15:14 WIB
Oleh : Herman / WBP

Jakarta - Perkembangan industri e-commerce di Indonesia yang sangat pesat masih menghadapi sejumlah tantangan. Senior Content Marketer iPrice Group, Andrew Prasatya mengatakan, tantangan terbesarnya adalah penetrasi internet yang masih rendah. Saat ini jumlah pengguna internet aktif di Indonesia sekitar 81 juta, atau hanya 31 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Selain penetrasi yang dinilai rendah, kecepatan internet juga jadi tantangan karena sangat memengaruhi pengalaman seseorang saat belanja online. Di Indonesia, rata-rata kecepatan internetnya 5,19 Mbps atau peringkat ke-75 dunia.

"Kecepatan internet di Indonesia secara general masih rendah, baru 5,19 Mbps. Untuk mengakses web e-commerce, tentunya jadi tantangan tersendiri. Sebab kalau terlalu lama untuk bisa diakses, biasanya akan ditinggalkan calon konsumen," kata Andrew Prasatya, di acara pemaparan hasil riset tentang e-commerce di Indonesia hasil kolaborasi iPrice dan Tech in Asia Indonesia, di Jakarta, Selasa (30/1).

Tantangan berikutnya adalah struktur topografi yang menantang. Selain Indonesia, negara lain yang mengalami hal serupa di kawasan Asia Tenggara adalah Filipina. Menurut Andrew, hal ini bisa membuat waktu pengiriman barang menjadi lebih lama.

Selanjutnya adalah masih rendahnya akses masyarakat Indonesia terhadap layanan perbankan. Padahal metode pembayaran belanja online lebih didorong kepada pembayaran online.

"Kepemilikan rekening bank ini berkolerasi dengan kemampuan seseorang ketika ingin membeli sesuatu di toko online. Makanya sampai saat ini masih banyak e-Commerce yang menawarkan metode pembayaran CoD (cash on delivery), padahal cara ini kurang efektif dan efisien," ujar Andrew.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


BERITA LAINNYA



TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS