Konflik Laut China Selatan Sulit Diselesaikan, Kuncinya Dikelola
INDEX

BISNIS-27 503.6 (2.5)   |   COMPOSITE 5652.76 (48.27)   |   DBX 1032.04 (3.25)   |   I-GRADE 164.451 (1.87)   |   IDX30 490.95 (3.33)   |   IDX80 128.766 (0.95)   |   IDXBUMN20 358.484 (4.17)   |   IDXG30 133.521 (0.92)   |   IDXHIDIV20 437.723 (3.27)   |   IDXQ30 142.408 (1.41)   |   IDXSMC-COM 239.978 (2.77)   |   IDXSMC-LIQ 292.98 (3.3)   |   IDXV30 120.747 (2.08)   |   INFOBANK15 969.323 (8.87)   |   Investor33 424.184 (2.73)   |   ISSI 165.497 (1.49)   |   JII 607.992 (3.57)   |   JII70 207.954 (1.77)   |   KOMPAS100 1151.81 (10.08)   |   LQ45 901.663 (6.22)   |   MBX 1571.94 (14.64)   |   MNC36 316.426 (2.22)   |   PEFINDO25 300.975 (9.54)   |   SMInfra18 283.853 (1.3)   |   SRI-KEHATI 362.321 (2.15)   |  

Konflik Laut China Selatan Sulit Diselesaikan, Kuncinya Dikelola

Kamis, 20 Agustus 2020 | 05:32 WIB
Oleh : Natasia Christy Wahyuni / WBP

Jakarta, Beritasatu.com - Konflik di perairan Laut China Selatan (LCS) disadari sulit untuk diselesaikan terutama karena melibatkan persaingan strategis dua kekuatan dunia, Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Opsi terbaiknya adalah mengelola isu tersebut agar tidak memicu perang terbuka.

Duta Besar RI untuk Jerman sebagai salah satu inisiator pembahasan kode perilaku (code of conduct/CoC) LCS di ASEAN, Arif Havas Oegroseno, mengatakan perselisihan kedaulatan seperti isu LCS sebenarnya bukan fenomena unik karena bisa terjadi di mana saja. Setidaknya terdapat 16 kasus sengketa kedaulatan yang telah diselesaikan pihak ketiga, dengan dua di antaranya melibatkan Indonesia yaitu pada 1926 terkait Pulau Miangas selanjutnya kasus Sipadan Ligitan.

“Yang menarik, negara-negara yang terkunci dalam perselisihan LCS, mereka mampu untuk mengelola sengketa itu saat menyadari tidak bisa menyelesaikan masalah,” kata Havas dalam diskusi virtual yang digelar oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dengan moderator Mantan Dubes RI untuk AS, Dino Patti Djalal, bertema Calming Troubled Waters in The South China Sea (Meredakan Perairan Bermasalah di LCS), Rabu (19/8/2020).

Havas mengatakan kondisi faktual saat ini ketegangan antara AS dan Tiongkok terjadi di berbagai bidang seperti ekonomi, teknologi, sampai kekuatan militer. Masing-masing pihak melihat satu sama lain sebagai musuh, sehingga kondisi itu berdampak kepada situasi di LCS. Di sisi lain, ujarnya, negara pengklaim LCS tidak memiliki ketegasan terkait batas-batas perairannya di LCS.

“Karena persaingan strategis, juga menjelang Pemilu AS. Pada saat bersamaan, terjadi diskusi di Beijing terkait isu kepemimpinan dalam beberapa bulan ke depan, itu dua faktor sangat penting yang meningkatkan ketegangan di LCS,” tambah Havas, yang juga pernah menjabat deputi kedaulatan maritim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.

Havas menjelaskan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) atau Konvensi PBB tentang Hukum Laut adalah landasan ASEAN dalam menyusun CoC. Pembahasan CoC sudah dimulai tahun 2011 saat keketuaan Indonesia di ASEAN, sayangnya setelah sembilan tahun, belum ada kesepakatan terkait CoC LCS tersebut.

Menurut Havas, CoC sejak awal diharapkan sebagai turunan khusus dari penerapan UNCLOS 1982 karena di dalamnya sudah termuat berbagai aturan yang dibutuhkan termasuk para pihak yang bekerja sama dan elemen kerja samanya. Tapi penyelesaiannya ternyata tidak semudah itu karena campuran antara dimensi hukum dan lebih luas lagi dimensi politik dan strategis global. “CoC akan akan menciptakan jalan bagaimana mengatur konflik di LCS dalam situasi lebih mengikat secara hukum,” kata Havas.

Peneliti Senior di Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Evan A Laksmana, mengatakan meski AS tidak termasuk negara pengklaim LCS, keberadaannya membentuk ketegangan di wilayah itu. Contohnya lewat sikap dan retorikanya tentang kebebasan navigasi. “Saya pikir suka atau tidak suka, AS adalah bagian dari situasi ini, memisahkan AS sepenuhnya bisa dilakukan mungkin 6-7 tahun lalu, tapi sekarang AS sudah menjadi bagian dari masalah,” kata Evan.

Pakar Hukum Laut Internasional Hasjim Djalal mengatakan situasi yang tidak pasti di LCS disebabkan ketidakjelasan batas maritim negara-negara di wilayah itu. Menurut Hasjim, selalu terdapat kemungkinan penggunaan kekuatan di sana.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Mahasiswa Indonesia di Siberia Turut Merayakan HUT Ke-75 Kemerdekaan RI

Para mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Permira menyiapkan serangkaian kegiatan lomba, seperti lomba busana bernuansa kemerdekaan.

DUNIA | 19 Agustus 2020

Dikudeta Militer, Presiden Mali Mengundurkan Diri

Presiden Mali Ibrahim Boubacar Keita mengundurkan diri pada Selasa (18/8).

DUNIA | 19 Agustus 2020

Raih Nominasi Partai Demokrat, Joe Biden Bersumpah Akhiri Kekacauan Trump

Partai Demokrat secara resmi mencalonkan Joe Biden sebagai presiden Amerika Serikat (AS) pada Selasa (18/8).

DUNIA | 19 Agustus 2020

Trudeau Tunjuk Freeland Jadi Menkeu Baru Kanada

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau menunjuk Chrystia Freeland sebagai menteri keuangan baru Kanada Selasa (18/8).

DUNIA | 19 Agustus 2020

Meriahkan HUT RI, Ini Pertama Kalinya Balai Kota San Francisco Jadi Merah Putih

Sejumlah warga San Francisco dan diaspora Indonesia turut datang dan mengabadikan momen yang diselenggarakan untuk pertama kalinya di Gedung Pemerintah AS itu.

DUNIA | 19 Agustus 2020

Sinopharm Bantah Patok Harga Tinggi untuk Vaksin Covid-19

Vaksin Sinopharm telah memasuki uji manusia tahap akhir di Uni Emirat Arab untuk mengumpulkan bukti kemanjuran untuk persetujuan peraturan akhir.

DUNIA | 19 Agustus 2020

Rendah, Tingkat Kematian Kaum Muda India

Banyak epidemiologi mengaitkan angka kematian relatif rendah ini kepada populasi anak muda, tapi masih tidak jelas faktor lain yang memengaruhinya

DUNIA | 19 Agustus 2020

WHO: Penyebaran Covid-19 dari Kelompok Usia 20 hingga 40 Tahun

“Epidemi berubah. Orang-orang dengan usia 20-an, 30-an, dan 40-an tahun semakin mendorong penyebaran. Banyak di antara mereka tidak menyadari mereka terinfeksi"

DUNIA | 19 Agustus 2020

Death Valley California Capai Suhu 54,4 Derajat Celcius

“Ini benar-benar seperti berada di dalam oven. Hari ini adalah hari lain kita bisa berlari lagi pada 130 Fahrenheit."

DUNIA | 19 Agustus 2020

Diabaikan Saat Pandemi, Penduduk Asli Brasil Turun ke Jalan

Warga Kayapo Mekragnotire menyalahkan pihak berwenang atas kematian empat orang lanjut usia dari kaum mereka dan puluhan terinfeksi Covid-19.

DUNIA | 19 Agustus 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS