Holding BUMN Migas Bantu Tingkatkan Utilitas Industri

Holding BUMN Migas Bantu Tingkatkan Utilitas Industri

Jumat, 27 April 2018 | 21:55 WIB
Oleh : Whisnu Bagus Prasetyo / WBP

Bogor- Kementerian Perindustrian (Kemperin) optimistis perusahaan induk Badan Usaha Milik Negara (holding BUMN) sektor minyak dan gas bumi (migas) mampu menekan harga gas yang dibutuhkan industri nasional. Dengan harga gas terjangkau, pelaku industri mampu meningkatkan utilisasi pabrik dan menjual lebih banyak lagi ke pasar ekspor.

Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kemperin Achmad Sigit Dwiwahjono, menyebut holding BUMN migas yang menggabungkan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) ke tubuh PT Pertamina (Persero) sebagai holding, sebagai bentuk insentif bagi industri pengguna gas. Pasalnya, harga gas bumi yang disalurkan melalui pipa bisa lebih terjangkau karena integrasi aset pipa milik PT Pertamina Gas (Pertagas) dan PGN. Biaya operasional milik kedua perusahaan yang melebur menjadi satu pun bisa dihemat, serta anggaran investasi keduanya bisa dengan efektif digunakan karena tidak ada duplikasi pembangunan infrastruktur pipa distribusi dan transmisi ke depannya.

"Kemperin dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berupaya menekan harga gas dengan mendorong efisiensi di sektor hulu migas, namun harga gas masih tinggi. Nah, holding bisa memperbaiki harga gas dari sisi hilir yang bermanfaat bagi pelaku industri," kata Achmad Sigit saat menjadi pembicara workshop yang diselenggarakan oleh Forum Wartawan Industri (Forwin) di Bogor, Jumat (27/4).

Ia mengatakan, usai pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 40 tahun 2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi, pelaku industri yang dijanjikan bisa membeli gas dengan harga US$ 6 per MMBTU menyambut gembira.

Tujuh sektor industri yang dijanjikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendapat harga gas rendah itu adalah industri pupuk, baja, petrokimia, oleochemical, keramik, sarung tangan, dan industri kaca. Namun, sampai akhir tahun lalu baru ada delapan perusahaan yang bergerak di industri baja, pupuk dan petrokimia yang sudah menikmatinya.

Delapan perusahaan yang bisa mendapatkan gas kurang dari US$ 6 per MMBTU itu adalah PT Pupuk Kalimantan Timur, PT Pupuk Kujang Cikampek, PT Pupuk Sriwidjaja Palembang, PT Pupuk Iskandar Muda, PT Petrokimia Gresik, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS), PT Kaltim Parna Industri, dan PT Kaltim Methanol Industri.

"Sebagian besar itu perusahaan milik negara, yang swasta malah belum dapat harga gas murah. Tahun lalu Kemperin sudah merekomendasikan 86 perusahaan dapat insentif harga gas, tetapi sampai sekarang masih dalam tahap diskusi di Kementerian ESDM," kata Achmad Sigit.

Padahal, jika seluruh perusahaan yang tersebar di tujuh sektor bisa cepat memperoleh kepastian harga gas yang lebih murah, Achmad meyakini seluruhnya mampu meningkatkan produksi.

Ia mencontohkan, industri pupuk urea memiliki kapasitas produksi 8,8 juta ton per tahun, namun baru 62,5 persen utilisasinya. Industri keramik memiliki kapasitas produksi 550 juta meter per segi per tahun, namun utilisasinya baru 60 persen. "Banyak industri kita yang tidak bisa memenuhi 100 persen utilisasi produksi karena ada kendala harga gas yang tinggi. Padahal sektor manufaktur kita rata-rata lebih baik dari negara lain di ASEAN," keluhnya.

Direktur Industri Kimia Hulu Kemperin Muhammad Khayam, menambahkan, saat ini rata-rata harga gas bumi dari trader ke industri adalah US$ 9 per MMBTU. Sementara yang diinginkan industri adalah US$ 7 per MMBTU. "Jadi tidak harus US$ 6 per MMBTU. Rekomendasi dari Kemperin adalah kurangi ekspor gas dan optimalkan pemanfaatan gas untuk industri dalam negeri," kata Khayam.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

AML Gandeng Bank untuk Dongkrak Penjualan

Sebagian besar konsumen end user Asya memilih membayar kredit pemilikan rumah (KPR) melalui bank.

EKONOMI | 27 April 2018

Kuartal I 2018, Pendapatan Link Net Naik 12,1%

Link Net terus memperluas cakupan jaringannya dan berhasil menambah 34.000 rumah terkoneksi baru menjadi 2,034 juta rumah.

EKONOMI | 27 April 2018

Ini Tips Memulai Bisnis Jersey Printing

Jersey printing merupakan salah satu bisnis percetakan yang cukup menjanjikan karena memiliki prospek yang menjanjikan dan akan terus berkembang.

EKONOMI | 19 Agustus 2020

Kemhub Lanjutkan Pembangunan 10 Pelabuhan Mangkrak

Kemhub berkomitmen menuntaskan pelabuhan berstatus KDP.

EKONOMI | 27 April 2018

Teknologi Blockchain Diyakini Bisa Dorong Kinerja Perpajakan

Teknologi blockchain saat ini sudah digunakan aplikasi OnlinePajak.

EKONOMI | 27 April 2018

AP I Diminta Tuntaskan Studi Andalalin Bandara Ahmad Yani

Bandara Ahmad Yani diproyeksikan mampu melayani 8 juta penumpang per tahun.

EKONOMI | 27 April 2018

Startup Lokal Antusias Ikuti Global Ventures Summit

GVS 2018 yang diprakarsai Parkpine Capital, bertujuan menghubungkan stratup potensial dengan investor pilihan dari Silicon Valley.

EKONOMI | 27 April 2018

Rupiah Ditutup Melemah Tipis di Posisi Rp 13.892 Per Dolar

Rupiah terhadap dolar Singapura mencapai Rp 10.473 per dolar Singapura.

EKONOMI | 27 April 2018

Pengembang Rumah Subsidi Keluhkan Masalah Listrik

Zonasi kelistrikan menyebabkan beberapa daerah belum dialiri listrik.

EKONOMI | 27 April 2018

Kuartal I, DMAS Raih Penjualan Pemasaran Rp 332 Miliar

Penjualan pemasaran yang dicapai di kuartal I 2018 mencerminkan sekitar 27% dari target sepanjang tahun 2018.

EKONOMI | 27 April 2018


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS