Danareksa: Dampak Perang Dagang Tekan Ekonomi Global, Bukan Resesi
INDEX

BISNIS-27 446.563 (0.9)   |   COMPOSITE 5038.4 (20.82)   |   DBX 922.546 (11.18)   |   I-GRADE 135.148 (0.22)   |   IDX30 424.72 (2.48)   |   IDX80 110.692 (0.82)   |   IDXBUMN20 282.764 (1.87)   |   IDXG30 117.102 (1.3)   |   IDXHIDIV20 380.385 (2.52)   |   IDXQ30 124.37 (0.98)   |   IDXSMC-COM 213.267 (2.27)   |   IDXSMC-LIQ 240.075 (3.67)   |   IDXV30 104.022 (1.02)   |   INFOBANK15 809.007 (-5.39)   |   Investor33 370.782 (0.4)   |   ISSI 146.581 (1.48)   |   JII 534.734 (4.37)   |   JII70 181.171 (1.51)   |   KOMPAS100 994.168 (2.43)   |   LQ45 775.543 (4.77)   |   MBX 1400.42 (4.19)   |   MNC36 279.01 (-0.17)   |   PEFINDO25 262.474 (3.1)   |   SMInfra18 238.826 (3.53)   |   SRI-KEHATI 314.013 (-0.58)   |  

Danareksa: Dampak Perang Dagang Tekan Ekonomi Global, Bukan Resesi

Selasa, 17 September 2019 | 11:13 WIB
Oleh : Whisnu Bagus Prasetyo / WBP

Jakarta, Beritasatu.com – Danareksa Research Institute menilai pasar keuangan dalam negeri masih akan digerakkan sentimen eksternal seperti perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok, kenaikan harga komoditas, dan keputusan bank sentral AS (Federal Reserve/the Fed) soal suku bunga. Meski demikian, sejumlah sentimen tersebut tidak membuat resesi ekonomi global.

"Perang dagang AS - Tiongkok masih terus berlanjut," kaat Head of Danareksa Research Institute Moekti Prasetiani Soejachmoen dalam keterangan yang terima redaksi Selasa (17/9/2109).

Moekti Prasetiani Soejachmoen menjelaskan, mulai 1 September 2019 lalu, AS menaikkan tarif impor 15 persen untuk barang-barang impor Tiongkok senilai US$ 112 miliar, seperti alas kaki, tekstil dan produk elektronik. Sebagai balasan, Tiongkok mengenakan tarif impor 5 persen-25 persen untuk mobil dan suku cadang, kedelai dan lainnya yang masuk dari AS.

Presiden AS Donald Trump dalam kaitan dengan masa kampanyenya, mengedepankan isu nasionalisme bahwa Tiongkok yang membuat ekonomi AS memburuk. Dengan adanya kenaikan tarif impor produk Tiogkok, maka pendapatan AS dapat meningkat, yang kemudian digunakan untuk subsidi petani kedelai dan gandum sebagai kompensasi atas dihentikannya impor produk pertanian AS ke Tiongkok. "Perang dagang AS-Tiongkok ini menyebabkan melambatnya perekonomian dunia, namun tidak akan menjadikan resesi global, sebagaimana juga diutarakan beberapa ekonom global," kata Moekti Prasetiani Soejachmoen.

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada kuartal II tahun 2019 mengalami penurunan, atau terendah dalam 27 tahun terakhir. Namun stimulus yang diberikan pemerintah Tiongkok berhasil mempertahankan output retail sales dan investasi. Sementara Consumer (dan Business) Confidence Index (di AS) yang erat kaitannya dengan saham dan ekonomi, mengalami penurunan di Juli 2019 lalu.

Di sisi lain, kata Moekti Prasetiani Soejachmoen menambahkan, pelaku pasar juga perlu mencermati harga komoditas yang mulai naik. Selain batu bara dan tembaga (copper), semua komoditas termasuk emas, minyak sawit (crude palm oil/CPO) dan karet sudah mengalami pemulihan atau recovery sejak Juli 2019. "Khususnya emas yang bersama US Treasury (surat utang AS) dan Japan Treasury (surat utang Jepang), merupakan instrument safe haven (asset aman) di keuangan global," kata Moekti Prasetiani Soejachmoen.

Harga emas dunia saat ini masih berada di rentang US$ 1.503 per troy ounce yang terus meningkat di tengah ketidakpastian global. Hal ini juga berdampak pada harga emas Antam.

Sementara harga minyak global kata Moekti Prasetiani Soejachmoen menambahkan, terkerek naik setelah serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi. Serangan ini menyebabkan produksi hariannya terpangkas hingga 5,7 juta barel, lebih dari setengah produksi harian Arab Saudi. Harga minyak diperkirakan berpotensi naik hingga US$ 10 per barel, meski dampaknya bergantung pada kemampuan normalisasi produksi.

Hingga awal minggu ini, Arab Saudi menyatakan dapat menormalisasi output yang hilang sebesar 2 juta barel. Berdasarkan asumsi APBN, setiap kenaikan harga minyak mentah dunia sebesar US$ 1 akan meningkatkan suplus anggaran pemerintah Indonesia sebesar Rp 300- Rp 500 miliar. "Kenaikan harga minyak dunia biasanya akan diikuti dengan kenaikan harga komoditas lainnya," kata Moekti Prasetiani Soejachmoen.

Soal kebijakan the Fed, Moekti Prasetiani Soejachmoen mengatakan, bank sentral AS akan mengadakan sidang di September 2019 atau kuartal keempat ini, sebelum Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. "Pada sidang tersebut, besar kemungkinan the Fed akan menurunkan tingkat suku bunganya.” kata Moekti Prasetiani Soejachmoen.

Bank Indonesia pada 22 Agustus 2019 menurunkan suku bunga acuan menjadi 5,5 persen atau sebesar 25 basis poin (bps). BI akan menggelar Rapat Dewan Gubernur pada Rabu-Kamis atau 18-19 September 2019 untuk menetapkan tingkat suku bunga. "Dalam kaitannya dengan ini, Danareksa Research Institute memprediksi suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI 7-Day Reserve Repo Rate akan diturunkan bunga sebesar 25bps menjadi 5,25 persen," kata Moekti Prasetiani Soejachmoen.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Batik Segara Makmur Jadi Perhatian di Bumdes Expo 2019

Produk batik Desa Segara Makmur telah banyak dipesan dengan motif dan jumlah tertentu untuk seragam dan kain.

EKONOMI | 16 September 2019

Jonan Awali Hari dengan Donor Darah

Selesai menjadi penyumbang darah, Jonan kembali ke ruangan kerjanya untuk melanjutkan ke agenda berikutnya.

EKONOMI | 17 September 2019

Menkeu Optimistis Target Penerimaan Pajak 2019 Tercapai

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati optimistis target penerimaan pajak tahun 2019 akan tercapai meski menghadapi tekanan eksternal yang kuat.

EKONOMI | 17 September 2019

Polusi, Polres Jakut Periksa 5 Saksi dari Pabrik Alumunium

Di wilayah Cilincing ada polusi udara yang disebabkan pembakaran arang atau peleburan aluminium.

EKONOMI | 17 September 2019

IEM Dorong Kolaborasi Energi Terbarukan Indonesia dan Malaysia

Sebanyak 14 perusahaan Malaysia yang tergabung dalam Institute Engineering Malaysia (IEM) berkunjung ke Indonesia.

EKONOMI | 17 September 2019

Emas Antam Dibanderol Rp 753.000 Per Gram

Untuk pecahan 500 gram: Rp 351,3 juta.

EKONOMI | 17 September 2019

Bursa Asia Berguguran di Awal Sesi

Indeks Straits Times Singapura turun 9,25 (0,31 persen) ke posisi 3.193.

EKONOMI | 17 September 2019

Aksi Jual Saham Landa IHSG di Awal Perdagangan

Pukul 09.05 WIB, IHSG turun 10,5 poin (0,18 persen) menjadi 6.208.

EKONOMI | 17 September 2019

Minyak Brent Naik Tertinggi dalam 30 Tahun Terakhir

Minyak mentah Brent, ditutup menjadi US$ 69,02 per barel, melonjak 8,80 dolar AS atau 14,6 persen, kenaikan persentase satu hari terbesar sejak 1998.

EKONOMI | 17 September 2019

Awal Perdagangan, Rupiah dan Mata Uang Asia Tak Berdaya

Transaksi rupiah pagi ini diperdagangkan dalam kisaran Rp 14.070 - Rp 14.097 per dolar AS.

EKONOMI | 17 September 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS