Defisit Perdagangan 2019 Menyusut Jadi US$ 3,20 Miliar
INDEX

BISNIS-27 448.028 (-0.11)   |   COMPOSITE 5099.84 (-3.39)   |   DBX 964.111 (2.27)   |   I-GRADE 139.821 (-0.42)   |   IDX30 426.948 (0.39)   |   IDX80 113.317 (0.11)   |   IDXBUMN20 291.67 (1.28)   |   IDXG30 118.931 (0.18)   |   IDXHIDIV20 379.8 (-0.77)   |   IDXQ30 124.715 (-0.33)   |   IDXSMC-COM 219.701 (0.45)   |   IDXSMC-LIQ 255.871 (2.67)   |   IDXV30 106.644 (1.52)   |   INFOBANK15 836.821 (-6.19)   |   Investor33 373.706 (-0.97)   |   ISSI 150.561 (0.36)   |   JII 547.285 (1.18)   |   JII70 187.054 (0.33)   |   KOMPAS100 1020.57 (-1.1)   |   LQ45 786.439 (0.76)   |   MBX 1410.93 (-1.57)   |   MNC36 280.006 (-0.59)   |   PEFINDO25 280.13 (0.18)   |   SMInfra18 241.99 (-0.13)   |   SRI-KEHATI 316.197 (-0.37)   |  

Defisit Perdagangan 2019 Menyusut Jadi US$ 3,20 Miliar

Rabu, 15 Januari 2020 | 15:49 WIB
Oleh : Herman / WBP

Jakarta, Beritasatu.com - Neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2019 kembali mengalami defisit sebesar US$ 3,20 miliar, di mana nilai ekspor mencapai US$ 167,5 miliar dan impor U$ 170,7 miliar.

Dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS), defisit neraca perdagangan 2019 masih disumbang sektor minyak dan gas (migas) yang mencapai US$ 9,34 miliar. Sementara sektor nonmigas surplus US$ 6,15 miliar.

Kepala BPS, Suhariyanto memaparkan, dibandingkan 2018, defisit neraca perdagangan sepanjang 2019 tercatat mulai mengecil, di mana sebelumnya mencapai U$ 8,7 miliar dengan nilai ekspor US$ 180 miliar dan impor US$ 188,7 miliar. Defisit tersebut disumbang sektor migas US$ 12,69 miliar, sementara nonmigas surplus US$ 3,99 miliar.

“Sepanjang 2019, nilai ekspor Indonesia turun 6,94 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ekspor sektor pertanian merupakan satu-satunya sektor yang tumbuh sebesar 5,31 persen, meskipun kontribusinya terhadap keseluruhan ekspor masih kecil sebesar 2,16 persen. Sebaliknya, ekspor industri pengolahan serta sektor tambang dan lainnya mengalami penurunan masing-masing sebesar 2,73 persen dan 15,30 persen. Sedangkan ekspor sektor migas turun 27 persen,” kata Suhariyanto, di gedung BPS, Jakarta, Rabu (15/1/2020).

Omnibus Law Berpotensi Tingkatkan Defisit Perdagangan

Selama 2019, lanjut Suhariyanto, pangsa pasar ekspor nonmigas Indonesia juga tidak banyak berubah. Utamanya tertuju ke Tiongkok sebesar US$ 25,85 miliar (16,68 persen), disusul Amerika Serikat US$ 17,68 miliar (11,41 persen), dan Jepang US$ 13,75 miliar (8,87 persen). Untuk ekspor ke ASEAN, kontribusinya sebesar 23 persen, sedangkan ke Uni Eropa 9,24 persen.

BPS Catat Neraca Perdagangan RI Defisit US$28,2 Juta

Sementara nilai impor Indonesia sepanjang 2019 mencapai U$ 170,7 miliar atau turun 9,53 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai impor semua golongan penggunaan barang baik barang konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal juga mengalami penurunan masing-masing sebesar 4,51 persen, 11,7 persen, dan 5,13 persen. Adapun peran golongan bahan baku/penolong dari total impor 2019 sebesar 73,75 persen.

Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari−Desember 2019 ditempati oleh Tiongkok dengan nilai US$ 44,58 miliar (29,95 persen), Jepang US$ 15,59 miliar (10,47 persen), dan Thailand US$ 9,41 miliar (6,32 persen). Impor nonmigas dari ASEAN US$ 29.291,9 (19,68 persen), sementara dari Uni Eropa US$ 12.344,5 (8,29 persen).

Ditambahkan Suhariyanto, neraca perdagangan Indonesia dengan beberapa negara sepanjang 2019 sebenarnya masih mengalami surplus, antara lain ke Amerika Serikat yang mencapai US$ 9,58 miliar, India US$ 7,58 miliar, dan Belanda US$ 2,20 miliar. Sedangkan yang mengalami defisit antara lain ke Australia sebesar US$ 2,56 miliar, Thailand US$ 3,95 miliar, serta Tiongkok US$ 18,72 miliar. Namun defisit neraca perdagangan ke Tiongkok ini masih lebih rendah dibandingkan 2018 yang mencapai US$ 20,84 miliar.

Terkait turunnya defisit perdagangan 2019 dibandingkan tahun sebelumnya, Ekonom Center of Reform on Econimics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengatakan hal ini bisa disebabkan oleh dua hal, yaitu karena ekspor yang meningkat, atau impor yang menurun. “Jika kita lihat dari rilis neraca perdagangan 2019, penurunan defisit lebih banyak disebabkan oleh penurunan impor yang lebih besar dibandingkan kenaikan ekspor,” kata Yusuf Rendy kepada SP, Rabu (15/1/2020).

Menurut Rendy, penurunan impor ini perlu diwaspadai karena impor Indonesia mayoritasnya diperuntukkan untuk bahan baku/pembantu untuk industri. Hal ini menurutnya juga sejalan dengan indikator lain yaitu Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang sejak Juli berada di bawah level ekspansi (indeksnya di bawah 50).

“Untuk 2020, tren pengecilan defisit perdagang bisa berlanjut, seriing dengan potensi membaiknya ekspor produk unggulan Indonesia seperti minyak sawit, didorong oleh permintaan dan harga yang membaik. Meski demikian, impor juga akan meningkat seiring dengan potensi masuknya investasi, yang akan mendorong impor bahan modal dan bahan baku. Jadi untuk 2020 penurunan defisitnya sifatnya marginal,” kata Yusuf Rendy Manilet.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Jokowi Minta Hipmi Terlibat di Proyek BUMN

Menurut Jokowi, keterlibatan swasta sangat diperlukan dalam pengerjaan proyek-proyek BUMN.

EKONOMI | 15 Januari 2020

Generali Luncurkan Produk Asuransi i-PRO

Produk asuransi jiwa ini memberikan perlindungan tinggi hingga tiga kali lipat uang pertanggungan.

EKONOMI | 15 Januari 2020

Triniti Land Incar Laba Rp 110 Miliar di 2020

Dua proyek yang sedang dibangun akan mendorong pendapatan perseroan hingga akhir tahun ini.

EKONOMI | 15 Januari 2020

Menko Luhut: Pertumbuhan Ekonomi RI Bisa Lebih dari 5,1%

Tahun 2020 menjadi tahun stabilisasi bagi Indonesia

EKONOMI | 15 Januari 2020

Hacktiv8 Raih Pendanaan Pra-Seri A US$ 3 Juta

Hacktiv8 berencana menggunakan modal segar yang dihimpun untuk membangun lebih banyak kelas dan mulai menawarkan program Income Share Agreement (ISA).

EKONOMI | 15 Januari 2020

Reformasi Birokrasi dan Omnibus Law Dinilai Akan Dorong Percepatan Investasi

Percepatan transformasi ekonomi dari pusat produksi ke distribusi akan mendorong pertumbuhan ekspor UKM sebesar 30% pada 2024.

EKONOMI | 15 Januari 2020

Akseleran Target Nikmati Profit di 2021

Lewat perluasan pasar dan basis lender, termasuk menangguk pendanaan seri B yang rencananya digelar tahun ini, Akseleran target nikmati profit di tahun 2021.

EKONOMI | 15 Januari 2020

Sesi I, IHSG Berbalik Melemah ke 6.301

IHSG terkoreksi 0,38 persen ke kisaran 6.301,2.

EKONOMI | 15 Januari 2020

Melemah, Rupiah Masih Tertahan di Kisaran Rp 13.700

Rupiah berada di level Rp 13.705 per dolar AS atau terdepresiasi 25 poin (0,18 persen).

EKONOMI | 15 Januari 2020

BPS Catat Neraca Perdagangan RI Defisit US$28,2 Juta

Defisit disebabkan oleh defisit sektor migas US$971,3 juta, walaupun sektor nonmigas mencatatkan surplus US$943,1 juta.

EKONOMI | 15 Januari 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS