Biaya Produksi Dibenahi, Produsen Baja Lokal akan Pasok 70% Kebutuhan Nasional
INDEX

BISNIS-27 496.112 (7.49)   |   COMPOSITE 5571.66 (81.11)   |   DBX 1025.31 (6.73)   |   I-GRADE 161.222 (3.23)   |   IDX30 481.63 (9.32)   |   IDX80 126.239 (2.53)   |   IDXBUMN20 347.718 (10.77)   |   IDXG30 131.769 (1.75)   |   IDXHIDIV20 428.361 (9.36)   |   IDXQ30 139.975 (2.43)   |   IDXSMC-COM 236.298 (3.68)   |   IDXSMC-LIQ 285.496 (7.48)   |   IDXV30 117.12 (3.63)   |   INFOBANK15 959.319 (10)   |   Investor33 418.313 (5.87)   |   ISSI 162.317 (3.18)   |   JII 593.683 (14.31)   |   JII70 203.182 (4.77)   |   KOMPAS100 1131.88 (19.93)   |   LQ45 884.897 (16.77)   |   MBX 1547.61 (24.33)   |   MNC36 311.774 (4.65)   |   PEFINDO25 293.783 (7.19)   |   SMInfra18 273.756 (10.1)   |   SRI-KEHATI 356.906 (5.42)   |  

Biaya Produksi Dibenahi, Produsen Baja Lokal akan Pasok 70% Kebutuhan Nasional

Rabu, 12 Februari 2020 | 16:52 WIB
Oleh : Whisnu Bagus Prasetyo / WBP

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah optimistis pada tahun 2020, sekitar 70 persen kebutuhan baja nasional dapat dipasok dalam negeri dari saat ini masih sekitar 40 persen. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah menekan struktur biaya produksi industri baja domestik.

"Secara umum saat ini dari total kebutuhan baja, sekitar 40 persen dipasok domestik, 30 persen masih impor (zona merah) dan sisanya 30 persen lagi infiltrasi impor (zona kuning)," kata Menteri Perindustrian Agus Gumwiang Kartasasmita saat berbincang dengan media di Jakarta, Rabu (12/2/2020).

Menurut Agus Gumiwang, sekitar 30 persen zona merah adalah produk-produk yang sama sekali belum bisa diproduksi di dalam negeri. Namun sekitar 30 persen yang disebut infiltrasi impor sebenarnya bisa diproduksi di dalam negeri. "Mengapa sampai sekarang masih impor? Karena berkaitan dengan utilitas yang sangat rendah. Kenapa utilitas rendah, karena industri baja dalam negeri belum kompetitif secara harga dan masih ada sebagian belum meng-upgrade teknologi," kata Agus Gumiwang Kartasasmita.

Sementara yang 30 persen sama sekali belum bisa diproduksi dalam negeri kata Agus Gumiwang, pemerintah sedang menyiapkan kebijakan jangka menengah dan panjang, guna menahan serbuan impor sekaligus mendorong pasokan dalam negeri. "Jadi utilisasinya harus maksumal, caranya melalui Bea Masuk Anti-Dumping dan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) baja," kata Menperin.

Agus Gumiwang mengatakan, untuk menaikkan pasokan baja dalam negeri menjadi 70 persen, pemerintah melalui rapat terbatas yang dipimpin Presiden Jokowi Widodo (Jokowi) hari ini telah memutuskan empat hal yakni slag tidak dianggap bahan bahaya beracun (B3), sehingga bisa dijadikan bahan baku scrap (baja). Kedua, impor kepingan (scrap) logam baja direlaksasi dengan menaikkan impuritas dari 0 persen menjadi 2 persen serta mengubah ketentuan homogenitas.

Ratas kata Menperin juga memutuskan potongan harga listrik bagi industri yang melakukan produksi 24 jam, termasuk industri baja. Adapun saat ini tarif listrik buat industri ini sekitar US$ 7,1-7,2 sen per kilowatt hours (kwh). Terakhir, penurunan harga gas bagi industri maksimal US$ 6 per million matrix british thermal unit (MMBTU). "Sejumlah hal ini sudah diputuskan di ratas, dengan demikian produksi industri baja nasional diharapkan akan meningkat," kata Menperin.

Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas soal Ketersediaan Bahan Baku Bagi Industri Baja dan Besi di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (12/2/2020) menyoroti komoditas baja yang kini telah masuk tiga besar impor barang di Tanah Air dan menjadi satu sumber utama defisit neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan.

Menilik sumber Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), kebutuhan besi–baja nasional tahun 2020 sebesar 16,39 juta ton, dan tahun 2021 naik 6,3 persen atau sekitar 1,2 juta ton per tahun mencapai 17,29 juta ton. Impor besi-baja Indonesia sebagian besar tertuju pada tiga kebutuhan industri, yaitu industri otomotif, industri elektronika, dan industri perkapalan. Sebagai gambaran, rata-rata utilisasi produki baja nasional masih sekitar 40-60 persen.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Amartha dan Principal Dorong Percepatan Capaian SDGs

"Tren investasi berdampak sosial akan terus berkembang ke depannya karena investor mulai mempertimbangkan value dan impact dalam berinvestasi," ujar Aria.

EKONOMI | 12 Februari 2020

2020, Defisit Gula Konsumsi Diperkirakan Capai 29.000 Ton

Perkiraan konsumsi gula pada 2020 sebesar 3,163 juta ton.

EKONOMI | 12 Februari 2020

Kemhub Akan Tindak Tegas Truk Kelebihan Muatan

Kemhub berkoordinasi dengan pihak terkait seperti Korlantas Polri, Direktorat Jenderal Bina Marga dan BPJT

EKONOMI | 12 Februari 2020

IHSG Ditutup Melemah 0,7% ke 5.913

Investor asing mencatat aksi beli sebesar Rp 471,57 miliar.

EKONOMI | 12 Februari 2020

Rancamaya Jual Rumah Berhadiah Liburan ke Maladewa

Rancamaya menawarkan unit rumah dengan hadiah liburan ke Maladewa.

EKONOMI | 12 Februari 2020

Yasunli Rambah Bisnis Lighting

Produk lighting terbaru Yasunli rencananya akan diluncurkan di bulan Juli 2020.

EKONOMI | 12 Februari 2020

WSBP Raih Kontrak Proyek Pelabuhan Milik Anak Usaha Pertamina

Kontrak eksternal WSBP di 2019 meningkat menjadi Rp4,44 triliun tahun 2019 dibanding Rp2,43 triliun pada tahun buku 2018.

EKONOMI | 12 Februari 2020

XL Axiata Optimistis Industri Telekomunikasi Mulai Pulih

"Kami perkirakan 2020 akan pulih, naik mid single digit," kata CEO PT XL Axiata Dian Siswarini.

EKONOMI | 12 Februari 2020

Insentif Pajak Dorong Pertumbuhan Produk Inovatif

Insentif pajak untuk pengembangan produk inovatif dan teknologi sudah mulai dilakukan melalui tax holiday dansuper tax deduction.

EKONOMI | 12 Februari 2020

Bos MNC: Selalu Ada Opportunity di Tengah Tekanan Ekonomi

Ketika perekonomian Tiongkok melambat karena virus korona, bagaimana pemerintah bisa menggeser investasi global ke Indonesia.

EKONOMI | 12 Februari 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS