Dow Rontok 12% dalam 7 Hari, Ini Alasan dan Proyeksi ke Depan
INDEX

BISNIS-27 448.146 (0.31)   |   COMPOSITE 5091.82 (20.37)   |   DBX 966.643 (7.34)   |   I-GRADE 139.941 (-0.23)   |   IDX30 428.154 (0.15)   |   IDX80 113.358 (0.41)   |   IDXBUMN20 291.199 (0.73)   |   IDXG30 119.599 (-0.42)   |   IDXHIDIV20 379.423 (-0.2)   |   IDXQ30 124.629 (0.03)   |   IDXSMC-COM 218.961 (1.24)   |   IDXSMC-LIQ 257.997 (1.39)   |   IDXV30 107.251 (0.23)   |   INFOBANK15 832.7 (-1.05)   |   Investor33 373.408 (0.72)   |   ISSI 150.953 (0.22)   |   JII 549.986 (0.88)   |   JII70 187.543 (0.51)   |   KOMPAS100 1019.5 (2.84)   |   LQ45 788.563 (1.25)   |   MBX 1407.83 (4.87)   |   MNC36 279.661 (0.67)   |   PEFINDO25 277.129 (5.34)   |   SMInfra18 242.149 (-0.57)   |   SRI-KEHATI 316.134 (0.38)   |  

Dow Rontok 12% dalam 7 Hari, Ini Alasan dan Proyeksi ke Depan

Sabtu, 29 Februari 2020 | 12:57 WIB
Oleh : Whisnu Bagus Prasetyo / WBP

New York, Beritasatu.com - Bursa AS turun cukup dalam pada minggu ini karena virus korona menyebar di luar Tongkok sehingga menimbulkan kekhawatiran investor di bursa saham.

Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 masing-masing turun 12 persen dan 11 persen pada pekan ini, menandai kinerja mingguan terburuk sejak krisis keuangan. 2008. 30 saham unggulan yang tergabung dalam Dow mencatat kerugian satu hari poin terbesar sepanjang sejarah pada Kamis (27/2/2020). Ini juga membuat Dow turun lebih dari 10 persen dari rekor tertinggi hari itu, bersama dengan S&P 500 dan Nasdaq Composite.

Pelemahan di Wall Street terjadi ketika kekhawatiran dampak virus korona pada ekonomi global dan keuntungan perusahaan. Jumlah kasus di Tiongkok terus meningkat minggu ini, sementara jumlah orang yang tertular virus melonjak di Korea Selatan dan Italia. Hal ini menyebabkan banyak perusahaan mengeluarkan peringatan tentang pendapatannya. Hal ini juga mengurangi prospek pasar bagi investor yang khawatir segera menyebar luas di AS.

"Ketika orang tidak tahu bagaimana mengukur sesuatu, yang benar-benar di mana kita berada sekarang, reaksi pertama di pasar adalah menjual dulu dan mencari tahu sedikit kemudian," kata Kepala strategi ekuitas TD Ameritrade, JJ Kinahan, Sabtu (29/2/2020).

Apa yang terjadi?
Dow Jones mencatat dua penurunan lebih dari 1.000 poin pada minggu ini. Pelemahan pada Kamis mencapai 1.192 poin adalah rekor penurunan satu hari terbesar di Dow. Rata-rata 30 saham yang tergabung di Dow Jones juga mengakhiri minggu ini turun 14 persen dari rekor tertinggi.

Indeks S&P 500 mencatat penurunan lebih dari 2 persen dalam tiga dari lima sesi minggu ini. Sebelum itu, indeks ini belum mencatat penurunan sebesar itu sejak Agustus 2019. Benchmark saham AS ini turun hampir 13 persen minggu ini di bawah rekor tertinggi yang ditetapkan pada 19 Februari 2020.

"Semakin lama (korona) tetap ada di benak investor, semakin besar dampaknya tidak hanya pada pasar, tetapi ekonomi," kata Direktur KKM Financial., Dan Deming.

Hanya dua komponen indeks S&P 500 - Regeneron Pharmaceuticals dan Qorvo - yang ditutup lebih tinggi untuk minggu ini. Sementara 96 persen komponen S&P 500 berada di wilayah koreksi.

Semua atau 30 anggota Dow mengakhiri minggu ini turun lebih dari 10 persen dari level tertinggi masing-masing 52 minggu. Raksasa teknologi Apple bahkan ambles ke pasar bearish, secara singkat diperdagangkan turun lebih dari 20 persen dari rekor intraday yang ditetapkan pada Januari.

"Apa yang kami lihat dalam beberapa hari terakhir adalah likuidasi murni," kata Kepala strategi pasar SunTrust Advisory, Keith Lerner. "Dinamika yang paling penting di pasar adalah ketidakpastian," tambah Lerner. "Orang-orang menjual dulu dan mengajukan pertanyaan kemudian."

Pedagang dan investor mencari perlindungan dari penurunan pasar saham dengan membeli Treasury AS. Benchmark imbal hasil Treasury 10-tahun menembus di bawah 1,15 persen untuk pertama kalinya pada Jumat.

Kenapa Wall Street Turun?
Jumlah kasus korona yang dikonfirmasi di Korea Selatan melonjak pada minggu ini menjadi 2.300. Itu menjadikan negara dengan kasus terkonfirmasi di luar Tiongkok terbesar. Di Italia, jumlah orang yang terinfeksi mencapai 600. Kasus di Iran, Selandia Baru dan Nigeria juga dilaporkan minggu ini.

Jumlah kasus yang melonjak, terutama di luar Tiongkok menimbulkan kekhawatiran perlambatan ekonomi global yang berkepanjangan dan menakuti investor saham. Ketidakpastian itu juga membuat beberapa perusahaan memperingatkan investor tentang dampak virus akan menekan pendapatan perusahaan.

Microsoft mengatakan Rabu, pendapatan kuartal saat ini untuk divisi PC- yang menyumbang 36 persen dari keseluruhan penjualan perusahaan - tidak akan terpenuhi karena korona memperlambat rantai pasokannya.

PayPal memperingatkan Kamis bahwa korona akan berdampak negatif pada perkiraan pendapatan perusahaan. Mastercard mengatakan pada Senin bahwa virus itu dapat mengurangi pendapatan 2020.

Bagaimana proyeksi ke depan?
Pelaku pasar akan mencari tanda-tanda bottom up setelah penurunan besar-besaran minggu ini. Sejak Perang Dunia II, S&P 500 telah mengalami 26 koreksi hebat(tidak termasuk yang dimulai minggu ini). Selama periode korektif tersebut, S&P 500 telah menurun rata-rata 13,7 persen dan membutuhkan waktu sekitar empat bulan untuk pulih.

CEO The Opportunistic Trader, Garry Benedict, berpikir saham di Wall Street saat ini cukup murah bagi investor. “Pasar tersapu secara besar-besaran. Pasar berpotensi mendapatkan sedikit stabilisasi dan sedikit peningkatan di sini."

Benedict menunjukkan bahwa saham seperti Exxon Mobil diperdagangkan dengan diskon yang signifikan. Saham Exxon telah jatuh hampir 40 persen dari level tertinggi 52-minggu.

Namun Direktur Cboe Vest Jeff Chang, berpikir investor harus tetap berhati-hati. "Secara historis, kita telah melihat tingkat volatilitas yang tinggi setelah lonjakan volatilitas seperti ini," kata Chang.



Sumber:CNBC


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

MPIS dan MPIP Lakukan Restrukturisasi

Penawaran skema restrukturisasi ini bertujuan untuk menangani keterlambatan pencairan surat hutang repo.

EKONOMI | 28 Februari 2020

Picu Macet dan Banjir, Proyek Kereta Cepat Dihentikan Sementara

Proyek kereta cepat diberhentikan selama dua minggu sejak 2 Maret 2020.

EKONOMI | 29 Februari 2020

Sektor Perikanan Bisa Tingkatkan Pendapatan Asli Daerah Manokwari

Kawasan pesisir dan laut bisa dioptimalkan untuk meningkatkan PAD

EKONOMI | 29 Februari 2020

Sejak Awal 2020, Obligasi dan Sukuk di BEI Rp 12,5 Triliun

Total obligasi dan sukuk di BEI nominal outstanding Rp 448,73 triliun dan US$ 47,5 juta.

EKONOMI | 29 Februari 2020

9 Perusahaan Jepang Jajaki Kerja Sama Bisnis US$ 100 Juta di Indonesia

Perusahaan Jepang akan melakukan kolaborasi membuat perusahaan patungan (joint venture/JV) dengan perusahaan Indonesia.

EKONOMI | 29 Februari 2020

Industri Kreatif Diyakini Jadi Tumpuan Ekonomi Indonesia Masa Depan

Industri kreatif tumpuan ekonomi Indonesia di masa depan.

EKONOMI | 29 Februari 2020

Dihantam Korona, Minyak Alami Pekan Terburuk Sejak Krisis 2008

Harga minyak Futures di New York turun 16 persen sepanjang minggu ini, menandai penurunan mingguan terbesar sejak Desember 2008.

EKONOMI | 29 Februari 2020

Kapitalisasi Microsoft Hilang Rp 3.320 T Pekan Ini, Saatnya Buy

Kisaran harga pembelian saham Microsoft US$ 145 hingga US$ 150.

EKONOMI | 29 Februari 2020

BJB Syariah Perkuat Layanan Digital Umrah

BJB Syariah ingin memperkuat branding sebagai bank syariah yang fokus melayani umrah dan haji.

EKONOMI | 29 Februari 2020

Pekan Ini, IHSG Hilang 430 Poin, Kapitalisasi Bursa Menguap Rp 496 T

Nilai kapitalisasi bursa juga tergerus Rp 496 triliun (7,30 persen) menjadi Rp 6.304,205 triliun dari Rp 6.800,649 trilun.

EKONOMI | 29 Februari 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS