Rasio Elektrifikasi Capai 99,09%
INDEX

BISNIS-27 434.176 (-7.64)   |   COMPOSITE 4917.96 (-75.2)   |   DBX 928.196 (-4.7)   |   I-GRADE 130.286 (-2.42)   |   IDX30 412.166 (-7.85)   |   IDX80 107.727 (-2.08)   |   IDXBUMN20 269.265 (-5.95)   |   IDXG30 115.773 (-2.53)   |   IDXHIDIV20 368.481 (-6.65)   |   IDXQ30 120.761 (-2.3)   |   IDXSMC-COM 210.292 (-3.36)   |   IDXSMC-LIQ 235.988 (-6.09)   |   IDXV30 101.893 (-2.12)   |   INFOBANK15 773.605 (-13.29)   |   Investor33 359.92 (-6.34)   |   ISSI 144.524 (-2.29)   |   JII 524.265 (-9.92)   |   JII70 177.451 (-3.41)   |   KOMPAS100 962.885 (-17.72)   |   LQ45 754.177 (-14.18)   |   MBX 1360.94 (-22.87)   |   MNC36 269.191 (-4.78)   |   PEFINDO25 256.961 (-5.33)   |   SMInfra18 232.003 (-3.35)   |   SRI-KEHATI 302.863 (-5.05)   |  

Rasio Elektrifikasi Capai 99,09%

Kamis, 30 Juli 2020 | 19:24 WIB
Oleh : Herman / WBP

Jakarta, Beritasatu.com – Di tengah tantangan kondisi geografis Indonesia yang sangat berat, PT PLN (Persero) berkomitmen terus melistriki negeri hingga ke seluruh pelosok nusantara. Saat ini rasio elektrifikasi atau perbandingan antara jumlah rumah tangga berlistrik dan seluruh rumah tangga juga terus meningkat. Sampai kuartal II-2020, pencapaian rasio elektrifikasi telah mencapai 99,09 persen. Targetnya pada 2021 akan mencapai 99,99 persen.

Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PT PLN (Persero) Bob Saril menyampaikan, upaya peningkatan rasio elektrifikasi yang dilakukan PLN telah meningkat dengan pesat sejak tahun 2014 sebesar 84,35 persen menjadi 99,02 persen, atau meningkat 14,74 persen.

PLN sendiri saat ini telah memiliki sekitar 77,1 juta pelanggan, terdiri dari 70,9 juta pelanggan rumah tangga, 3,7 juta pelanggan bisnis, 498.000 pelanggan kantor pemerintahan, dan 114.000 pelanggan industri.

“Melalui perjuangan yang luar biasa dari teman-teman di PLN dan juga dukungan pemerintah, dari tahun 2014 hingga kuartal II-2020, kita sudah menaikkan rasio elektrifikasi hingga 14,74 persen. Pada 2020 ini kita akan mencapai rasio elektrifikasi 99,09 persen,” kata Bob Saril dalam acara Zooming with Primus bertajuk “Melistriki Indonesia” yang disiarkan langsung Beritasatu TV, Kamis (30/7/2020).

Diskusi yang dipandu Direktur Pemberitaan Berita Satu Media Holding (BSMH) Primus Dorimulu ini juga menghadirkan Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro dan Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi.

Dikatakan Bob Saril, dari 34 provinsi di Indonesia, hampir semua telah memiliki rasio elektrifikasi sekitar 99 persen. Tetapi ada beberapa daerah yang masih perlu menjadi fokus peningkatan rasio elektrifikasi, yakni Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, Papua, dan sebagian Kalimantan.

Sementara untuk membantu masyarakat miskin di daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar), PLN juga telah mempunyai beberapa program, antara lain diskon pasang baru 50 persen yang bernama “Terangi Negeri”, penyambungan listrik gratis dari program “Bantuan Penyambungan Baru Listrik” (BPBL) yang merupakan kerja sama CSR badan usaha di bawah pimpinan Kementerian ESDM, serta bantuan penyambungan listrik oleh CSR PLN.

Bob menambahkan, untuk melistriki 433 desa di kawasan 3T yang belum berlistrik, dilakukan dengan mengutamakan pemanfaatan energi setempat dengan beberapa pilihan strategi, antara lain dengan perluasan jaringan berlistrik (grid ekstension). Tetapi jika hal tersebut tidak memungkinkan, dilakukan dengan membangun minigrid (PLTS Komunal, PLTD Hybrid). Apabila hal ini juga tidak bisa dilakukan, upayanya adalah dengan distribusi tabung listrik (talis) dengan sumber pembangkit listrik dan stasiun pengisian energi listrik (SPEL)

“Dari 433 desa tersebut, 53 desa akan dilistriki melalui perluasan jaringan, 75 desa dengan membangun minigrid, dan 306 desa akan dilistriki dengan Talis menggunakan sumber pembangkit PV+SPEL. Ini yang kita harapkan bisa mempercepat penyalaan listrik di desa-desa tersebut, sekaligus untuk meningkatkan rasio elektrifikasi,” kata Bob.

Selama semester I-2020, Bob menyampaikan penjualan listrik PLN masih mengalami kenaikan 0,93 persen. Tetapi kenaikan tersebut lebih banyak disumbang pada kuartal I-2020, sementara di kuartal II-2020 mengalami penurunan yang cukup besar. Dengan melihat berbagai perkembangan terkini, Bob memprediksi penjualan PLN pada tahun ini akan terkontraksi hingga -6,15 persen, sehingga pendapatan PLN bisa turun di kisaran 7 persen hingga 8 persen.

“Di kuartal II-2020 terjadi penurunan karena terdampak Covid-19. Bahkan di bulan Mei saja penurunannya sampai -10,71 persen. Tetapi di bulan Juni hingga Juli ini sudah mulai terlihat ada tren kenaikan. Harapannya ini bisa terus berlanjut, di mana kegiatan ekonomi kembali berjalan sambal tetap menerapkan protokol kesehatan,” kata Bob.

Keandalan Perlu Ditingkatkan
Sementara menurut Ketua Harian YLKI Tulus Abadi, secara umum pelayanan ketenagalistrikan di Indonesia sudah memperlihatkan peningkatan signifikan dari sisi aksesibilitas, sehingga meningkatkan rasio elektrifikasi. Namun dari sisi keandalan, hal ini menurutnya masih harus terus ditingkatkan.

“Dari sisi keandalan, kita harus akui di Pulau Jawa atau di tempat yang sistem listriknya sudah bagus, itu memang kehandalannya sudah oke. Tidak ada cerita konsumen mengalami pemadaman listrik akibat kekurangan pasokan. Tetapi kalau kita bicara sistem kelistrikan yang kecil di luar pulau Jawa, apalagi di isolated area, itu kan masih banyak daerah-daerah yang mengalami padam listrik karena kurang pasokan. Artinya pekerjaan rumahnya masih banyak,” kata Tulus Abadi.

Peningkatan rasio elektrifikasi ini juga diapresiasi oleh Komaidi Notonegoro, apalagi jika melihat tantangan geografis Indonesia yang sangat besar. “Peningkatan rasio elektrifikasi ini saya kira luar biasa. Di tahun 2008 lalu masih sekitar 70 persen, sekarang ini sudah jauh meningkat,” kata Komaidi.

Komaidi menyadari PLN menghadapi tantangan yang berat dalam menjalankan bisnisnya. Seperti halnya BUMN yang lain, apa yang dilakukan PLN tidak bisa hanya berbasis hitung-hitungan bisnis. Sehingga sampai saat ini Tarif Dasar Listrik (TDL) masih ditetapkan oleh Pemerintah dan DPR-RI. PLN pun sejauh ini tidak bisa menjual listrik menyesuaikan harga produksi. Hal ini kemudian diintervensi oleh Pemerintah melalui subsidi, namun pemberian subsidi ini juga kerap kali terhambat.

“Dalam banyak hal, publik tidak tahu hal yang sebenarnya. Misalkan ketika harga BBM turun, gas turun, batu bara turun, tarif listrik kok tidak turun? Ini yang seringkali ditanyakan konsumen. Mereka tidak tahu bahwa tarif yang selama ini dibayar masih jauh di bawah biaya produksi. Sehingga ketika biaya energi primer turun, ini belum bisa meng-cover untuk menurunkan tarif listrik. Ini yang harus diketahui oleh publik,” kata Komaidi.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Peruri Raih Tiga Penghargaan TOP CSR Awards 2020

Peruri dinilai berhasil menjalankan program sosial serta community development yang efektif dan berkualitas dengan mendukung bisnis berkelanjutan.

EKONOMI | 30 Juli 2020

Semester I, Laba Nobu Bank Meroket 68%

Nobu Bank masih mencatatkan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) yang cukup solid di level 25,1 persen.

EKONOMI | 30 Juli 2020

Harga Gas Industri Keramik dan Baja di Jatim Turun

Penurunan harga gas ini menjadi angin segar pelaku industri.

EKONOMI | 30 Juli 2020

Insurtech Dorong Penetrasi Asuransi

Keberadaan insurtech dapat meminimalkan biaya, sehingga lebih efisien dan efektif dalam proses bisnis asuransi.

EKONOMI | 30 Juli 2020

UMKM Jadi Kunci Kebangkitan Ekonomi Pasca-Pandemi Covid-19

UMKM memang merupakan sektor yang paling terpukul oleh dampak pandemi Covid-19.

EKONOMI | 30 Juli 2020

AP II Canangkan Safe Travel Campaign di 19 Bandara

Protokol kesehatan di bandara AP II fokus pada 5 inisiatif.

EKONOMI | 30 Juli 2020

RUU Cipta Kerja Bisa Jadi Jalan Tengah bagi Semua Pihak

Semua pihak harus mengedepankan negosiasi agar tujuan utama dari RUU Cipta Kerja bisa terwujud.

EKONOMI | 30 Juli 2020

Paruh Tahun, Pendapatan Indosat Naik 9,4% Tembus Rp 13,5 Triliun

EBITDA mencapai Rp 4,4 triliun atau meningkat 22,5 persen.

EKONOMI | 30 Juli 2020

Covid-19 Bisa Jadi Momentum Pertumbuhan Jasa Laundry

Kekhawatiran akan infeksi virus corona atau Covid-19 membuat banyak orang kini lebih telaten memperhatikan kebersihan.

EKONOMI | 30 Juli 2020

Daftar Saham Teraktif Hari Ini

PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dengan frekuensi 39.495 kali.

EKONOMI | 30 Juli 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS