PDB Kuartal II Anjlok Akibat Respons Kebijakan Tidak Memadai
INDEX

BISNIS-27 506.098 (-2.99)   |   COMPOSITE 5701.03 (-21.78)   |   DBX 1035.29 (4.23)   |   I-GRADE 166.318 (-0.13)   |   IDX30 494.279 (-1.96)   |   IDX80 129.716 (-0.63)   |   IDXBUMN20 362.653 (1.11)   |   IDXG30 134.441 (-1.2)   |   IDXHIDIV20 440.988 (-0.91)   |   IDXQ30 143.821 (-0.06)   |   IDXSMC-COM 242.747 (-0.62)   |   IDXSMC-LIQ 296.284 (-2.64)   |   IDXV30 122.829 (0.78)   |   INFOBANK15 978.195 (1.48)   |   Investor33 426.909 (-3.32)   |   ISSI 166.986 (-1.24)   |   JII 611.564 (-6.71)   |   JII70 209.726 (-1.98)   |   KOMPAS100 1161.89 (-6.87)   |   LQ45 907.882 (-4.42)   |   MBX 1586.58 (-7.86)   |   MNC36 318.65 (-2.24)   |   PEFINDO25 310.515 (-0.4)   |   SMInfra18 285.156 (1.39)   |   SRI-KEHATI 364.469 (-1.96)   |  

PDB Kuartal II Anjlok Akibat Respons Kebijakan Tidak Memadai

Kamis, 6 Agustus 2020 | 09:53 WIB
Oleh : Hari Gunarto / WBP

Jakarta, Beritasatu.com– Ekonom senior dan pendiri Indef Didik J Rachbini mengritik pemerintah yang membiarkan tidak berkembangnya sejumlah sektor ekonomi akibat respons kebijakan yang tidak memadai dalam menangani pandemi Covid-10. Itulah yang membuat Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II-2020 mengkerut 5,32 persen.

“Saat ini yang harus dituntut oleh publik kepada pemerintah adalah respons kebijakan apa, yang harus dilakukan menghadapi kondisi perekonomian saat ini,” kata dia kepada Investor Daily, Kamis (06/08/2020).

Pertama, krisis ini pada dasarnya adalah masalah yang cukup berat sekaligus peluang yang luar biasa bagi yang berdaya pikir dalam dan panjang ke depan. “Yang harus dikritisi, peluangnya dibiarkan begitu saja dan tidak dikembangkan karena respons kebijakan tidak memadai. Sektor transportasi, jasa pergudangan, akomodasi dan makanan – minuman dan jasa-jasa laiannya terkena dampak paling parah sehingga tumbuh minus antara -15 persen sampai 22 persen. Tetapi peluang pada sektor lainnya dibiarkan tidak berkembang, seperti sektor informasi dan komunikasi hanya tumbuh 3,44 persen. Padahal peluang pertumbuhan sektor ini luar biasa besar karena hampir keseluruhan yang tidak bisa dilakukan dengan transportasi mestinya bisa digantikan oleh sektor informasi dan komunikasi,” kata Didik.

Kedua, peluang seperti ini hilang karena kebijakan diam di tempat dan tidak muncul inovasi dari dalam yang memberi jalan dan peluang agar sektor informasi dan komunikasi tumbuh pesat. Beberapa perusahaan informasi dan komunikasi mendapat rezeki luar biasa dengan pandemi ini kafrena transportasi mandek, maka IT sebagai gantinya. Jadi wajar jika perusahaan IT bisa tumbuh sampai 300 persen. Tetapi mengapa sektor ini secara keseluruhan hanya tumbuh 3,44 persen? Jawabnya karena miskin ide dan inovasi, tuna kebijakan. Coba aktifkan Palapa Ring secara maksimal dan tiang-tiang listrik berikan gratis untuk sementara kepada telkom dan telkomsel serta perusahaan swasta agar segera mengembangkan jaringan di seluruh penjuru negeri. Sebagai catatan, tingkat elektrifikasi kita sudah di atas 90 persen, yang siap menjadi penopang sektor infokom. “Jika saran kebijakan ini juga tidak laku, maka saya pastikan ada penyakit bebal kebijakan,” tutur Didik.

Ketiga, krisis ini sesungguhnya adalah peluang bagi “sektor drakula” penghisap devisa, yaitu sektor kesehatan. Kebutuhan sektor kesehatan hampir mutlak didatangkan dari luar negeri, sektor pengimpor mutlak dari negara lain, yang juga ditingkahi setan monopoli dan rente yang luar biasa besar. Sektor ini adalah sektor neraka bagi ekonomi karena menghisap devisa, melemahkan rupiah, menggerus perolehan ekspor, dan memelihara hutan rente ekonomi, yang menyakitkan. Krisis ini adalah peluang untuk merontokkan drakula dan setan rente tersebut, yang menyebabkan biaya kesehatan dan harga obat.

Keempat, kata Didik, selain sektor kesehatan peluang krisis ini ada pada sektor pendidikan. "Saya sebagai guru hampir tidak pernah mendapat hambatan dalam mengajar, menguji, dan praktik – terutama untuk jurusan ilmu-ilmu humaniora. Kuncinya adalah mekanisme pendidikan normal baru secara daring," kata dia.

Tetapi pendidikan di kota dan Jakarta berbeda dengan pendidikan di desa dan luar jawa, yang macet karena tidak ada jaringan internet. Jaringan internet tidak ada karena pemerintah kurang daya pikir – padahal di sini peluang itu ada.

Kelima, revolusi tiang listrik. Pertumbuhan sektor infokom lembek karena daya pikir kebijakan lemah dan lamban. Didik memberikan saran revolusi dari tiang listrik, yang dirancang murah. Pemerintah meminta kepada seluruh perusahaan IT penyedia layanan untuk masuk ke seluruh daerah dengan kabel fiber optiknya melalui jaringan tiang listrik. Tiang-tiang listrik itu sebenarnya sudah masuk ke seluruh pelosok negeri, tingkat elektrifikasi di atas 90 persen. Sistem Palapa Ring harus dipakai untuk mendukungnya. Berikan tiang listrik itu gratis, atau diskon, atau disubsidi pemerintah kepada perusahaan IT agar seluruh negeri bisa dialiri internet.

Sebaliknya pemerintah mewajibkan perusahaan IT untuk memberikan harga murah kepada masyarakat karena sekarang sudah untuk berlipat.

Keenam, pemerintah dan Tim Ekonomi sibuk dengan permasalahan internalnya sendiri, koordinasi dan komunikasi yang buruk, kemarahan presiden yang tidak perlu, serta anggaran yang tidak terealisasi dengan memadai, tidak wajar. Dari awal komunikasi pemerintah sangat kacau dimana ada puluhan blunder komunikasi yang membingungkan dalam kebijakan Covid-19. Akhirnya meskipun kasus Covid-19 terus meningkat, pemerintah pusat dipimpin Presiden tetap membuka PSBB lockdown sehingga kasus Covid-19 sudah di atas 100.000.

Ketujuh, jika ini terus terjadi, tim pemerintah kacau dalam komunikasi, pemimpinnya gusar terhadap anak buah, tim tidak solid, maka Covid-19 mustahil bisa diatasi dengan baik. “Jika Covid-19 tidak bisa diatasi, jangan bermimpi bisa mengatasi resesi. Tidak ada pertumbuhan ekonomi tanpa mengatasi pandemi. Jika pandemi terus berkembang seperti sekarang, maka resesi akan berkepanjangan. Pemerintah akan kesulitan mengembalikan ekonomi tumbuh kembali,” tegas Didik.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Rupiah Menguat Sejalan Mata Uang Asia Pagi Ini

Transaksi rupiah pagi ini diperdagangkan dalam kisaran Rp 14.465-Rp 14.542 per dolar AS.

EKONOMI | 6 Agustus 2020

Aksi Beli Saham Warnai IHSG di Awal Perdagangan

Pukul 09.15 WIB, indeks harga saham gabungan naik 38,3 poin (0,74 persen) menjadi 5.163.

EKONOMI | 6 Agustus 2020

Ekonomi Indonesia Terkontraksi, Konsumsi Harus Lebih Digerakkan

Untuk program-program yang sifatnya bantuan sosial berupa sembako, ini bisa dialihkan ke dalam bentuk Bantuan Langsung Tunai.

EKONOMI | 6 Agustus 2020

Schneider Electric Luncurkan Solusi Hijau di Industri Makanan Minuman

EcoStruxure for Food and Beverage mengintegrasikan industrial internet of things (Iot) dan teknologi otomasi di seluruh aspek rantai.

EKONOMI | 6 Agustus 2020

Bursa Asia Mixed karena Ketegangan AS-Tiongkok

Di Jepang, Nikkei 225 turun 0,26 persen pada awal perdagangan.

EKONOMI | 6 Agustus 2020

IHSG Diproyeksi Naik, Ini Daftar Saham Pilihan

Secara teknikal IHSG perdagangan hari ini akan bergerak di rentang 5.077 - 5.161.

EKONOMI | 6 Agustus 2020

Emas Tembus Rekor Baru Setelah Lampaui US$ 2.000 Per Ounce

Emas telah naik 34 persen pada tahun ini dan merupakan salah satu aset berkinerja terbaik 2020.

EKONOMI | 6 Agustus 2020

S&P 500 Naik Hari Keempat Ditopang Harapan Vaksin Covid-19

Kenaikan S&P 500 sebagian besar dipimpin saham teknologi utama seperti Facebook, Amazon , Netflix, Apple, Alphabet, dan Microsoft.

EKONOMI | 6 Agustus 2020

Bursa Eropa Ditutup Menguat Didukung Kinerja Emiten

Saham sektor sumber daya dasar, dan perjalanan naik lebih 3 persen memimpin kenaikan.

EKONOMI | 6 Agustus 2020

Pandemi Covid-19, HCML Dorong Vendor Pengadaan Lakukan Penyesuaian

HCML menggelar kegiatan sosialisasi Vendor Day pada 4-5 Agustus 2020 di Jakarta.

EKONOMI | 5 Agustus 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS