Selain Resesi, Pemerintah Perlu Waspadai Kemungkinan Depresi Ekonomi
INDEX

BISNIS-27 448.028 (-0.11)   |   COMPOSITE 5099.84 (-3.39)   |   DBX 964.111 (2.27)   |   I-GRADE 139.821 (-0.42)   |   IDX30 426.948 (0.39)   |   IDX80 113.317 (0.11)   |   IDXBUMN20 291.67 (1.28)   |   IDXG30 118.931 (0.18)   |   IDXHIDIV20 379.8 (-0.77)   |   IDXQ30 124.715 (-0.33)   |   IDXSMC-COM 219.701 (0.45)   |   IDXSMC-LIQ 255.871 (2.67)   |   IDXV30 106.644 (1.52)   |   INFOBANK15 836.821 (-6.19)   |   Investor33 373.706 (-0.97)   |   ISSI 150.561 (0.36)   |   JII 547.285 (1.18)   |   JII70 187.054 (0.33)   |   KOMPAS100 1020.57 (-1.1)   |   LQ45 786.439 (0.76)   |   MBX 1410.93 (-1.57)   |   MNC36 280.006 (-0.59)   |   PEFINDO25 280.13 (0.18)   |   SMInfra18 241.99 (-0.13)   |   SRI-KEHATI 316.197 (-0.37)   |  

Selain Resesi, Pemerintah Perlu Waspadai Kemungkinan Depresi Ekonomi

Jumat, 7 Agustus 2020 | 18:32 WIB
Oleh : Herman / WBP

Jakarta, Beritasatu.com – Board member Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) dan Ekonom Australian National University (ANU), Arianto Patunru mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya depresi ekonomi, bukan hanya resesi. Resesi diartikan sebagai keadaan di mana pertumbuhan ekonomi negatif selama dua kuartal berturut-turut, sedangkan depresi ekonomi apabila resesi ekonominya berlangsung lebih lama hingga bertahun-tahun.

“Semua pihak perlu berhati-hati pada kemungkinan depresi. Depresi terakhir terjadi tahun 1930-an, yang dikenal sebagai Great Depression, merupakan akumulasi dari resesi berkepanjangan yang terjadi bukan hanya dua kuartal, tapi bertahun-tahun. Hal ini sebisa mungkin harus kita hindari,” kata Arianto Patunru dalam keterangan tertulisnya, Jumat (7/8/2020).

Sebagai gambaran, pertumbuhan ekonomi negatif di Indonesia sehubungan dengan Asian Financial Crisis pada tahun 1930-an adalah lima kuartal. “Indonesia (saat ini) memang belum memasuki masa resesi. Namun kondisinya sudah sangat riskan, yaitu di jurang resesi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I sudah menunjukkan pelambatan, hanya mencapai 2,9 persen. Sementara pertumbuhan ekonomi di kuartal II menjadi negatif, yaitu -5,3 persen,” kata Arianto.

Kontraksi ekonomi kali ini dikatakan Arianto memang tidak hanya terjadi pada Indonesia, tetapi juga terjadi di banyak negara di dunia. Namun pertumbuhan ekonomi Indonesia yang -5,32 persen ini adalah yang terparah sejak krisis keuangan Asia 1997-1998. Ketika itu pada kuartal I-1999, pertumbuhan ekonomi Indonesia -6,13 persen.

Menahan Laju Covid-19
Arianto menegaskan, Indonesia perlu upaya ekstra keras mengembalikan pertumbuhan ekonomi positif di kuartal ketiga tahun ini, jika ingin menghindari resesi. Namun upaya pemulihan perekonomian hanya bisa dilakukan jika ada upaya serius untuk menahan laju penyebaran Covid-19. Hal ini sangat penting dilakukan karena krisis ekonomi kali ini diawali dengan pandemi Covid-19 yang menyebar ke seluruh dunia.

Berbeda dengan krisis keuangan yang terjadi sebelumnya yakni krisis Asia 1997-1998 dan krisis global 2008, krisis keuangan kali ini diawali krisis kesehatan yang melemahkan, tidak hanya permintaan (demand), tetapi juga penawaran (supply) yang pada akhirnya berlanjut menjadi krisis ekonomi.

Arianto menyampaikan, memulihkan perekonomian tidak bisa dilakukan tanpa berusaha memulihkan kesehatan. Sehingga pemerintah perlu memfokuskan perhatian kepada upaya mengurangi laju penyebaran virus Covid-19.

“Hal ini dapat dilakukan, di antaranya dengan memperbanyak tes, mempertegas aturan jaga jarak dan menggalakkan kebijakan pembatasan. Baru kemudian perekonomian bisa berangsur dipulihkan. Pemerintah juga dapat memulai upaya pemulihan lewat sektor yang memiliki tingkat untuk sentuhan fisik minimal, misalnya pertanian karena pertanian lebih berdaya tahan ketimbang pariwisata. Bagi sektor yang masih terkendala kebijakan pembatasan, perlu mekanisme kompensasi,” kata Arianto.

Ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal dalam diskusi virtual yang digelar Ikatan Alumni (Iluni) Univeristas Indonesia (UI) baru-baru ini juga menyampaikan, kondisi resesi di masa pandemi Covid-19 ini sebetulnya bukanlah kekhawatiran. Apalagi beberapa negara mengalami kondisi tersebut. Justru yang lebih dikhawatirkan apabila ekonomi Indonesia masuk dalam kondisi depresi. Sebab resesi ekonomi bisa saja berujung depresi apabila Indonesia gagal mengungkit perekonomian.

"Kalau kita mau membangun optimisme, resesi ini sebenarnya nggak masalah, karena ini kan cuma dua kuartal berturut-turut. Artinya dalam satu tahun, kita bisa saja positif. Yang ditakutkan itu kalau resesi yang berkepanjangan, ada depresi ekonomi,” kata Fithra Faisal.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Menteri PUPR Instruksikan Pembangunan Bendungan Sidan Selesai Sesuai Target

Kempupera bangun bendungan Sidan di Bandung.

EKONOMI | 7 Agustus 2020

Tata Niaga Produk UMKM Akan Dibenahi

Tata kelola niaga UMKM akan ditata.

EKONOMI | 7 Agustus 2020

Hartadinata Bidik Penjualan Logam Mulia Rp 1 Triliun

Saat ini realisasi belanja modal (capital expenditure/capex) berkisar Rp 40 miliar, atau 75 persen dari yang dianggarkan.

EKONOMI | 7 Agustus 2020

DBS Dorong Masyarakat Adaptasi Kebiasaan Baru Berinvestasi

DBS meluncurkan dua fitur terbaru yakni Rekening Valas dan Obligasi Pasar Sekunder.

EKONOMI | 7 Agustus 2020

TOWR dan ANTM Saham Paling Banyak Ditransaksikan

PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dengan frekuensi 39.420 kali.

EKONOMI | 7 Agustus 2020

Cegah Penyebaran Covid-19, Pegadaian Lakukan Rapid Test Massal

Pegadaian melakukan rapid test massal sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19 bagi seluruh karyawan di kantor pusat perseroan.

EKONOMI | 7 Agustus 2020

Ini Daftar Kapitalisasi Saham Terbesar

Saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) mengalami penurunan terdalam sebesar Rp 40 (1,3 persen) mencapai Rp 2.980.

EKONOMI | 7 Agustus 2020

Pendapatan Holding RS BUMN Diproyeksi Rp 4,5 Triliun

Aksi korporasi ini merupakan bagian roadmap pembentukan holding RS BUMN yang telah dimulai sejak tahun 2018.

EKONOMI | 7 Agustus 2020

Mengekor Mata Uang Asia, Rupiah Ditutup Turun ke Rp 14.625

Rupiah hari ini diperdagangkan dengan kisaran Rp 14.555- Rp 14.637 per dolar AS.

EKONOMI | 7 Agustus 2020

Akhiri Perdagangan, IHSG Melemah 34 Poin ke 5.143

Sebanyak 163 saham menguat, 263 saham melemah, dan 159 saham stagnan.

EKONOMI | 7 Agustus 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS