Gagal Bayar Produk Asuransi Jiwa karena Aturan Dilanggar
INDEX

BISNIS-27 448.146 (0.31)   |   COMPOSITE 5091.82 (20.37)   |   DBX 966.643 (7.34)   |   I-GRADE 139.941 (-0.23)   |   IDX30 428.154 (0.15)   |   IDX80 113.358 (0.41)   |   IDXBUMN20 291.199 (0.73)   |   IDXG30 119.599 (-0.42)   |   IDXHIDIV20 379.423 (-0.2)   |   IDXQ30 124.629 (0.03)   |   IDXSMC-COM 218.961 (1.24)   |   IDXSMC-LIQ 257.997 (1.39)   |   IDXV30 107.251 (0.23)   |   INFOBANK15 832.7 (-1.05)   |   Investor33 373.408 (0.72)   |   ISSI 150.953 (0.22)   |   JII 549.986 (0.88)   |   JII70 187.543 (0.51)   |   KOMPAS100 1019.5 (2.84)   |   LQ45 788.563 (1.25)   |   MBX 1407.83 (4.87)   |   MNC36 279.661 (0.67)   |   PEFINDO25 277.129 (5.34)   |   SMInfra18 242.149 (-0.57)   |   SRI-KEHATI 316.134 (0.38)   |  

Gagal Bayar Produk Asuransi Jiwa karena Aturan Dilanggar

Selasa, 8 September 2020 | 17:06 WIB
Oleh : Lona Olavia / WBP

Jakarta, Beritasatu.com -Maraknya kasus gagal bayar investasi di perusahaan asuransi jiwa menjadi bukti kekacauan di industri asuransi nasional. Pasalnya, perusahaan asuransi yang seharusnya hanya menjamin jiwa pemegang polis, justru memberikan garansi imbal hasil pasti atau fixed return melalui produk asuransi berbalut investasi.

Pengamat Hukum Bisnis dan Asuransi Universitas Airlangga Surabaya Budi Kagramanto mencontohkan dua perusahaan asuransi yang kini tengah menjadi sorotan publik, yakni PT Asuransi Jiwa Kresna Life dan PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Dua perusahaan tersebut sama-sama menjanjikan imbal hasil tinggi kepada pemegang polis. Kresna Life menjanjikan return sekitar 9 persen untuk dua produknya yaitu Kresna Link Investa (K-LITA) dan Protecto Investa Kresna (PIK). Sementara Asuransi Jiwasraya menjamin imbal hasil antara 9 persen-13 persen melalui produk JS Saving Plan.

"Sejatinya kehadiran produk tersebut ditujukan untuk menarik masyarakat, namun justru disalahgunakan," kata Budi di Jakarta, Selasa (8/9/2020).

Dia mengatakan, produk itu dibumbui janji imbal hasil pasti dengan return tinggi. Untuk memenuhi janjinya, banyak perusahaan asuransi yang kemudian menempatkan dana nasabahnya di instrumen saham yang berisiko tinggi dan fluktuatif, karena tidak memiliki garansi atas imbal hasilnya.

Dalam kasus Jiwasraya hampir semua penempatan dana perusahaan, baik investasi secara langsung maupun melalui manajer investasi (MI), dialokasikan ke instrumen saham-saham tertentu di Bursa Efek Indonesia. “Bunga yang dijanjikan tidak masuk akal, tinggi sekali, bisa memberatkan perusahaan asuransi. Sekarang kejadian juga kalau perusahaan asuransi itu gagal bayar karena kondisi bursa anjlok,” katanya.

Budi meminta peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam mengawasi dan memeriksa produk-produk investasi yang ditawarkan perusahaan asuransi. Apalagi, banyak perusahaan asuransi yang tidak memberikan informasi secara benar kepada calon nasabah. Padahal beberapa regulasi mewajibkan perusahaan memberikan informasi secara detail. Contohnya Undang-undang (UU) Perlindungan Konsumen, hingga Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD). "Pasal 251 KUHD secara jelas ditujukan untuk perusahaan asuransi wajib memberikan informasi yang benar kepada tertanggung atau pemegang polis. Jangan yang disampaikan hanya keuntungan saja,” tambahnya.

Konsultan dan trainer perbankan, manajemen dan investasi Kodrat Muis menilai, imbal hasil pasti tidak dikenal dalam dunia asuransi. Hal itu, kata dia, sudah menyalahi Undang-undang Nomor 40/2014 tentang perasuransian dan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 27 Tahun 2018 tentang kesehatan keuangan perusahaan asuransi dan reasuransi, pembaruan dari POJK Nomor 71 Tahun 2014. "Kalau ada produk asuransi yang rider-nya, atau pendamping produk itu dikemas dalam bentuk saving, itu sudah menyalahi undang-undang, karena tidak diatur, yang diatur hanya dalam bentuk investasi (unit link)," katanya.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

BBRI Rajai Daftar Saham Teraktif

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan frekuensi 21.331 kali.

EKONOMI | 8 September 2020

Kapitalisasi BMRI dan ASII Naik Paling Banyak

Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mengalami kenaikan tertinggi sebesar Rp 125 (2,1 persen) mencapai Rp 5.975 dengan kapitalisasi pasar Rp 276,0 triliun.

EKONOMI | 8 September 2020

Bank Jatim Paling Banyak Menghimpun Tabungan Simpeda

Bank Jatim sampai dengan posisi Juni 2020, telah menghimpun Tabungan Simpeda sebesar Rp 13,44 triliun atau sebesar 23,96 persen dari Tabungan Simpeda Nasional.

EKONOMI | 8 September 2020

Sejalan Mata Uang Asia, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 14.765

Rupiah hari ini diperdagangkan dengan kisaran Rp 14.720- Rp 14.799 per dolar AS.

EKONOMI | 8 September 2020

IHSG Ditutup Naik 13 Poin ke 5.244

Sebanyak 187 saham menguat, 223 saham melemah, dan 178 saham stagnan.

EKONOMI | 8 September 2020

Ini Cara Tugu Insurance Bertahan di Masa Pandemi

Tugu Insurance terus melakukan inovasi agar bisa bertahan di tengah pandemi. Di antaranya adalah pengembangan platform digital.

EKONOMI | 8 September 2020

Bursa Eropa Melemah Jelang Pengumuman PDB Zona Euro

Pan-European Stoxx 600 melemah 0,3 persen di awal perdagangan.

EKONOMI | 8 September 2020

Covid-19 Persulit Pencapaian Target Pembangunan 2021

Target pembangunan dalam RAPBN 2021 tidak akan optimal selama eksternalitas Covid-19 masih ada.

EKONOMI | 8 September 2020

Kinerja Emiten Tetap Tumbuh Positif di Masa Pandemi

Keberhasilan untuk tetap bertahan di masa pandemi tentu tidak lepas dari upaya perusahaan mengubah strategi bisnisnya.

EKONOMI | 8 September 2020

Tabungan Simpeda Naik Tembus Rp 56,10 Triliun

BPD yang paling banyak menghimpun Tabungan Simpeda sejak lebih dari 10 tahun terakhir, yaitu Bank Jatim.

EKONOMI | 8 September 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS