Pemerintah Perkuat Industri Baja Nasional Lewat Percepatan Infrastruktur
INDEX

BISNIS-27 450.657 (-0.17)   |   COMPOSITE 5126.33 (-0.48)   |   DBX 964.304 (2.12)   |   I-GRADE 140.573 (0.13)   |   IDX30 429.149 (0.46)   |   IDX80 113.629 (0.19)   |   IDXBUMN20 294.159 (0.12)   |   IDXG30 119.586 (-0.02)   |   IDXHIDIV20 382.889 (0.21)   |   IDXQ30 125.935 (-0.19)   |   IDXSMC-COM 219.954 (0.48)   |   IDXSMC-LIQ 256.971 (-0.36)   |   IDXV30 106.718 (0.26)   |   INFOBANK15 842.264 (-0.64)   |   Investor33 375.573 (0.11)   |   ISSI 150.643 (0.48)   |   JII 545.954 (2.75)   |   JII70 186.804 (0.86)   |   KOMPAS100 1025.81 (-0.05)   |   LQ45 790.454 (0.49)   |   MBX 1419.3 (-0.61)   |   MNC36 282.56 (-0.55)   |   PEFINDO25 281.129 (-0.09)   |   SMInfra18 242.071 (0.05)   |   SRI-KEHATI 317.648 (0.34)   |  

Pemerintah Perkuat Industri Baja Nasional Lewat Percepatan Infrastruktur

Kamis, 1 Oktober 2020 | 14:50 WIB
Oleh : Whisnu Bagus Prasetyo / WBP

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah terus berupaya membenahi dan memperkuat industri baja nasional dengan mewujudkan negara mandiri dari impor komoditas tersebut. Untuk itu, pemerintah baik pusat, daerah, dan BUMN harus mengalokasikan proyek-proyek infrastruktur yang menjadi bagian penting penyerapan baja nasional.

Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian (Kemperin), Taufiek Bawazier mengatakan, industri baja nasional harus melakukan inovasi agar tetap berkelanjutan.“Inovasi jadi bagian kunci keberlangsungan baja kita. Kedua, pemerintah, baik pusat, daerah, BUMN harus mengalokasikan minimal proyek-proyek infrastruktur yang menjadi bagian penting penyerapan baja nasional. Itu harus diprioritaskan," kata dia dalam webinar Infrastructure Connect Digital Series dengan tema "Strategi Memperkuat Industri Baja Nasional dalam Percepatan Pengembangan Infrastruktur", dalam keterangannya Kamis (1/10/2020).

Selain itu, SNI produk baja dan peningkatan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN). Ia menilai, secara teknik, SNI merupakan instrumen yang cukup bagus untuk membendung, impor-impor produk yang di hilir. “Kalau bahan baku saya kira itu kan hanya di pabrik. Kalau konsepnya SNI itu kan beredar di pasar. Itulah yang menjadi fokus. Industri yang paling hilir yang menjadi perhatian kita harus SNI. Untuk TKDN juga sudah kita upayakan sehingga produksi itu punya TKDN di atas 40 persen, otomotis pemerintah, BUMN, harus membeli produk-produk yang dihasilkan dari dalam negeri. Itu yang menjadi konsentrasi kita,” kata dia.

Menurut dia, konsep yang dibangun adalah bagaimana utilitas industri ini tetap tumbuh, minimal tidak jatuh. "Jadi kita tumbuh ini karena demand yang ada, juga tetap bergerak,” ujarnya.

Saat ini kata dia, hampir seluruh negara di dunia mengalami pelemahan permintaan produk baja karena dampak Covid-19. Di era pandemi, semua negara berupaya mencari cara agar permintaan di industri baja meningkat. “Kita lihat di Amerika, ada upaya dari industri bajanya menyurati parlemen untuk mengeluarkan semacam infrastruktur bill yang tujuannya mendorong industri baja agar bergerak. Karena hampir seluruh industri (baja) ini mengalami slow down dan kemudian banyak dijumpai tenaga kerja yang mungkin dijaga, agar tidak di-PHK. Ini satu upaya yang besar, jadi distruption dari supply chain secara global,” terangnya

Taufiek menjelaskan, negara-negara yang berkonsentrasi di industri baja, menggunakan skema stimulus untuk membangkitkan industri baja nasional mereka. Dengan skema stimulus ini, diharapkan permintaan baja tumbuh sehingga semua ekosistem ikut bergerak.

“Pemerintah Tiongkok juga sama, pemerintah pusat dan derah, garap proyek pembangunan hampir 13 airport. Kemudian 9 railway. Semua ditujukan untuk membangkitkan (demand baja). Dan estimasi dari proyek yang seperti itu, di Tiongkok itu 21 juta ton dapat terserap di proyek-proyek tersebut,” urainya.

Ia menambahkan, jika dilihat dari peta dunia, 52 persen pengguna baja di sektor konstruksi dan bangunan. Sementara 16 persennya equipment, 12 persennya di otomotif, 10 persen di house hold, dan 3 persen di sektor lainnya seperti alat elektronik. "Ini adalah gambaran besar mengapa infrastruktur menjadi penting untuk di dorong oleh dana pemerintah," kata dia.

Dalam kesempatan yang sama, Vice President PT Tata Metal Lestari, Stephanus Koeswandi, perusahaan penyedia baja lapis zinc aluminium dengan merek Nexalume dan baja tingan TASO, memaparkan strategi pelaku usaha dalam menjaga industri baja nasional dalam percepatan infrastruktur di masa pandemi.

Ia menjelaskan, ada 2 strategi yang dapat dilakukan pengusaha dalam kondisi ini. Pertama strategi bertahan. Caranya menjaga kesehatan dan keamanan kerja di lingkungan industri baja nasional, dan memproteksi industri baja nasional dari baja impor. Semetara strategi maju ke depan menurutnya mempercepat inovasi industri baja, meningkatkan standar, dan memperkuat UMKM khususnya untuk baja konstruksi.

Stephanus menambahkan, baja merupakan Mother of Industry dari sebuah negara. Karenannya ia berharap dukungan untuk dapat menjaga dan meningkatkan standarisasi di industri ini. Salah satunya dengan percepatan kebijakan wajib SNI khususnya untuk profil baja ringan guna melindungi industri baja dalam negeri dari produk impor. "Industri ini ibaratnya sedang tidak sehat sehingga membutuhkan obat untuk jangka pendek seperti safeguard, jangka menengah seperti SNI, dan jangka panjang seperti kepastian energi," kata Stephanus.

Menanggapi hal ini, Kepala Badan Standarisasi Nasional, Kukuh S Achmad menyampaikan, tahun ini masih ada 9 Daftar Program Nasional Regulasi Teknis 2019-2020 terkait baja untuk disahkan. Ia menjelaskan, nantinya jika SNI untuk 9 produk baja tersebut disahkan diharapkan dapat menjawab pelaku industri atas persoalan daya saing. Pasalnya, produk impor memang perlu diatur untuk menjaga produk dalam negeri.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

OJK: Perlambatan Ekonomi RI Tak Seburuk Dibandingkan Negara Lainnya

Indonesia termasuk dari sektor jasa keuangan nampak masih lebih baik.

EKONOMI | 1 Oktober 2020

Aktivitas Manufaktur September Menurun di Tengah PSBB

PMI Indonesia turun dari 50,8 di Agustus menjadi 47,2 di September 2020.

EKONOMI | 1 Oktober 2020

Siang Rupiah Menguat Sejalan Mata Uang Asia

Transaksi rupiah pagi ini diperdagangkan dalam kisaran Rp 14.810-Rp 14.852 per dolar AS.

EKONOMI | 1 Oktober 2020

Bio Farma Kandidat Produsen Vaksin Covid-19 Dunia, Pengamat: Momentum Perkuat Holding Farmasi BUMN

Di kancah internasional, Bio Farma juga menyokong kebutuhan 2/3 kebutuhan vaksin dunia.

EKONOMI | 1 Oktober 2020

Siang Ini, Mayoritas Bursa Asia Menguat

Strait Times Singapura naik 30,3 (1,2 persen) mencapai 2.497,1.

EKONOMI | 1 Oktober 2020

Jeda Siang, IHSG Melonjak 49 Poin ke 4.919

Sebanyak 252 saham naik, 127 saham melemah dan 148 saham stagnan.

EKONOMI | 1 Oktober 2020

BPS: September Masih Terjadi Deflasi 0,05 Persen

Dari 90 kota IHK, 56 kota mengalami deflasi dan 34 kota mengalami inflasi.

EKONOMI | 1 Oktober 2020

Tambah Fitur, Gaji.id Permudah Proses Administrasi HRD

Gaji.id juga dilengkapi face recognition, modul reimbursement, proses absensi dan payroll otomatis, serta dashboard interaktif.

EKONOMI | 1 Oktober 2020

Upacara di Lubang Buaya, Puan Bacakan Ikrar Kesetiaan pada Pancasila

Dengan semangat yang dilandasi Pancasila, bangsa Indonesia tetap dapat memperkokoh tegaknya NKRI.

EKONOMI | 1 Oktober 2020

Emas Antam Turun ke Rp 1,013 juta Per Gram

Harga per 250 gram mencapai Rp 238,515 juta.

EKONOMI | 1 Oktober 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS