Kader Posyandu Dinilai Bisa Turunkan Stunting
INDEX

BISNIS-27 426.538 (11.39)   |   COMPOSITE 4842.76 (103.04)   |   DBX 923.5 (7.76)   |   I-GRADE 127.867 (3.45)   |   IDX30 404.318 (11.17)   |   IDX80 105.647 (2.92)   |   IDXBUMN20 263.312 (10.37)   |   IDXG30 113.239 (2.36)   |   IDXHIDIV20 361.834 (9.72)   |   IDXQ30 118.461 (3.18)   |   IDXSMC-COM 206.934 (3.31)   |   IDXSMC-LIQ 229.9 (5.97)   |   IDXV30 99.778 (3.02)   |   INFOBANK15 760.318 (27.06)   |   Investor33 353.585 (10.19)   |   ISSI 142.238 (2.46)   |   JII 514.346 (9.5)   |   JII70 174.038 (3.75)   |   KOMPAS100 945.162 (25.96)   |   LQ45 740.002 (20.32)   |   MBX 1338.07 (31.05)   |   MNC36 264.409 (7.18)   |   PEFINDO25 251.635 (8.18)   |   SMInfra18 228.656 (4.87)   |   SRI-KEHATI 297.818 (8.93)   |  

Kader Posyandu Dinilai Bisa Turunkan Stunting

Senin, 16 Desember 2019 | 11:10 WIB
Oleh : Whisnu Bagus Prasetyo / WBP

Jakarta, Beritasatu.com – Pemerintah dinilai perlu memberikan perhatian khusus dan langkah konkret terhadap gerakan Pos Pelayanan Kesehatan Terpadu (Posyandu) sebagai ujung tombak menurunkan angka stunting di negeri ini.

Peneliti Kesehatan Masyarakat dari Universitas Indonesia (UI) Dinda Srikandi Radjiman, menilai program Posyandu terbukti berfungsi secara komprehensif sebagai pendeteksi awal, penanganan, pencegahan, serta konsultansi yang dilakukan oleh kader Posyandu. “Artinya, Posyandu merupakan garda terdepan upaya pencegahan stunting. Ini yang perlu dijabarkan dalam rencana aksi secara konkret di lapangan,” papar Dinda Srikandi Radjiman, di Jakarta, Senin (16/12/2019).

Menurut dia, peran strategis Posyandu terbilang sukses di masa sebelum reformasi. Untuk itu tidak ada salahnya jika pemerintahan saat ini mencontoh kiat sukses tersebut. “Perhatian ke Posyandu bisa berupa anggaran memadai untuk menggerakkan program di lapangan. Sebab, jangan salah karena people moved by incentives dari pemerintah,” jelas Dinda Srikandi Radjiman.

Dinda menilai kekuatan utama Posyandu ada di deteksi awal dan kader di lapangan. Deteksi awal itu terkait pemantauan pertumbuhan dan perkembangan bayi seiring berjalannya usia, sehingga masalah atau bila ada abnormalitas pertumbuhan anak di usia 0 - 23 bulan paling utama dapat terdeteksi di Posyandu. “Bayangkan bila tidak terdeteksi, dampaknya akan lebih parah dan berkelanjutan,” jelas Dinda Srikandi Radjiman.

Selain itu, kata dia, kekuatan Posyandu dibanding cara lain karena adanya kader. Perlu diketahui, semua intervensi di Indonesia ini kuncinya penggerak. “Kader adalah aset berharga dalam menyukseskan upaya penurunan stunting. Karena itu, pemerintah harus mulai memikirkan bagaiman reward dan mekanisme insentif yang cukup agar mereka bisa bergerak. Misal memfasilitasi biaya transpor mobilitas untuk mendatangi warga masyarakat di wilayah binaannya,” papar Dinda Srikandi Radjiman.

Masalah stunting dinilai makin krusial sehingga Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan tugas khusus kepada Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto. Bahkan, tidak main-main, Presiden Jokowi menargetkan angka stunting di bawah 16 persen dalam 5 tahun ke depan, jauh di ambang batas Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yaitu 20 persen.

Menanggapi target tersebut, Menkes mengaku sudah melakukan observasi di lapangan dan ternyata solusinya cukup mudah. Program Posyandu harus kembali digiatkan lagi. “Kami senantiasa mendukung apapun yang dibutuhkan. Program promotif preventif menjadi bekal di depan, untuk selalu mencegah penyakit, menggiatkan kembali Posyandu, serta memberikan edukasi kepada masyarakat terutama kasus-kasus stunting,” kata Menkes.

Mengutip data Kementerian Kesehatan, stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan kurangnya asupan gizi dalam waktu cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. Prevalensi stunting Indonesia berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) 2016 mencapai 27,5 persen.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), masalah kesehatan masyarakat dapat dianggap kronis bila prevalensi stunting lebih dari 20 persen. Artinya, secara nasional masalah stunting di Indonesia tergolong kronis, terlebih lagi di 14 provinsi yang prevalensinya melebihi angka nasional.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Sasar Peserta Milenial, BPJS Kesehatan Gandeng Dompet Aman

BPJS Kesehatan menggandeng Dompet Aman untuk memudahkan peserta milenial membayar iuran JKN-KIS.

KESEHATAN | 13 Desember 2019

Dukung Pola Hidup Sehat, Olivoila Gelar 30 Days Challenge

Produsen minyak zaitun Olivoila gelarkan program 30 Days Challenge untuk mendorong masyarakat agar menerapkan diet yang seimbang.

KESEHATAN | 13 Desember 2019

Penggemar Dilan Diajak Dukung Perbaikan Gizi Anak Indonesia

Tango melihat peluang kolaborasi dengan trilogi film Dilan untuk menjangkau kalangan generasi milenial.

KESEHATAN | 12 Desember 2019

4.835 Puskesmas Kekurangan Dokter Gigi

Kementerian Kesehatan (Kemkes) meluncurkan Komite Kesehatan Gigi dan Mulut.

KESEHATAN | 11 Desember 2019

Indonesia Peringkat Ke-3 Kasus TB Tertinggi Dunia

WHO melaporkan Indonesia menduduki posisi ketiga dengan kasus Tuberkulosis (TB) tertinggi di dunia, setelah India dan Tiongkok.

KESEHATAN | 11 Desember 2019

Dibekali AI dan Steam+, Mesin Cuci LG AI DD Lindungi Kesehatan Keluarga

LG Electronics Indonesia dengan bangga memperkenalkan seri mesin cuci front loading AI DD yang berfokus pada perlindungan kesehatan dan higienitas.

KESEHATAN | 10 Desember 2019

Pemberantasan Tuberkulosis di Indonesia Gunakan Model Baru

Stop TB Partnership menggunakan model baru dalam upaya pemberantasan TB di Indonesia.

KESEHATAN | 10 Desember 2019

Bantah Pemerintah, IDI: Ketersediaan Obat HIV/AIDS Belum Tercukupi

“Masyarakat maupun kawan-kawan dokter banyak yang mengeluh terhadap ketersediaan obatnya, yakni ARV," kata Ketum IDI Daeng M. Faqih.

KESEHATAN | 10 Desember 2019

Penderita HIV/AIDS Meningkat Jadi Beban Pemerintah

Sekretaris Ditjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes Agus Hadian Rahim mengatakan peningkatan penderita HIV/AIDS jadi beban masyarakat dan pemerintah.

KESEHATAN | 10 Desember 2019

Layanan MCS Mudahkan Peserta BPJS Kesehatan

BPJS Kesehatan melakukan jemput bola melalui program Mobile Customer Service (MCS).

KESEHATAN | 10 Desember 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS