Menkes Ganti Istilah ODP, PDP, dan OTG untuk Covid-19
INDEX

BISNIS-27 447.461 (-6.35)   |   COMPOSITE 5059.22 (-59.86)   |   DBX 933.73 (-7.01)   |   I-GRADE 135.366 (-2.1)   |   IDX30 427.201 (-7.13)   |   IDX80 111.513 (-1.85)   |   IDXBUMN20 284.629 (-6.37)   |   IDXG30 118.405 (-1.6)   |   IDXHIDIV20 382.903 (-6.43)   |   IDXQ30 125.347 (-2.16)   |   IDXSMC-COM 215.54 (-2.56)   |   IDXSMC-LIQ 243.745 (-4.83)   |   IDXV30 105.043 (-1.69)   |   INFOBANK15 803.622 (-8.33)   |   Investor33 371.182 (-4.92)   |   ISSI 148.056 (-1.95)   |   JII 539.107 (-10.07)   |   JII70 182.679 (-3.16)   |   KOMPAS100 996.599 (-14.96)   |   LQ45 780.316 (-12.34)   |   MBX 1404.61 (-17.5)   |   MNC36 278.843 (-3.77)   |   PEFINDO25 265.576 (-5.11)   |   SMInfra18 242.356 (-5.25)   |   SRI-KEHATI 313.434 (-3.93)   |  

Menkes Ganti Istilah ODP, PDP, dan OTG untuk Covid-19

Selasa, 14 Juli 2020 | 14:45 WIB
Oleh : Dina Manafe / WBP

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto menghapus istilah orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), dan orang tanpa gejala (OTG) untuk mereka yang berisiko maupun sudah terinfeksi Covid-19. Perubahan istilah ini tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan 413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 yang diterbitkan pada Senin, 13 Juli 2020.

Dalam Bab III Kepmenkes ini diatur bahwa istilah ODP, PDP, dan OTG diganti dengan istilah kasus suspek, kasus probable, kasus konfirmasi, dan kontak erat. Selain itu dikenal istilah pelaku perjalanan, discarded, selesai isolasi, dan kematian.

Kasus suspek didefinisikan seseorang yang memiliki salah satu dari tiga kriteria berikut. Pertama, orang dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara/wilayah Indonesia yang melaporkan transmisi lokal.

Kedua, orang dengan salah satu gejala atau tanda ISPA dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi/probable Covid-19. Ketiga, orang dengan ISPA berat atau pneumonia berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit dan tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.

“Istilah PDP saat ini dikenal kembali dengan istilah kasus suspek. Dikatakan ISPA yaitu demam sama atau lebih dari 38 derajat C atau riwayat demam dan disertai salah satu gejala penyakit pernapasan seperti batuk, sesak nafas, sakit tenggorokan, pilek, pneumonia ringan hingga berat,” demikian bunyi Kepmenkes tersebut dikutip Beritasatu.com, Selasa (14/7/2020).

Kemudian kasus probable didefinisikan sebagai kasus suspek dengan ISPA berat/ARDS atau meninggal dengan gambaran klinis yang meyakinkan Covid-19 dan belum ada hasil pemeriksaan laboratorium RT-PCR.

Sementara kasus konfirmasi adalah seseorang yang dinyatakan positif terinfeksi virus Covid-19 yang dibuktikan dengan pemeriksaan laboratorium RT-PCR. Kasus konfirmasi dibagi menjadi dua, yaitu kasus konfirmasi dengan gejala (simptomatik), dan kasus konfirmasi tanpa gejala (asimptomatik).

Kasus kontak erat adalah orang yang memiliki riwayat kontak dengan kasus probable atau konfirmasi Covid-19.

Riwayat kontak yang dimaksud antara lain, kontak tatap muka atau berdekatan dengan kasus probable atau kasus konfirmasi dalam radius 1 meter dan dalam jangka waktu 15 menit atau lebih. Ada sentuhan fisik langsung dengan kasus probable atau konfirmasi, seperti bersalaman, berpegangan tangan, dan lain-lain.

Kemudian mereka yang memberikan perawatan langsung terhadap kasus probable atau konfirmasi tanpa menggunakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai standar. Situasi lainnya yang mengindikasikan adanya kontak berdasarkan penilaian risiko lokal yang ditetapkan oleh tim penyelidikan epidemiologi setempat,” bunyi aturan tersebut. "Pada kasus probable atau konfirmasi yang bergejala, untuk menemukan kontak erat periode kontak dihitung dari 2 hari sebelum kasus timbul gejala dan hingga 14 hari setelah kasus timbul gejala," kata Kepemenkes ini.

Sedangkan pada kasus konfirmasi yang tidak bergejala untuk menemukan kontak erat periode kontak dihitung dari 2 hari sebelum dan 14 hari setelah tanggal pengambilan spesimen kasus konfirmasi.

Istilah lain yang juga diatur dalam Kepmenkes ini, yaitu pelaku perjalanan. Istilah ini digunakan untuk seseorang yang melakukan perjalanan dari dalam negeri (domestik) maupun luar negeri pada 14 hari terakhir.

Sedangkan istilah discarded adalah apabila seseorang memenuhi salah satu kriteria berikut. Pertama, seseorang dengan status kasus suspek dengan hasil pemeriksaan RT-PCR 2 kali negatif selama 2 hari berturut-turut dengan selang waktu di atas 24 jam. Kedua, seseorang dengan status kontak erat yang telah menyelesaikan masa karantina selama 14 hari.

Sementara istilah selesai isolasi adalah apabila memenuhi salah satu kriteria berikut. Pertama, kasus konfirmasi tanpa gejala yang tidak dilakukan pemeriksaan lanjutan RT-PCR dengan ditambah 10 hari isolasi mandiri sejak pengambilan spesimen diagnosis konfirmasi. Kedua, kasus probable/kasus konfirmasi dengan gejala yang tidak dilakukan pemeriksaan lanjutan RT-PCR dihitung 10 hari sejak tanggal onset dengan ditambah minimal 3 hari setelah tidak lagi menunjukkan gejala demam dan gangguan pernapasan.

Ketiga, kasus konfirmasi dengan gejala yang mendapatkan hasil pemeriksaan lanjutan RT-PCR 1 kali negatif, dengan ditambah minimal 3 hari setelah tidak lagi menunjukkan gejala demam dan gangguan pernapasan.



Sumber:BeritaSatu.com

TAG: 


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Sepekan Terakhir, Pasien RSD Wisma Atlet Tembus 1.000 Orang

Pasien RSD Wisma Atlet terus meningkat cukup pesat sejak 20 Juni 600-an pasien. Pada tanggal 9 Juli ke atas pasien sudah mencapai 1000 hingga 1.100 pasien.

KESEHATAN | 14 Juli 2020

WHO: Banyak Negara Menuju ke Jalan yang Salah

Menurut data WHO, AS dan Brasil mencatat 111.319 kasus pada hari Minggu lalu, kira-kira setengah dari angka resmi yang dilaporkan negara-negara ke WHO.

KESEHATAN | 14 Juli 2020

Batasan Tarif Rapid Test Berlaku untuk Semua RS

Batasan harga tertinggi ini juga bertujuan untuk menciptakan kewajaran harga sehingga tidak terjadi komersialisasi.

KESEHATAN | 13 Juli 2020

Terdesak Ekonomi, Masyarakat Lalai Terapkan Protokol Kesehatan

Sampai saat ini, belum semua masyarakat Indonesia menyadari pentingnya mematuhi protokol kesehatan.

KESEHATAN | 13 Juli 2020

Kemkes Patok Tarif Rapid Test, Rumah Sakit Minta Masa Transisi

Merespons penetapan Kemkes soal batas atas harga "rapid test" ini, sebagian besar RS meminta diberikan waktu atau masa transisi untuk menyesuaikan.

KESEHATAN | 13 Juli 2020

Hari Ini, Jumlah Sembuh dari Covid-19 Kembali di Atas 1.000

Pasien Covid-19 yang sembuh kembali mencatatkan jumlah di atas 1.000 pada Senin (13/7/2020) atau tepatnya 1.051.

KESEHATAN | 13 Juli 2020

Update Covid-19: Tambah 1.282, Kasus Positif Jadi 76.981

Pada Senin (13/7/2020), terdapat penambahan kasus positif Covid-19 sebanyak 1.282. Sehingga total kasus positif Covid-19 di Indonesia menjadi 76.891.

KESEHATAN | 13 Juli 2020

Waduh! Ternyata Pasien Aktif Covid-19 di RI 111 Kali Lipat dari Tiongkok

Jumlah kasus aktif Covid-19 di Indonesia berada di urutan ke-17 dari seluruh negara di dunia.

KESEHATAN | 13 Juli 2020

Face Shield Tak Cukup Melindungi dari Covid-19

Face shield hanya mampu melindungi penggunanya dari droplet yang besar, tetapi tidak menjamin partikel micro droplet tidak terhirup mulut atau hidung.

KESEHATAN | 12 Juli 2020

IDI: 60 Dokter Indonesia Telah Gugur Melawan Covid-19

Beberapa sebab yang menyebabkan itu adalah minimnya alat pelindung diri, tidak ada screening pasien, dan alur layanan untuk Covid-19 yang tidak dibedakan.

KESEHATAN | 12 Juli 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS