BPJS Kesehatan Proyeksi Surplus Rp 2,5 T di Akhir Tahun
INDEX

BISNIS-27 510.175 (-4.52)   |   COMPOSITE 5783.33 (-30.91)   |   DBX 1064.04 (3.36)   |   I-GRADE 168.858 (-1.83)   |   IDX30 499.932 (-5.86)   |   IDX80 131.904 (-1.28)   |   IDXBUMN20 373.781 (-4.23)   |   IDXG30 136.463 (-1.3)   |   IDXHIDIV20 450.262 (-4.56)   |   IDXQ30 146.101 (-1.65)   |   IDXSMC-COM 248.411 (0.47)   |   IDXSMC-LIQ 303.864 (-0.02)   |   IDXV30 127.988 (-1.07)   |   INFOBANK15 983.467 (-6.57)   |   Investor33 429.105 (-4.31)   |   ISSI 169.797 (-1.06)   |   JII 620.069 (-7.76)   |   JII70 213.196 (-1.92)   |   KOMPAS100 1177.3 (-9.25)   |   LQ45 920.112 (-9.23)   |   MBX 1606.46 (-11.24)   |   MNC36 321.125 (-3.4)   |   PEFINDO25 316.867 (1.18)   |   SMInfra18 295.49 (-3.75)   |   SRI-KEHATI 366.206 (-4)   |  

BPJS Kesehatan Proyeksi Surplus Rp 2,5 T di Akhir Tahun

Senin, 21 September 2020 | 05:02 WIB
Oleh : Dina Manafe / WBP

Jakarta, Beritasatu.com - BPJS Kesehatan (BPJSK) memproyeksikan dana jaminan sosial (DJS) yang dikelolanya akan surplus sebesar Rp 2,5 triliun pada akhir tahun ini. Hal ini dikarenakan rasio klaim mengalami penurunan yang di antaranya dipengaruhi kondisi pandemi Covid-19. BPJS Watch berharap dengan surplus ini pelayanan untuk peserta semakin ditingkatkan.

Dihubungi Suara Pembaruan, Minggu (20/9), Koordinator Advokasi BPJS Watch Timboel Siregar mengatakan, jika dilihat dari rencana kerja anggaran tahunan (RKAT) BPJSK 2020, memang surplus. Pengeluaran untuk membayar biaya klaim manfaat lebih kecil dibanding penerimaan, sehingga masih ada selisih anggaran DJS. Beban biaya manfaat menurun karena banyak peserta takut berobat ke fasilitas kesehatan (faskes) selama pandemi.

Meskipun, menurut dia, ada potensi penerimaan yang menurun selama pandemi Covid-19 karena daya beli sebagian peserta yang menurun. Utamanya pada segmen peserta mandiri atau pekerja bukan penerima upah (PBPU) dan bukan pekerja (BU) serta pekerja penerima upah (PPU) Badan Usaha (BU) akibat banyak yang dirumahkan tanpa upah, pengurangan upah oleh perusahaan, dan lain lain. Sumber penerimaan yang tetap stabil berasal dari penerima bantuan iuran (PBI) yang dibiayai pemerintah dari APBN sebesar Rp 48,7 triliun lebih di mana sebagian dana ini sudah dibayarkan di muka untuk menjaga cash flow BPJSK. Belum lagi PBI APBD sekitar Rp15 triliun, kemudian PPU pemerintah sekitar Rp 25 triliun.

"Meski ada penurunan penerimaan dari peserta PPU BU dan mandiri, tetapi kekurangan ini diimbangi dengan beban biaya manfaat yang menurun di masa pandemi ini. Jadi saya sih prediksi surplus," kata Timboel.

Menurut Timboel, surplus ini jangan hanya sekadar proyeksi tetapi benar benar direalisasikan. Timboel menyarankan BPJSK harus tetap menagih utang iuran dari peserta. Terutama ke perusahaan untuk segmen PPU BU yang ditargetkan total penerimaan iurannya selama setahun sebesar Rp 31 triliun.

Namun, Timboel mengingatkan potensi surplus ini tidak kemudian membuat terlena. Karena beban biaya manfaat bakal kembali meningkat pascapandemi Covid-19. Peserta yang tadinya takut ke faskes karena takut, akan kembali normal setelah pandemi ini menurun. Hal ini terbukti dari tingkat hunian rumah sakit selama pandemi yang menurun drastis. Saat pandemi ini mulai berkurang, selain jumlah kunjungan pasien ke faskes melonjak, banyak kasus komplikasi yang akan memberatkan pembiayaan JKN-KIS.

Sebelumnya, Dirut BPJS Kesehatan Fahmi Idris mengatakan, di akhir 2020 program JKN-KIS diperkirakan surplus Rp 2,5 triliun. "Surplus ini sudah memperhitungkan dampak pandemi Covid-19, biaya untuk bayi baru lahir dengan tindakan, dan asumsi penundaan iuran PPU BU," kata Fachmi saat rapat dengar pendapat dengan Komisi IX DPR, Jumat (17/9).

Namun, menurut Fachmi, proyeksi surplus ini tergantung perkembangan penerimaan dan pengeluaran setiap bulannya. Fachmi menjelaskan, di 2020 BPJSK memastikan total penerimaan dan pengeluaran mendekati angka RKAT. Adapun penerimaan dalam RKAT 2020 adalah sebesar Rp 134,8 triliun, tetapi diproyeksikan akan mencapai Rp 130,719 triliun hingga akhir tahun. Sedangkan pengeluaran sebesar Rp 132,4 triliun, tetapi diproyeksikan akan terealisasi hingga akhir tahun sebesar Rp 128,2 triliun. Sehingga ada selisih atau surplus Rp 2 triliun lebih.

"Karena dengan adannya kondisi jumlah penurunan kunjungan ke faskes selama pandemi Covid-19 ini, namun demikian dalam satu bulan terakhir ini sudah mulai menunjukkan angka kembali melandai dan kemungkinan akan kembali ke kondisi sebelumnya," kata Fachmi.

Ketua Dewan Pengawas BPJS Kesehatan, Chairul Radjab mengatakan, berdasarkan hasil pengawasan, pihaknya menemukan pembayaran klaim ke rumah sakit saat ini memang tepat waktu. Namun ia mengingatkan bahwa biaya manfaat atau pelayanan di rumah sakit masih tetap tinggi, meskipun utilisasi kunjungan pasien ke faskes selama pandemi ini menurun.

"Dari data yang kami lihat memang terjadi penurunan ratio klaim dari BPJSK namun bersifat insidental, artinya pas masa pandemi Covid-19 dan adanya kenaikan iuran. Penurunan ratio klaim dibandingkan Februari 2020 dan Juli 2020 hanya turun 4 persen, artinya bahwa walaupun kedatangan pasien di rumah sakit berkurang tapi biaya manfaatnya cukup besar," kata Chairil.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Rumah Sakit Tidak Siap

Rumah sakit jangan dijadikan garda terdepan dalam penanganan Covid-19, karena kapasitas rumah sakit tidak akan bisa mengatasi lonjakan angka positif Covid.

KESEHATAN | 21 September 2020

Dua Hari, Kasus Positif Covid-19 di DIY Naik Tajam

Dalam dua hari terakhir, Sabtu-Minggu (19-20/09/2020) tambahan kasus harian Covid-19 di DI Yogyakarta meningkat tajam.

KESEHATAN | 20 September 2020

Indonesia Mulai Masuki Periode Aging Population

Indonesia mulai memasuki periode aging population, dimana terjadi peningkatan umur harapan hidup yang diikuti dengan peningkatan jumlah lansia.

KESEHATAN | 20 September 2020

Update Covid-19: Tambah 3.989, Kasus Positif di Indonesia Jadi 244.676

Kasus sembuh dari Covid-19 terdapat penambahan sebanyak 2.977 menjadi total 177.327.

KESEHATAN | 20 September 2020

Kenali Lima Faktor Risiko Penyakit Jantung

Gejala klinis penyakit jantung pada umumnya ditandai dengan nyeri dada

KESEHATAN | 19 September 2020

Bima Arya Doakan Rektor IPB yang Positif Covid-19 Segera Pulih

Dinas Kesehatan Kota Bogor berkoordinasi dengan pihak IPB melakukan tracing.

KESEHATAN | 19 September 2020

Setelah Arief Budiman, Komisioner KPU Pramono Juga Positif Covid-19

Pramono menjadi komisioner ketiga KPU yang terinfeksi Covid-19, setelah Arief Budiman dan Eva Novida Ginting Manik.

KESEHATAN | 19 September 2020

Pecah Rekor, Ini Sebaran Kasus Baru Covid-19

DKI Jakarta masih menjadi provinsi terbanyak kasus baru Covid-19 dengan jumlah penambahan hari ini sebanyak 988 (total menjadi 60.828).

KESEHATAN | 19 September 2020

Tambah 4.168, Kasus Baru Covid-19 Pecah Rekor

Penambahan kasus baru Covid-19 ini memecahkan rekor yang sebelumnya terjadi pada 16 September 2020 sebanyak 3.963.

KESEHATAN | 19 September 2020

Waspada Jika Alami Nyeri Dada

Gejala klinis penyakit jantung pada umumnya ditandai dengan nyeri dada.

KESEHATAN | 19 September 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS