Meski Bebas Bersyarat, Meiliana Tetap Bantah Menista Agama
INDEX

BISNIS-27 447.922 (0.22)   |   COMPOSITE 5096.45 (-4.63)   |   DBX 966.383 (0.26)   |   I-GRADE 139.404 (0.54)   |   IDX30 427.333 (0.82)   |   IDX80 113.424 (-0.07)   |   IDXBUMN20 292.954 (-1.76)   |   IDXG30 119.109 (0.49)   |   IDXHIDIV20 379.033 (0.39)   |   IDXQ30 124.381 (0.25)   |   IDXSMC-COM 220.154 (-1.19)   |   IDXSMC-LIQ 258.539 (-0.54)   |   IDXV30 108.161 (-0.91)   |   INFOBANK15 830.634 (2.07)   |   Investor33 372.738 (0.67)   |   ISSI 150.924 (0.03)   |   JII 548.46 (1.53)   |   JII70 187.38 (0.16)   |   KOMPAS100 1019.47 (0.03)   |   LQ45 787.196 (1.37)   |   MBX 1409.36 (-1.53)   |   MNC36 279.413 (0.25)   |   PEFINDO25 280.307 (-3.18)   |   SMInfra18 241.86 (0.29)   |   SRI-KEHATI 315.824 (0.31)   |  

Meski Bebas Bersyarat, Meiliana Tetap Bantah Menista Agama

Kamis, 23 Mei 2019 | 22:19 WIB
Oleh : Arnold H Sianturi / WBP

Medan, Beritasatu.com - Terpidana kasus penistaan agama, Meiliana, akan tetap mengajukan peninjauan kembali (PK) meski pembebasan bersyaratnya sudah dikabulkan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS) Kementerian Hukum dan HAM (Kemkumham).

"Meiliana sudah bebas bersyarat dari LP Tanjung Gusta Medan, Selasa (21/5/2019) kemarin. Pengajuan PK karena Meiliana tidak merasa melakukan penistaan agama," ujar kuasa hukum Meiliana, Ranto Sibarani, Kamis (23/5/2019).

Ranto Sibarani mengatakan, bebas bersyarat merupakan hak setiap warga binaan (tahanan), sebagaimana diatur dalam Pasal 15 ayat (1) KUHP. Meiliana sudah menjalani 2/3 hukuman dari hukuman yang diberikan. "Meiliana dinyatakan hakim bersalah menista agama dan dihukum penjara selama 1,5 tahun. Kemudian, Meiliana sudah ditahan selama 11 bulan, terhitung sejak Mei 2018 sampai April 2019," kata Ranto Sibarani.

Menurutnya, bebas bersyarat terhadap Meiliana tidak melanggar aturan dalam perundang-undangan. Sebaliknya, dalam KUHP jelas disebutkan, setiap orang yang sudah menjalankan hukumannya 2/3 atau minimal 9 bulan, bisa mengajukan bebas bersyarat. "Kita mengikuti aturan dengan mengajukan permohonan bebas bersyarat untuk Meilana. Pengajuan ini kemudian dikabulkan Dirjen PAS Kementerian Hukum dan HAM. Meiliana akhirnya menghirup udara segar," jelas Ranto Sibarani.

Disebutkan, dalam kasus penistaan agama, Meiliana tetap menolak tuduhan tersebut. Meiliana sempat mengajukan banding ke pengadilan tinggi (PT) atas vonis 1,5 tahun penjara itu. Namun, banding itu ditolak.

Meiliana melalui kuasa hukumnya kembali mengajukan kasasi di tingkat Mahkamah Agung (MA). Namun, perjuangannya itu kembali ditolak oleh majelis hakim yang terdiri dari ketua Desnayeti serta dua anggota Gazalba Saleh dan Sofyan Sitompul.

Meiliana tetap dinyatakan bersalah seperti vonis hakim pengadilan negeri (PN) Medan. Kendati demikian, Meiliana tidak mau menyerah dan akan mengajukan PK untuk kasus yang dihadapinya, sejak Juli 2016 lalu.

Menurut Ranto Sibarani, Meiliana tidak pantas dihukum meski itu hanya satu hari. Sebab, kliennya tidak melakukan penistaan agama. Sebaliknya, Meiliana merupakan korban ketidakadilan atas tuduhan melakukan penistaan agama di tahun 2016 lalu tersebut.

"Dia korban verbal massa. Bahkan, satu keluarga mereka menjadi trauma atas kejadian tersebut. Saat kejadian, rumahnya dilempari sampai hancur. Ada sekelompok orang yang melakukan penjarahan. Dalam kasus ini, Meiliana seharusnya korban," ungkap Ranto Sibarani.

Ditambahkan, adanya provokasi dari pihak tertentu yang mengakibatkan kejadian itu sampai berujung pada pembakaran belasan vihara di Tanjung Balai. Massa yang turun ke jalanan mencapai ribuan orang. Mereka melempari vihara menggunakan batu yang kemudian membakarnya.

"Awal dari peristiwa ini sepele. Meiliana menyampaikan kepada tetangga, bahwa suara azan dari masjid lebih deras dari biasanya. Jarak rumahnya dari masjid hanya sekitar 7 meter. Dia tidak melarang suara azan berkumandang. Itupun disampaikan kepada Kak Uwo tetangganya, bukan bertujuan disampaikan untuk umum," ungkap Ranto Sibarani.

Sayangnya setelah menyampaikan itu, tetangganya itu memberitahukan kepada adiknya, kemudian dilanjutkan dengan orangtuanya. Setelah kejadian itu, informasi miring kemudian menyebar, menyebutkan Meiliana melakukan pelecehan dan menistakan agama.

Dalam sidang yang diketuai hakim PN Medan, Wahyu Prasetyo Wibowo, Rabu (8/8/2018) lalu, Meiliana membantah tuduhan melakukan penistaan agama. Dia menganggap dirinya tidak bersalah. Kasus itu membuat dirinya beserta keluarga mengalami trauma.

Meiliana mengungkapkan, dirinya tidak pernah meminta volume azan dari masjid supaya dikecilkan. Meiliana juga tidak menyampaikan ke Kak Uwo supaya memberitahukan kepada Pak Makmur, supaya mengecilkan volume. Dia hanya menyampaikan bahwa suara azan yang didengar itu lebih deras dari biasanya.

Dalam dakwaan jaksa, Meiliana dianggap melanggar Pasal 156 dan Pasal 156a huruf a KUHAPidana tentang permusuhan, kebencian dan penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia, pada 22 Juli 2016 lalu.

Hakim Pengadilan Negeri Medan, Wahyu Prasetyo Wibowo, Selasa (21/8), akhirnya menjatuhkan vonis terhadap Meiliana dengan hukuman 18 bulan penjara.



Sumber:Suara Pembaruan


BAGIKAN




BERITA LAINNYA

Bahtiar Meninggal dalam Aksi 22 Mei, Keluarga Tuntut Keadilan

"Keluarga minta kasusnya jangan ditutup-tutupi, biar ada keadilan."

NASIONAL | 23 Mei 2019

Pembayaran Tol di GT Cikarang Utama Ditiadakan

Gerbang tol kalihurip utama merupakan pengganti GT Cikarang Utama.

NASIONAL | 23 Mei 2019

Besok, KPK Kembali Periksa Sofyan Basir

KPK mengingatkan Sofyan Basir untuk kooperatif dengan memenuhi panggilan pemeriksaan besok.

NASIONAL | 23 Mei 2019

Ini Kronologi Polisi Sita Ambulans Berlogo Gerindra Berisi Batu

Mobil itu tidak ada perlengkapan medis, minimal kotak P3K.

NASIONAL | 23 Mei 2019

Saleh Husin: P3CR UI Mengemban Amanat Mulia

Pemilihan rektor sendiri, akan digelar pada 25 September 2019, setelah melalui masa pendaftaran sepanjang 10 Juli hingga 2 Agustus 2019.

NASIONAL | 23 Mei 2019

Ini Pernyataan Sikap Relawan Jokowi Terkait Aksi 22 Mei

ReJo mendukung aparat keamanan Polri dan TNI menegakkan ketertiban umum diseluruh wilayah NKRI

NASIONAL | 23 Mei 2019

Baru Selesai Dihitung, Uang Dalam Amplop Bowo Sidik Rp 8,45 Miliar

Dari total 85 kardus dan 2 kontainer plastik tersebut KPK amankan uang total Rp 8,45 miliar

NASIONAL | 23 Mei 2019

BNN Tes Urine 120 Sopir Angkutan Lebaran

Kelimanya langsung diboyong ke Kantor BNN.

NASIONAL | 23 Mei 2019

Ombudsman Tak Masalah Pemerintah Batasi Medsos Saat Kerusuhan

Pembatasan terhadap media sosial dilakukan untuk meminimalisir dampak buruk saat kerusuhan.

NASIONAL | 23 Mei 2019

Kerusuhan 6 Tewas, Ombudsman Bakal Panggil Polri

Kalau hanya menggunakan peluru hampa dan peluru karet kenapa jatuh korban.

NASIONAL | 23 Mei 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS