24 Juta Siswa Berpotensi Putus Sekolah karena Covid-19
INDEX

BISNIS-27 446.563 (0.9)   |   COMPOSITE 5038.4 (20.82)   |   DBX 922.546 (11.18)   |   I-GRADE 135.148 (0.22)   |   IDX30 424.72 (2.48)   |   IDX80 110.692 (0.82)   |   IDXBUMN20 282.764 (1.87)   |   IDXG30 117.102 (1.3)   |   IDXHIDIV20 380.385 (2.52)   |   IDXQ30 124.37 (0.98)   |   IDXSMC-COM 213.267 (2.27)   |   IDXSMC-LIQ 240.075 (3.67)   |   IDXV30 104.022 (1.02)   |   INFOBANK15 809.007 (-5.39)   |   Investor33 370.782 (0.4)   |   ISSI 146.581 (1.48)   |   JII 534.734 (4.37)   |   JII70 181.171 (1.51)   |   KOMPAS100 994.168 (2.43)   |   LQ45 775.543 (4.77)   |   MBX 1400.42 (4.19)   |   MNC36 279.01 (-0.17)   |   PEFINDO25 262.474 (3.1)   |   SMInfra18 238.826 (3.53)   |   SRI-KEHATI 314.013 (-0.58)   |  

24 Juta Siswa Berpotensi Putus Sekolah karena Covid-19

Rabu, 16 September 2020 | 07:11 WIB
Oleh : Whisnu Bagus Prasetyo / WBP

Paris, Beritasatu.com - Direktur Eksekutif Dana Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atauUnited Nations Children’s Fund Henrietta Fore mengatakan, pandemi corona (Covid-19) telah membuat darurat pendidikan global yang mengancam setidaknya 24 juta siswa putus sekolah.

"Pada puncak Covid-19, 192 negara menutup sekolah yang menyebabkan 1,6 miliar siswa tidak belajar secara langsung," kata Fore dalam konferensi pers virtual yang diselenggarakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).

Dia menambahkan saat ini sekitar 870 juta siswa, atau setengah dari populasi pelajar di 51 negara dunia belum dapat kembali ke sekolah. Semakin lama anak-anak tidak bersekolah, semakin kecil kemungkinan mereka untuk kembali,” katanya.

Untuk itu, PBB mendesak pemerintah untuk memprioritaskan pembukaan sekolah ketika pembatasan dicabut.

Selain pendidikan, dia menambahkan, sekolah-di seluruh dunia menyediakan sumber nutrisi dan imunisasi kepada siswa. “Setidaknya 24 juta anak diproyeksikan putus sekolah karena Covid-19,” katanya.

Saat pandemi merebak, banyak sekolah beralih ke pendidikan virtual untuk menggantikan belajar tatap muka. Pakar pendidikan yang mengakui kekurangan belajar virtual mengatakan bahwa hal itu tidak dapat menggantikan sekolah tatap muka.

Fore mengatakan bahwa lebih 460 juta siswa di seluruh dunia tidak memiliki akses internet, komputer, atau perangkat seluler untuk berpartisipasi dalam belajar virtual saat sekolahnya ditutup. “Kami tahu bahwa menutup sekolah untuk waktu yang lama (memiliki) konsekuensi yang menghancurkan anak-anak,” katanya.

Dia mengatakan, anak-anak menjadi lebih rentan terhadap kekerasan fisik dan emosional. Selain itu, kesehatan mental mereka terpengaruh. "Mereka lebih rentan terhadap pelecehan seksual, dan kecil kemungkinannya untuk keluar dari siklus kemiskinan,” kata dia.

Pembukaan kembali sekolah telah menjadi masalah utama, terutama di AS, di mana Presiden Donald Trump mendorong untuk membuka kembali sekolah di tengah penyebaran virus di masyarakat.

Pejabat kesehatan masyarakat menekankan pentingnya membuka kembali sekolah tatap muka, tetapi mengakui bahwa virus menimbulkan risiko bagi kaum muda.

Meski orang muda biasanya tidak sakit karena Covid-19 seperti orang tua, konsekuensi kesehatan jangka panjang infeksi Covid-19 pada orang muda masih diteliti. Pasalnya, beberapa orang muda meninggal karena penyakit tersebut.

Penasihat virus corona Gedung Putih Dr. Anthony Fauci, mengatakan cara terbaik untuk membuka kembali sekolah adalah dengan menahan virus di masyarakat.

Direktur Jenderal UNESCO Audrey Azoulay pada Selasa (15/9/2020) mengatakan membuka kembali sekolah dengan aman dengan protokol baru sangat dimungkinkan. Solusinya memberikan peran dan pelatihan guru.

UNESCO, UNICEF, dan WHO bersama-sama menerbitkan dokumen setebal 10 halaman pada Senin yang menguraikan pedoman membuka kembali dan mengoperasikan sekolah selama pandemi. “Sangat penting bahwa pendidikan dan kesehatan bekerja sama erat untuk memastikan bahwa sekolah dibuka kembali dengan aman," katanya.

“Saat kita berurusan dengan pendidikan, keputusan yang kita buat hari ini akan berdampak pada dunia masa depan.”

Pedoman badan Perserikatan Bangsa-Bangsa merinci sejumlah tindakan yang harus dipertimbangkan oleh komunitas, sekolah, ruang kelas, dan individu ketika memutuskan membuka kembali sekolah. Beberapa langkah kebijakan mendorong siswa untuk tinggal di rumah jika mereka yakin telah terpapar virus. Sekolah memastikan ventilasi yang memadai di ruang kelas.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada Selasa mengatakan bahwa masih banyak pertanyaan bagaimana virus menular pada anak-anak. Dia menegaskan kembali bahwa virus dapat membunuh anak-anak, meski jarang terjadi. Namun anak-anak bisa terinfeksi dan menyebarkan virus kepada orang lain.

Tedros menambahkan bahwa diperlukan lebih banyak penelitian untuk mempelajari apa yang meningkatkan risiko kematian pada anak-anak serta potensi komplikasi kesehatan jangka panjang akibat Covid-19.

Tedros mengatakan bahwa risiko membuka kembali sekolah di tengah pandemi akan ditentukan oleh kemampuan masing-masing komunitas untuk mengendalikan virus melalui langkah-langkah kesehatan masyarakat seperti pemakaian masker, jarak sosial, pengujian, penelusuran, dan isolasi.



Sumber:CNBC


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Gelar Baksos, PIA DPR Sumbang Wastafel untuk Kompleks Parlemen

Baksos ini bertujuan mengajak seluruh pegawai di lingkungan DPR bersisiplin menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19.

NASIONAL | 16 September 2020

Dana Desa Naik Tipis, Ini Arahan Mendes ke Kades

Mendes meminta kepala desa maksimal dalam menggunakan uang negara dan mengacu pada 17 tujuan pembangunan berkelanjutan dalam penggunaannya.

NASIONAL | 16 September 2020

Ganjar Siap Fasilitasi Balap Lari yang Viral agar Tak Liar

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo turut menanggapi aksi balap lari liar yang terjadi di Kota Semarang baru-baru ini.

NASIONAL | 15 September 2020

Wiku Tegaskan Perlu Sinergisitas antara DKI Jakarta dan Bodetabek untuk Kendalikan Covid-19

Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menegaskan, DKI Jakarta perlu menjalin sinergisitas dengan daerah-daerah tetangganya

NASIONAL | 15 September 2020

Hendi-Ita Siap Patuhi Aturan Baru Kampanye

Pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Semarang Hendrar Prihadi dan Hevearita Gunaryanti Rahayu (Hendi-Ita) siap mengikuti aturan baru kampanye

NASIONAL | 15 September 2020

Bawaslu: Belum Ada Dasar Hukum Kuat Tindak Cakada Langgar Protokol Kesehatan

Ketua Bawaslu Provinsi Bengkulu, Parsadaan Harahap menegaskan, sampai saat ini belum ada dasar hukum kuat untuk menindak tegas para calon kepala daerah

NASIONAL | 15 September 2020

Rumah Sakit di Bengkulu Siap Tampung Pasien Covid-19

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bengkulu, Herwan Antoni mengatakan, rumah sakit rujukan Covid-19 di daerah ini siap menampung dan merawat pasien Covid-19.

NASIONAL | 15 September 2020

FSGI: Jangan Batasi Penggunaan Subsidi Kuota Internet

Bebaskan penggunaan seperti untuk akses Google, Youtube, dan WhatsApp karena aplikasi ini sangat dibutuhkan oleh guru, siswa, mahasiswa, dan dosen.

NASIONAL | 15 September 2020

Bobby Nasution: Kolaborasi Antarumat Jadi Modal Besar Pembangunan

Bakal calon Wali Kota Medan, Bobby Afif Nasution mengatakan, kolaborasi antarumat beragama bisa menjadi modal besar dalam mempercepat pembangunan Kota Medan

NASIONAL | 15 September 2020

Tim Kajian Pangan Lemhannas Bertemu Jokowi

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyambut baik usulan untuk mengubah budaya pertanian menuju mekanisasi yang modern

NASIONAL | 15 September 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS