Pengembangan Mobil Listrik Sangat Bergantung pada Pajak
INDEX

BISNIS-27 426.538 (7.46)   |   COMPOSITE 4842.76 (69.8)   |   DBX 923.5 (3.46)   |   I-GRADE 127.867 (2.29)   |   IDX30 404.318 (7.37)   |   IDX80 105.647 (1.88)   |   IDXBUMN20 263.312 (7.44)   |   IDXG30 113.239 (1.72)   |   IDXHIDIV20 361.834 (6.55)   |   IDXQ30 118.461 (2.16)   |   IDXSMC-COM 206.934 (2.4)   |   IDXSMC-LIQ 229.9 (3.66)   |   IDXV30 99.778 (2.04)   |   INFOBANK15 760.318 (19)   |   Investor33 353.585 (6.67)   |   ISSI 142.238 (1.59)   |   JII 514.346 (5.58)   |   JII70 174.038 (2.42)   |   KOMPAS100 945.162 (17.43)   |   LQ45 740.002 (13.25)   |   MBX 1338.07 (21.42)   |   MNC36 264.409 (4.88)   |   PEFINDO25 251.635 (5.6)   |   SMInfra18 228.656 (3.16)   |   SRI-KEHATI 297.818 (5.94)   |  

Pengembangan Mobil Listrik Sangat Bergantung pada Pajak

Kamis, 24 Januari 2019 | 19:59 WIB
Oleh : Herman / WBP

Jakarta - Peraturan Presiden (Perpres) yang mengatur industri mobil listrik di Indonesia akan keluar dalam waktu dekat. Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie D. Sugiarto menanggapi positif langkah yang diambil pemerintah tersebut. Jongkie berharap ada aturan yang lebih khusus terkait pajak, sebab pengembangan mobil listrik bergantung besaran pajak yang dikenakan.

"Kendaraan listrik yang termasuk dalam Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) itu dari negara asalnya memang sudah mahal. Makanya perlu dibuat aturan khusus atau harmonisasi pajak supaya harganya bisa lebih terjangkau. Bila tidak, mobil listrik akan sulit berkembang di Indonesia karena harganya yang sangat tinggi," kata Jongkie D. Sugiarto, di Jakarta, Kamis (24/1).

Dalam peta jalan (roadmap) pengembangan industri otomotif nasional, salah satu fokus pemerintah adalah memacu produksi kendaraan emisi karbon rendah atau LCEV, termasuk kendaraan listrik. Targetnya pada tahun 2025, populasi mobil listrik diperkirakan tembus 20 persen atau sekitar 400.000 unit dari dua juta mobil yang diproduksi di dalam negeri. Menurut Jongkie, target tersebut sulit terealisasi apabila tarif pajak mobil listrik tidak diturunkan.

"Sebenarnya hampir semua merek sudah punya kendaraan LCEV. Tetapi mereka masih menunggu kejelasan tarif pajaknya. Kalau sudah diumumkan, mereka kan bisa mulai menghitung bagaimana peluang bisnisnya. Tapi, kalau pajaknya masih tinggi seperti sekarang, mereka tidak akan berani (memasarkan). Target populasi 20 persen juga bakal sulit dicapai," ungkap Jongkie.

Selain masalah perpajakan, penyediaan infrastruktur seperti stasiun pengisian listrik umum (SPLU) juga menjadi hal penting. Tetapi menurut Jongkie, penyediaan fasilitas ini sebaiknya tidak dibebankan kepada pemerintah. Pihak swasta bisa mengambil peran dalam penyediaan charging station di tempat-tempat umum.

"Kalau ingin mobil listrik bisa berkembang, charging station harus ada di mana-mana. Serahkan saja ke swasta, tapi pemerintah juga perlu memberikan dukungan. Misalnya membebaskan bea masuk untuk alat charging-nya. Jadi nanti di setiap perkantoran, hotel, mall, itu ada charging station. Ini juga bagus bagi pihak swasta sebagai media promosi, dan juga ada nilai bisnisnya," kata Jongkie.

Bea Masuk Nol Persen dan Penurunan PPnBM
Pekan lalu, pemerintah telah mengadakan Rapat Terbatas (Ratas) tentang percepatan program kendaraan bermotor listrik. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan resminya menyampaikan, pihaknya telah berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan terkait fasilitas insentif fiskal dan infrastruktur dalam upaya mengakselerasi pengembangan kendaraan listrik di Indonesia.

“Terkait fasilitas fiskal, kami sudah berkoordinasi dengan Menteri Keuangan. Setelah disepakati dan sesuai arahan ratas, selanjutnya dikoordinasikan dengan Menko Perekonomian dan Kemaritiman untuk persiapan Perpresnya. Kemudian, Menteri Keuangan akan berkonsultasi dengan Komisi XI DPR,” kata Airlangga Hartarto.

Penyusunan Perpres sebagai payung hukum sedang diformulasikan, terutama mengenai persyaratan fasilitas insentif. Dalam implementasinya, diberlakukan dengan bea masuk nol persen dan penurunan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) untuk kendaraan bermotor listrik.

Menperin juga menilai, salah satu kunci pengembangan kendaraan listrik berada pada teknologi baterai. “Indonesia punya sumber bahan baku untuk pembuatan komponen baterai, seperti dari nikel laterit yang merupakan material energi baru,” ujarnya.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Xpander Kerek Posisi Merek Mitsubishi

Kehadiran Mitsubishi Xpander mampu mengerek posisi merek dalam benak konsumen (brand positioning) Mitsubishi di Tanah Air.

OTOMOTIF | 23 Januari 2019

Vario Series Dongkrak Nilai Ekspor Motor Honda

Permintaan yang tinggi dari pasar ekspor mencerminkan daya saing dan kualitas produk karya anak bangsa.

OTOMOTIF | 23 Januari 2019

Penjualan dan Purnajual Renault di Indonesia Kini Ditangani Maxindo

Renault menargetkan untuk menghadirkan sedikitnya 15 outlet dalam waktu 18 bulan.

OTOMOTIF | 21 Januari 2019

Xpander Siap Ditambahkan Fitur Terbaru

Pasar MPV dinilai sesuai dengan kebutuhan konsumen.

OTOMOTIF | 20 Januari 2019

Tips Berkendara Hemat Bensin ala Mitsubishi

Gaya mengemudi menjadi salah satu faktor penentu efisiensi bahan bakar mobil, selain kondisi eksternal, seperti kondisi lalu lintas dan kapasitas mesin.

OTOMOTIF | 17 Januari 2019

BMW Group Indonesia Siapkan Lebih Dari 10 Model Baru di 2019

BMW Group Indonesia berharap dapat meningkatkan penjualan pada 2019.

OTOMOTIF | 17 Januari 2019

Mitsubishi Bebeberkan Alasan Koreksi Penjualan Xpander

Ada dua faktor penurunan penjualan Xpander, yakni keterbatasan kapasitas produksi varian otomatis dan aksi diskon brutal pesaing.

OTOMOTIF | 16 Januari 2019

Ford dan VW Akan Produksi Mobil Bersama

Mereka berdua akan mengembangkan mobil van niaga dan pickup ukuran menengah pada 2022.

OTOMOTIF | 15 Januari 2019

Daihatsu Targetkan Penjualan 3.000 Unit/Bulan untuk Xenia Terbaru

Porsi terbesar akan diperoleh dari varian 1.300 cc, sedangkan varian terbaru yakni 1.500 cc masih diproyeksikan menyumbang 10% dari total penjualan.

OTOMOTIF | 15 Januari 2019

Penjualan Turun, Ini Strategi Toyota untuk Sienta

Toyota akan memosisikan Sienta sebagai mobil kedua atau mobil tambahan.

OTOMOTIF | 15 Januari 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS