ICW Serahkan Informasi Terkait Sidang Penyiraman Air Keras
INDEX

BISNIS-27 431.53 (-3.35)   |   COMPOSITE 4906.55 (-27.45)   |   DBX 934.495 (-1.3)   |   I-GRADE 129.531 (-1.1)   |   IDX30 408.573 (-4.05)   |   IDX80 107.231 (-1.06)   |   IDXBUMN20 271.434 (-3.2)   |   IDXG30 114.42 (-1.08)   |   IDXHIDIV20 364.598 (-3.27)   |   IDXQ30 119.596 (-1.07)   |   IDXSMC-COM 210.435 (-0.56)   |   IDXSMC-LIQ 236.069 (-1.95)   |   IDXV30 101.606 (-0.8)   |   INFOBANK15 772.076 (-4.94)   |   Investor33 357.854 (-2.78)   |   ISSI 144.258 (-0.69)   |   JII 521.112 (-3.55)   |   JII70 177.199 (-1.37)   |   KOMPAS100 960.444 (-7.38)   |   LQ45 749.999 (-7.62)   |   MBX 1355.95 (-8.44)   |   MNC36 267.764 (-2.13)   |   PEFINDO25 261.843 (-3.84)   |   SMInfra18 232.762 (-2.06)   |   SRI-KEHATI 301.662 (-2.42)   |  

ICW Serahkan Informasi Terkait Sidang Penyiraman Air Keras

Jumat, 5 Juni 2020 | 19:41 WIB
Oleh : Fana F Suparman / WM


Jakarta, Beritasatu.com - Indonesia Corruption Watch (ICW) menyerahkan Amicus Curiae atau memberikan informasi terkait persidangan teror penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan dengan terdakwa dua anggota Brimob Polri, Rahmat Kadir dan Ronny Bugis ke Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Amicus Curiae ini diserahkan ICW ke Pengadilan lantaran menilai terdapat sejumlah kejanggalan dalam perkara tersebut.

Peneliti ICW, Kurnia Ramadhana membeberkan sejumlah poin yang dinilai janggal dari kasus penyiraman air keras terhadap Novel. Setidaknya, terdapat tujuh poin yang disampaikan ICW dalam Amicus Curiae.

Kurnia menyatakan, dakwaan Jaksa menafikan perbuatan terdakwa yang menghalangi proses hukum. Hal ini bertentangan dengan kesimpulan penyelidikan yang sebelumnya dilakukan oleh Tim Gabungan bentukan Polri. "Sebab, Tim itu secara terang benderang menegaskan bahwa ada keterkaitan antara serangan terhadap Novel dengan perkara-perkara yang sedang ia tangani," kata Kurnia dalam keterangan pers yang diterima, Jumat (5/6).

Kurnia menilai, Pasal 355 KUHP dan Pasal 351 KUHP tentang tindak pidana penganiayaan sangat bertentangan dengan temuan tim gabungan bentukan Polri.

Menurutnya, dengan Jaksa yang hanya mendakwa kedua terdakwa dengan pasal terkait penganiyaan, perkara ini berpotensi digiring pada ranah pribadi Novel tanpa mengaitkan rekam jejak perkara yang sedang atau pernah Novel tangani. Padahal, kata Kurnia, posisi Novel sebagai Penyidik KPK penting untuk dikaitkan dalam tindak kejahatan ini.

"Sebab dalih dari terdakwa yang menyebutkan memiliki persoalan pribadi dengan Novel sudah terbantahkan ketika Penyidik KPK itu mengaku tidak pernah berinteraksi dengan mereka," tegas Kurnia.

ICW juga mempersoalkan penyelidikan dan penyidikan perkara ini oleh Kepolisian. Komnas HAM telah membeberkan sejumlah persoalan penanganan perkara ini di tahap penyelidikan dan penyidikan. Merujuk temuan Komnas HAM, observasi yang dilakukan oleh Tim Polda tidak cukup memetakan saksi kunci dan barang bukti penting, hal ini terindikasi dengan tidak diwawancarai beberapa saksi kunci secara mendalam, tidak diambilnya beberapa rekaman CCTV serta telpon genggam penting. Bahkan ada saksi kunci yang sudah diperiksa di Polres Kelapa Gading, tidak tercatat oleh Tim Polda.

"Tim Polda belum pernah memeriksa Kapolda Metro Jaya saat itu yang diduga mengetahui akan adanya serangan kepada Novel Baswedan sebelum 11 April 2017 sehingga dapat dikategorikan sebagai saksi kunci," kata Kurnia.

ICW juga menilai, dakwaan Jaksa mengaburkan fakta serangan yang dapat mengancam nyawa korban. ICW menegaskan, teror tersebut tidak bisa hanya dipandang sekadar penganiyaan, sebab banyak kasus terjadi di Indonesia yang terkait dengan penyiraman air keras menimbulkan akibat serius, yaitu meninggal dunia.

Untuk itu, ICW menilai, Jaksa seharusnya mendakwa kedua terdakwa dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.

"Atas dasar kejadian-kejadian di atas seharusnya Kejaksaan juga mendakwa para terdakwa dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Kuat dugaan dalam dakwaan tersebut Jaksa hanya ingin mengaburkan fakta bahwa siraman air keras berpotensi untuk menghilangkan nyawa orang lain, termasuk dalam hal ini korban, yaitu Novel Baswedan," tegasnya.

Dalam Amicus Curiae, ICW turut mencatumkan sketsa Polri berbeda dengan wajah dua terdakwa. Menurut Kurnia, Polri setidaknya telah dua kali memperlihatkan sketsa terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan.

Dia menyebut, diawali Kapolri Jenderal Tito Karnavian pada 31 Juli 2017 di Istana Negara, lalu dilanjutkan dengan Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis pada tanggal 24 November 2017.

Namun, lanjut Kurnia, dua sketsa yang dirilis resmi oleh Polri itu tidak memiliki persesuaian sama sekali dengan wajah dua terdakwa.

"Tentu ini akan menjadi pertanyaan bagi masyarakat, apakah memang dua orang oknum Polri ini yang menjadi pelaku sebenarnya? Lalu bagaimana metode pembuatan sketsa yang dilakukan oleh Polri? Siapa saksi yang diambil keterangannya?," katanya.

Dalam perkara ini, dua anggota Brimob Polri, Rahmat Kadir dan Ronny Bugis didakwa melakukan penganiayaan secara terencana yang mengakibatkan luka berat. Keduanya menyebabkan mata Novel Baswedan terluka sehingga kornea mata kanan dan kirinya terancam buta.

Kedua terdakwa yang merupakan polisi aktif tersebut melakukan perbuatannya dengan alasan dendam lantaran Novel Baswedan dianggap telah mengkhianati institusi Polri.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Eks Dirut PT Dirgantara Indonesia Akui Jadi Tersangka KPK

Mantan Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (PT DI), Budi Santoso mengakui telah ditetapkan KPK sebagai tersangka dugaan korupsi

NASIONAL | 5 Juni 2020

Romo Benny: Pancasila Modal Bangsa Hadapi Pandemi Covid-19

Nilai kemanusiaan dan semangat gotong royong, harus terus dipupuk dan digalakkan.

NASIONAL | 5 Juni 2020

Korupsi Proyek IPDN, Eks Petinggi PT Hutama Karya Mulai Jalani Hukuman 5 Tahun Penjara

Jaksa Eksekutor KPK mengeksekusi mantan Senior Manager Pemasaran PT Hutama Karya Bambang Mustaqim ke Rutan Klas I Cipinang

NASIONAL | 5 Juni 2020

KPK Periksa Eks Dirut PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa mantan Direktur Utama (Dirut) PT Dirgantara Indonesia (DI), Budi Santoso, Jumat (5/6/2020)

NASIONAL | 5 Juni 2020

Coretan di Webinar Wapres, Polri Koordinasi dengan UIN Maliki

Coretan-coretan tidak beraturan berwarna merah dan biru secara bergantian muncul saat rekaman sambutan video Wakil Presiden Ma'ruf Amin ditayangkan.

NASIONAL | 5 Juni 2020

Peduli Covid-19, Perempuan Golkar Akan Bagi 1.000 Sembako dan 1.500 Makanan Tiap Jumat

Program Jumat Berbagi untuk Sesama akan rutin digelar Gerakan Perempuan Golkar Peduli dalam setiap minggunya.

NASIONAL | 5 Juni 2020

Kempora Segera Terbitkan Protokol Keolahragaan untuk New Normal

Penerbitan protokol new normal bagi para atlet ditunjukkan agar para atlet bisa kembali berlatih atau melanjutkan kompetisi olahraga.

NASIONAL | 5 Juni 2020

Seluruh Santri yang Masuk ke Jateng Wajib Karantina

Semua santri yang masuk Jateng wajib dikarantina.

NASIONAL | 5 Juni 2020

50 Pasien Positif Covid-19 di Kota Bogor Sembuh

Jumlah pasien positif Covid-19 sembuh menjadi 50 orang di Bogor.

NASIONAL | 5 Juni 2020

KPK Kembali Garap 11 Mantan Anggota DPRD Sumut

KPK pemeriksa 11 anggota DPR Sumut terkait kasus korupsi yang melibatkan Gatot Pujo Nugroho.

NASIONAL | 5 Juni 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS