Respons Warganet Soal Kekecewaan Jokowi kepada Menteri
INDEX

BISNIS-27 446.563 (0.9)   |   COMPOSITE 5038.4 (20.82)   |   DBX 922.546 (11.18)   |   I-GRADE 135.148 (0.22)   |   IDX30 424.72 (2.48)   |   IDX80 110.692 (0.82)   |   IDXBUMN20 282.764 (1.87)   |   IDXG30 117.102 (1.3)   |   IDXHIDIV20 380.385 (2.52)   |   IDXQ30 124.37 (0.98)   |   IDXSMC-COM 213.267 (2.27)   |   IDXSMC-LIQ 240.075 (3.67)   |   IDXV30 104.022 (1.02)   |   INFOBANK15 809.007 (-5.39)   |   Investor33 370.782 (0.4)   |   ISSI 146.581 (1.48)   |   JII 534.734 (4.37)   |   JII70 181.171 (1.51)   |   KOMPAS100 994.168 (2.43)   |   LQ45 775.543 (4.77)   |   MBX 1400.42 (4.19)   |   MNC36 279.01 (-0.17)   |   PEFINDO25 262.474 (3.1)   |   SMInfra18 238.826 (3.53)   |   SRI-KEHATI 314.013 (-0.58)   |  

Respons Warganet Soal Kekecewaan Jokowi kepada Menteri

Senin, 6 Juli 2020 | 16:07 WIB
Oleh : Yeremia Sukoyo / WM


Jakarta, Beritasatu.com -Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat mengutarakan kekecewaannya atas kinerja Kabinet Indonesia Maju dalam penanganan pandemi Covid-19. Presiden bahkan melontarkan tidak segan melakukan reshuffle atau perombakan kabinet.

Kekecewaan Jokowi itu akhirnya menjadi pembahasan hangat masyarakat yang tertuang dalam media sosial (medsos) maupun media daring.

Ketua Dewan Pengurus Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Didik J Rachbini menjelaskan, persepsi publik terhadap perilaku Jokowi marah atau kecewa ditanggapi mayoritas negatif oleh publik.

“Sentimen negatif ada 45%, jauh lebih banyak dibandingkan sentimen positif 25%,” kata Didik dalam Kajian Online LP3ES bertajuk “Memaknai Kemarahan Jokowi: Analisa Big Data dan Budaya Politik”, Senin (6/7/2020).

Pada dua hari pertama yakni pada 28 dan 29 Juni 2020 setelah video Jokowi diunggah, pembahasan dominan dalam nada netral. “Pembahasan dalam nada netral langsung anjlok pada hari ketiga (30 Juni 2020), sehingga menduduki posisi ketiga terakhir dengan 17% atau 2.799 mention,” ujar Didik.

Dia menuturkan, pembahasan tentang isu Jokowi marah di media daring nasional dominan bernada netral sebanyak 71%, negatif 17% dan bernada positif sebanyak 12%.

Kemudian di medsos yang paling banyak dibahas salah satunya di Twitter sebanyak 48% negatif, 25% positif, dan 28% netral. Hasil sebaliknya nampak di media sosial Facebook yang justru mayoritas berkonotasi positif yakni sebesar 70%, negatif 13%, dan netral 18%.

Selanjutnya di Instagram, sebanyak 54% pembahasan juga berkonotasi positif, negatif 27%, dan 19% berkonotasi netral. Di Youtube sebanyak 83% percakapan berkonotasi positif, 7% negatif dan 10% netral.

“Volume perbincangan tentang Jokowi marah paling tinggi terjadi di Twitter. Kanal Youtube adalah yang paling positif saat membicarakan isu ini, namun total pembahasan relatif lebih sedikit jika dibandingkan di Twitter,” ungkap Didik.

Secara total, menurutnya, di Twitter ada 63.846 percakapan terkait kemarahan Jokowi. Sementara di Facebook hanya ada 875 percakapan, Instagram 875 percakapan, dan Youtube sebanyak 649 percakapan.

Direktur Center for Media and Democracy LP3ES, Wijayanto menilai, memaknai kemarahan Jokowi yang disampaikan secara terbuka dapat dibaca sebagai pertanda semakin melemahnya kekuasaan politik.

“Ini juga merupakan refleksi semakin tajamnya perseteruan diantara elite oligarki yang ada di sekitar Presiden Jokowi yang saling bersaing untuk memperebutkan panggung dan kuasa untuk mengamankan posisi mereka di 2024 saat Jokowi tidak mungkin lagi mencalonkan diri,” kataya.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA



TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS