ISKA: Mulailah Berbisnis melalui Dunia Digital
INDEX

BISNIS-27 503.107 (8.47)   |   COMPOSITE 5679.25 (80.67)   |   DBX 1039.52 (14.71)   |   I-GRADE 166.189 (3.47)   |   IDX30 492.322 (9.09)   |   IDX80 129.082 (2.66)   |   IDXBUMN20 363.759 (7.86)   |   IDXG30 133.243 (2.59)   |   IDXHIDIV20 440.08 (10.13)   |   IDXQ30 143.762 (2.86)   |   IDXSMC-COM 242.127 (2.51)   |   IDXSMC-LIQ 293.644 (5.57)   |   IDXV30 123.61 (3.35)   |   INFOBANK15 979.67 (10.23)   |   Investor33 423.592 (6.88)   |   ISSI 165.745 (2.98)   |   JII 604.859 (14.26)   |   JII70 207.745 (4.44)   |   KOMPAS100 1155.02 (20.8)   |   LQ45 903.46 (17.32)   |   MBX 1578.72 (22.44)   |   MNC36 316.411 (5.51)   |   PEFINDO25 310.113 (3.58)   |   SMInfra18 286.549 (5.46)   |   SRI-KEHATI 362.507 (5.51)   |  

ISKA: Mulailah Berbisnis melalui Dunia Digital

Minggu, 12 Juli 2020 | 22:38 WIB
Oleh : Willy Masaharu / WM


Jakarta, Beritasatu.com - Mulailah dari yang tersedia untuk melanjutkan kehidupan di tengah pandemi Covid-19. Cara yang paling mendasar adalah memanfaatkan secara optimal dunia digital dengan menemukan berbagai terobosan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berguna tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi banyak orang (sosial). Tidak perlu mengutuk pandemi yang terjadi, tetapi lanjutkan kehidupan dengan memulai usaha melalui dunia digital.

Demikian kesimpulan dari Forum Diskusi (Fokus) yang diselenggarakan Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) bertema “Peran Milenial di Masa Pandemi COVID-19”, Minggu (12/7/2020). Fokus yang dibuka oleh Ketua Presidium ISKA Pusat, Hargo Mandirahardjo menghadirkan blogger dan penulis Margaretha Astaman dan Nini Marniasti Hia, relawan Covid-19 sebagai pembicara serta Longginus Hadi P dari ISKA sebagai moderator.

Pandemi Virus Corona atau Covid-19 mengubah tatanan sosial dunia di berbagai dimensi kehidupan manusia dalam waktu yang sangat singkat. Pandemi ini memaksa manusia meninggalkan gaya hidup lama dengan kebiasaan baru. Menggunakan masker, menjaga jarak (social distancing), sesering mungkin mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer, sebagai contoh, adalah beberapa kebiasaan baru yang sekarang menjadi pemandangan umum.

Blogger dan penulis Margaretha Astaman mengatakan bahwa kaum milenial memandang pandemi Covid-19 sebagai sebuah point historical atau momen bersejarah dalam kehidupannya. Pada 2019 lalu Margaretha melakukan riset terkait dengan kaum milenial.

Dari surveinya itu ditemukan bahwa ada beberapa pola yang terkait dengan kehidupan kaum milenial. “Salah satunya yaitu terkait dengan momen historis. Seorang kaum milenial merasa kehidupannya terusik ketika menyaksikan adanya ketidakadilan, atau penindasan. Jadi beda dengan anggapan yang mengatakan bahwa kaum milenial itu cuek, masa bodoh,” ujar Margaretha dalam diskusi yang disiarkan langsung oleh ISKA Channel tersebut.

Selanjutnya, kata Margaretha, kaum milenial itu mempunyai ekspresi yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Kaum milenial bukannya tidak peduli terhadap segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Tapi mereka menginginkan agar aksi dilakukan itu berbeda dengan aksi yang dilakukan oleh generasi sebelumnya.

“Mereka langsung melakukan apa yang bisa dilakukan. Contohnya seperti dengan menjadi relawan,” ujarnya.

Berdasarkan surveinya itu, kata Margaretha, setidaknya ada tiga karakter yang terdapat dalam diri kaum milenial. Pertama, mereka mencari kegiatan yang memiliki konfrontasi dan kolaborasi. Artinya, kaum milenial mencari pekerjaan yang memiliki tantangan sehingga mereka bisa berperan. “Apa yang bisa saya lakukan untuk masyarakat. Kuncinya, ada pada konfrontasi dan kolaborasi. Yaitu ketika ada masalah, mereka bisa langsung mencari solusi,” ujarnya.

Kedua, biasanya mereka melakukan kegiatannya melalui media sosial. Hal ini bisa disalahtafsirkan oleh kaum sebelumnya bahwa kaum milenial hanya tahu bermain media sosial tanpa ada aksi nyata. Padahal kaum milenial itu menjadikan media sosial itu hanya sebagai permulaan. “Kegiatan mereka akan berakhir pada aksi nyata, bukan di media sosial,” ujar Margaretha yang kini juga merintis bisnis “packing house” produk buah-buahan lokal ini.

Ketiga, kaum milenial itu mencari kegiatan atau pekerjaan yang dekat dengan tujuan sosialnya, bukan dengan indentitasnya.

Dikatakannya, saat ini banyak sekali industri yang terdampak dengan pandemi Covid-19. Namun ada juga industri yang justru mendapat berkah dari pandemi ini. Sebagaimana sebuah krisis, maka pasti selalu mendatangkan dua wajah: petaka dan harapan.

Salah satu bisnis yang berkembang saat ini, menurutnya, yaitu bisnis digital. “Jadi banyak orang lari ke bisnis digital. Orang bisa buka toko online atau kuliner dengan menggunakan jaringan online,” ujarnya.

Selain itu, salah satu pekerjaan yang bisa digeluti adalah dengan menjadi relawan. “Jadi tidak ada yang sia-sia sekarang ini. Yang sia-sia adalah yang tidak melakukan apa-apa, terus merenung dan mengutuk pandemi ini,” ujarnya.

Karena itu, pengenyam pendidikan di luar negeri ini berpesan kepada kaum milenial agar tidak perlu mencari banyak alasan untuk menyalahkan pandemi ini. “Mulailah dengan berbisnis digital. Inilah momentumnya kaum milenial. Kita kerahkan segala kemampuan dan keunggulan kita agar bisa menjadi kelas satu. Jangan berhenti melakukan sesuatu,” ujarnya.

Hanya dengan cara itulah generasi milenial bisa memberi sumbangan yang berarti bagi dunia sosial maupun ekonomi.

Sementara itu, Nini Marniasti Hia mengatakan, dirinya terjun ke aktivitas kerelawanan karena tidak ingin hanya berdiam diri di rumah. Dia lebih lebih baik menolong sesama yang membutuhkan.

“Ketika lulus kuliah, saya ke Jakarta. Dan ketika di Jakarta, bertepatan dengan pandemi Corona. Karena itu saya diminta seorang teman agar masuk ke Jaringan Katolik Melawan Covid (JMKC). Daripada saya berdiam di rumah, lebih baik saya membantu masyarakat yang terdampak pandemi,” ujar Nini yang mengaku hobi memasak ini.

Tujuan lainnya terjun sebagai relawan katanya, yaitu agar bisa melakukan kegiatan sosial. “Kapan lagi saya bisa membantu masyarakat jika bukan pada saat sekararang,” ujarnya.

Nini yang suka opor ayam ini mengatakan, awalnya dia membantu di JKMC. Kemudian dia membantu BAKAT (Badan Amal Kasih Katolik). “Kami melakukan packing masker, dan barang-barang lain untuk dikirim ke rumah sakit. Saya hadapi kegiatan itu dengan senang hati karena inilah kesempatan bagi saya untuk membantu banyak orang,” ujarnya.

Selama tiga minggu bekerja, akhirnya dia dilanda kebosanan. “Kemudian saya bertemu dengan Pak Yulius Setiarto (Ketua Bidang Relawan Pendukung Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, red.). Pak Yulius mengajak saya bergabung dengan relawan tim pendukung,” ujarnya.

Yang dilakukan selama bergabung di tim Relawan Pendukung Gugus Tugas tersebut, katanya, yaitu membagi sembako. Hal itu dimulai dengan mencari tahu dan mendata masyarakat yang belum mendapat bantuan dari pemerintah. Berdasarkan data tersebut timnya membagikan bantuan.

Kadang-kadang Nini merasa jenuh dengan pekerjaan sebagai relawan. Untuk mengusir kejenuhan tersebut, Margaretha Astaman menyarankannya agar terus dilakukan rolling dalam pekerjaan.

Menjadi relawan, katanya, memang mengasyikkan. “Karena itu, saya menyerukan kepada kaum milenial agar jangan hanya berdiam diri di rumah. Kita harus terjun dan masuk ke dunia kerelawanan. Dunia relawan itu sangat inspiratif karena bisa membantu masyarakat banyak yang sedang membutuhkan uluran tangan kita. Salam Tangguh,” katanya.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN




BERITA LAINNYA

Kemdikbud: Tahun Ajaran Baru Wajib Utamakan Kesehatan Siswa

Sekolah yang sudah diizinkan untuk melakukan pembelajaran secara tatap muka hanya sekolah yang berada di zona hijau dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

NASIONAL | 12 Juli 2020

Hubungan Indonesia – Serbia Terjalin Amat Baik

Delegasi Indonesia yang dipimpin Menkumham Yasonna H Laoly menuntaskan proses ekstradisi Maria Pauline Lumowa, buronan pembobol kas BNI senilai Rp 1,7 triliun

NASIONAL | 12 Juli 2020

Skema Pembelajaran di Madrasah Sesuai Kebijakan Pemda

Satuan pendidikan yang berada di daerah zona kuning, oranye, dan merah, dilarang melakukan proses pembelajaran tatap muka.

NASIONAL | 12 Juli 2020

Buleleng Dapat Hibah Lahan dan Bangunan dari Pemprov Bali

Tercatat, ada 19 bidang tanah dan tujuh bangunan yang dihibahkan Pemprov Bali ke Pemkab Buleleng.

NASIONAL | 12 Juli 2020

KPAI: Ada Sekolah Dibuka Tak Sesuai SKB 4 Menteri

KPAI menerima laporan ada daerah yang nekad membuka sekolah meskipun di wilayahnya kasus Covid-19 masih tinggi.

NASIONAL | 12 Juli 2020

Tuntutan Pidana Maria Pauline Lumowa Terancam Kedaluwarsa

Kemkumham telah berhasil memulangkan Maria Pauline Lumowa (MPL), pelaku pembobolan Bank BNI senilai Rp 1,7 triliun dari Serbia.

NASIONAL | 12 Juli 2020

Survei: Mayoritas Publik Puas dengan Program Bansos

Mayoritas publik puas dengan program bantuan sosial (bansos) pemerintah.

NASIONAL | 12 Juli 2020

Baru 5 Daerah Zona Hijau di Sumut Diizinkan Belajar Tatap Muka

Yakni, Kabupaten Nias, Nias Selatan, Nias Utara, Nias Barat dan Pakpak Bharat.

NASIONAL | 12 Juli 2020

SMA di Kota Jambi Masih Belajar Daring

Kota Jambi masih masuk kategori zona kuning pandemi virus corona (Covid-19).

NASIONAL | 12 Juli 2020

SMP di Jambi Uji Coba Sekolah Tatap Muka, Siswa Wajib Bawa Hand Sanitizier

"Tidak semua sekolah dipaksakan melaksanakan kegiatan belajar tatap muka pada awal tahun ajaran baru ini,”ujar Syarif Fasha.

NASIONAL | 12 Juli 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS