ADF Kenalkan Ekspedisi Mataram Kuno

ADF Kenalkan Ekspedisi Mataram Kuno
Tim Adventure Documentary Festival (ADF) 2018 menggelar ekspedisi dan workshop dokumenter Mataram Kuno ( Foto: Istimewa )
Hendro D Situmorang / FER Senin, 3 Desember 2018 | 21:01 WIB

Jakarta - Peradaban Mataram kuno yang merupakan identitas dan sejarah bangsa Indonesia terus dikenalkan Adventure Documentary Festival (ADF) 2018. Langkah itu dilakukan lewat ekspedisi dan workshop yang bertujuan mempromosikan sejarah dan kekayaan budaya Indonesia kepada generasi muda agar tidak dilupakan begitu saja.

Sketcher sekaligus Direktur ADF, Astryd Diana Savitri, mengatakan ekspedisi dan workshop dokumenter Mataram Kuno diadakan di Jawa Tengah, melewati situs Liyangan Desa Purbasari, Kabupaten Temanggung Situs Gunung Wukir, Kabupaten Magelang situs Plaosan di kawasan Prambanan Kabupaten Klaten pekan lalu.

"Ketiga situs tersebut menjadi saksi peninggalan sejarah peradaban Mataram Kuno yang penting diingat oleh masyarakat Indonesia sebagai negara yang besar dan memiliki pengaruh peradaban kepada bangsa lainnya. Kami pun turut melibatkan aktris Bucek Depp dan Prisia Nasution dengan harapan sosialisasi terhadap Mataram Kuno tersebut nantinya akan diangkat menjadi tayangan seri dokumenter hingga layar lebar," ujar dia pada keterangannya di Jakarta, Senin (3/12).

Namun untuk mengarah kesana masih membutuhkan survei, riset, tatap muka dengan pakar, tokoh adat, dan pengenalan situs secara bertahap. Petualangan dokumenter menjelajahi Situs Gunung Wukir merupakan awal didirikannya Kerajaan Mataram Kuno oleh Raja Sanjaya, dibuktikan dengan adanya prasasti Canggal.

Sedangkan Situs Plaosan merupakan saksi harmonisasi penyatuan bukti cinta dan keselarasan perbedaan agama antara Rakai Pikatan yang beragama Hindu dan Pramodhawardani beragama Budha, tak kalah penting lagi situs Liyangan yang hingga kini masih dalam penelitian dan menjadi daya tarik para arkeolog, dikarenakan situs tersebut baru ditemukan tahun 2008 dan merupakan situs purbakala yang terdiri dari fragmen pertanian, tempat ibadah, dan rumah penduduk. Rupanya peradaban di situs Liyangan memiliki fase peninggalan sejarah berbeda-beda dari zaman Dinasti Tiongkok Kuno hingga Mataram Kuno.

Selama perjalanan peserta workshop dipandu oleh sejarawan Goenawan A Sumbodo, sutradara Christanta Adhityaksa, dan Direktur ADF Astryd Diana untuk mengangkat sejarah Mataram Kuno. ADF turut melibatkan mentor muda untuk berkarya bersama antara lain fotografer Aditya Danny Renandra, dan videographer Clarizkavtian Wisnu.

"Sosialisasi ini berkolaborasi pula dalam rangka mendukung Ngaderijo Nature Festival, dimana tim ADF turut serta dalam tour konser musik ke Alam Sewu dan Jumprit kawasan hutan pinus yang terkenal dengan cafe kopinya sebagai potensi pertanian Temanggung. Berkarya film harus memiliki bobot dalam riset dan data. Jejak rekam sejarah menjadi daya tarik ADF untuk berkarya dengan baik dan tidak instan," ungkap dia.

Kegiatan film berbasis sejarah ini didukung oleh Pusat Pengembangan Film Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai dukungan bantuan pemerintah, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemerintah Kabupaten Temanggung, serta Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah. Hasil kegiatan akan menjadi motivasi dan dorongan diselenggarakannya Festival Mataram Kuno pada 9-11 Desember 2018 mendatang sekaligus meluncurkan Desa Wisata Liyangan.

Diakui sejak tahun 2015 ADF tak berhenti mengadakan kegiatan pengenalan peradaban Mataram Kuno melalui acara seminar, workshop, pertunjukan, petualangan dokumenter, hingga produksi karya.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE