Sektor Pariwisata Masih dalam Tahap Recovery dari Bencana Alam

Sektor Pariwisata Masih dalam Tahap Recovery dari Bencana Alam
Sejumlah anak menikmati suasana di tepi Pantai Nipah, Malaka, Pemenang, Lombok Utara. ( Foto: BeritaSatu Photo / Danung Arifin )
Dina Fitri Anisa / FMB Minggu, 6 Januari 2019 | 13:10 WIB

Jakarta - Tidak jarang yang berpikir pesimistis, jika target wisatawan mancanegara (wisman) yang ingin dicapai Kementrian Pariwisata sebanyak 20 juta di 2019 bisa terealisasi. Pasalnya, target 17 juta kunjungan pada tahun lalu belum bisa dipenuhi dengan baik, meski berbagai event berskala internasional sudah terselenggara.

Pun demikian, Ketua Umum Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Elly Hutabarat berpendapat untuk dapat mencapai target 20 juga kunjungan wisman pada tahun depan, pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia harus bersama gotong-royong. Terutama, untuk menyadari bahwa Indonesia berada di kawasan rawan bencana.

“Bencana alam menyebabkan impact yang cukup besar. Indonesia berada di ring of fire atau cincin api dan bencana tidak dapat diprediksi dan cegah, sehingga membuat orang merasa takut. Jadi setelah bencana itu, kita harus bergerak cepat tanggap, melayani dan meringankan beban para wisatawan dan korban bencana di tujuan wisata yang terkena dampaknya,” terangnya saat dihubungi SP, Sabtu (5/1).

Menurutnya, hal inilah yang sudah seharusnya dipublikasikan ke seluruh dunia dengan menggunakan relasi berskala internasional. “Sebenarnya pemerintah sudah aktif dan agresif menyebarkan informasi dengan baik selama ini. Namun, harus dibedakan ketika national disaster ini, kita harus ekstra. Harus lebih aktif memberitakan pada dunia, pada saat ada bencana alam, seluruh wisman dapat terangkut dengan baik, dan seluruh masyarakat,” ungkapnya.

Hal tersebut ia ungkapkan karena bercermin dari beberapa kota di dunia yang bisa membangkitkan industri pariwisatanya kembali dengan cepat, walau bencana besar sempat terjadi. “Kita lihat Meksiko yang sempat meluluhlantahkan kota, tetapi mereka bisa menyebarkan informasi dengan baik atas pelayanan mereka ke seluruh dunia. Dan beberapa waktu berselang, industri wisatanya kembali bangkit,” jelasnya.

Senada dengan apa yang diungkapkan Elly, saat ini sudah timbul kesadaran para travel company yang juga bergerak untuk membangkitkan dan mendorong pemerintah dalam rangka menarik 20 juta wisatawan mancanegara di 2019.

Salah satu yang sudah resmi menandatangi kerja sama dengan Kementerian Pariwisata RI untuk mengusung program #DiscoverWonderfulIndonesia, adalah Traveloka.

“Salah satu bentuk dukungan Traveloka adalah dengan menjadi partner resmi Wonderful Indonesia dengan terus mempromosikan destinasi menarik di Indonesia di kawasan Asia Tenggara dengan beragam informasi dan akses produk dan layanan yang tersedia di Traveloka mencakup transportasi, akomodasi dan experience sehingga memberikan kemudahan untuk menjelajah beragam destinasi menarik di Indonesia,” jelas PR Manager Traveloka, Busyra Oryza.

Tidak hanya itu, Traveloka juga berkomitmen untuk membangun kembali wilayah yang terdampak bencana lewat program Traveloka Tanggap. “Kami mengajak pengguna kami untuk berdonasi lewat penukaran Traveloka Poin yang nantinya akan disalurkan ke organisasi non profit seperti, Palang Merah Indonesia. Dengan begitu, diharapkan wilayah bencana yang terdampak dapat kembali segera pulih,” tukasnya.

Tidak hanya itu, travel company berbasis digital lain yang didirikan oleh generasi milenial Indonesia, Travacello juga turut serta ikut mengulurkan tangan dalam membantu merealisasikan target kunjungan wisman 2019 mendatang.

“Kita lakukan dengan cara-cara yang kreatif untuk menggaet market milenial tidak dengan budget yang besar tapi lebih yang tepat sasaran. Kami dan teman-teman memiliki beberapa ide gagasan juga dan siap berkolaborasi dengan pemerintah ketika memang kami dibutuhkan,” terangnya.

Sedangkan uluran tangan untuk tempat-tempat bencana, Travacello juga berperan aktif di dalamnya, salah satunya adalah dengan membantu trauma healing dan recovery daerah yang terkena bencana. Setelah itu, barulah mereka mempromosikan daerah-daerah yang terkena bencana, dan membuatkan berbagai paket wisata yang menarik.

“Kami memiliki komunitas bernama Caventer, yang terdiri dari beberapa trip operator yang punya speciality barbeda beda. Ada yang geologi seperti geotour, ada yang budaya seperti spektakel, dan juga ada yang fokus ke pengembangan masyarakat desa. Jadi kami sedang turut membantu recovery di kawasan Banten, tentunya dengan berkolaborasi dengan pemerintah,” jelasnya. 



Sumber: Suara Pembaruan