Pariwisata Terancam Bencana

Promosi 10 “Bali Baru” Digencarkan

Promosi 10 “Bali Baru” Digencarkan
Wisatawan mancanegara menuruni kapal cepat ketika tiba di Pelabuhan Bangsal, Lombok Utara, NTB, Agustus 2018. Sedikitnya 700 wisatawan bersama warga setempat dievakuasi dari kawasan wisata Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno mengantisipasi terjadinya gempa susulan yang sempat mengguncang Lombok, NTB. ( Foto: Antara )
Dina Fitri Anisa / Lona Olavia / ALD Sabtu, 5 Januari 2019 | 17:00 WIB

Jakarta - Kementerian Pariwisata (Kempar) menempuh upaya ekstrakeras untuk mendongkrak sektor pariwisata. Langkah itu menyusul target 17 juta wisatawan mancanegara (wisman) pada 2018 tak tercapai, lantaran bencana alam bertubi-tubi yang melanda sejumlah wilayah di Tanah Air, termasuk di destinasi utama pariwisata, seperti Bali dan Lombok.

Tahun ini, Kempar menyadari ancaman bencana alam masih mengintai. Padahal, pemerintah telah mematok target 20 juta wisman membanjiri Tanah Air. Untuk menyiasati hal tersebut, Kempar menetapkan sejumlah langkah, di antaranya mengintensifkan promosi 10 destinasi utama wisata di luar Bali. Adapun 10 destinasi yang baru dikembangkan adalah Danau Toba (Sumut), Tanjung Kelayang (Kepulauan Bangka Belitung), Tanjung Lesung (Banten), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Borobudur (Jateng), Bromo-Tengger-Semeru (Jatim), Mandalika (NTB), Labuan Bajo (NTT), Wakatobi (Sultra), dan Morotai (Maluku Utara).

Demikian disampaikan Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata Guntur Sakti, Jumat (4/1). Dia mengungkapkan, salah satu langkah yang dilakukan adalah menggandeng fotografer profesional untuk mendukung promosi 10 “Bali Baru”.
Guntur juga mengklaim, sejauh ini promosi co-branding 10 “Bali Baru” ke mancanegara sudah dilakukan intensif dan dinilai sukses.

Selain itu, ungkapnya, Kempar juga mencanangkan tiga program untuk menopang target 20 juta wisman pada 2019. Pertama, mewujudkan border tourism dengan menjaring wisman yang memiliki kedekatan geografis dengan Indonesia. “Mereka bisa lebih mudah, cepat, dan murah menjangkau destinasi wisata di Indonesia,” ungkapnya.

Selain kedekatan secara geografis, mereka juga dianggap memiliki kedekatan kultural sehingga lebih mudah didatangkan. “Potensi pasar border tourism ini masih sangat besar, baik dari Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Papua Nugini, maupun Timor Leste,” jelasnya.

Kedua, mendorong tourism hub dengan menjaring wisman yang sudah datang ke negara tetangga. Wisman yang berkunjung ke Singapura dan Malaysia ditarik untuk melanjutkan berlibur ke Indonesia.

Strategi ini lantaran masih minimnya penerbangan langsung dari negara asal wisman ke Indonesia. Sebagai contoh, penerbangan langsung ke Tiongkok baru 50%. “Artinya 50% wisman asal Tiongkok lainnya masih transit di negara lain sebelum melanjutkan ke Indonesia, seperti di Singapura, Kuala Lumpur, atau Hong Kong. Padahal, negara tetangga seperti Thailand atau Malaysia direct flight-nya sudah mencapai 80%. Ini tantangan kita,” jelasnya.

Ketiga, program low-cost carrier terminal (LCCT). Terminal 1 Bandara Soekarno Hatta akan didorong menjadi terminal yang hanya melayani penerbangan berbiaya murah (LCC), dan Terminal 2 untuk LCC penerbangan domestik dan internasional. Selain itu, Bandara Banyuwangi juga akan dikembangkan menjadi LCCT setelah melalui berbagai proses pembenahan.

“Sebab, 70% wisatawan yang datang ke Indonesia menggunakan angkutan udara low-cost carrier. Namun, ketika mendarat di Indonesia, tarif terminal bandara kita masih sangat mahal,” jelasnya.

Untuk mewujudkan program tersebut, Guntur menambahkan, Direktur Utama PT Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin menyatakan siap membantu membangun terminal khusus untuk LCC. “Hal ini juga penting, pasalnya negara lain juga sudah memiliki multibandara, ada yang untuk full service carrier dan LCC,” ungkapnya.

Melalui tiga strategi tersebut, ditambah mendorong promosi 10 “Bali Baru” Guntur berharap mampu mewujudkan target kunjungan wisman ke Indonesia sebanyak 20 juta tahun ini. “Hal ini memang berat. Tapi di sinilah kita bekerja keras di tengah bayang-bayang Indonesia di posisi ring of fire yang tidak bisa kita prediksi kapan akan terjadi bencana. Karena bencana bisa datang kapan saja dan di mana saja,” terangnya.

Tetap Tumbuh
Sebelumnya, Menteri Pariwisata (Menpar) Arif Yahya mengakui, target 17 juta wisman tahun 2018 tidak tercapai. Menpar memperkirakan, jumlah wisman yang datang sepanjang tahun lalu maksimal 16,2 juta orang, atau 94% dari target.
Sejumlah bencana alam, seperti gempa bumi di Lombok pada 29 Juli yang disusul pada 5 Agustus 2018 menyebabkan pembatalan besar-besaran kunjungan wisman hingga lebih dari 70%.

“Dari bencana Gunung Agung di Bali saja jumlah wisman yang berkunjung bisa menurun 100.000 per bulan. Sejak Agustus hingga Desember dipastikan hampir 100.000 wisman (per bulan) membatalkan kunjungan. Itu baru Bali, belum (destinasi) yang lainnya,” ungkap Menpar akhir tahun lalu.

Meski demikian, menurut Arif, kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian terus meningkat. Saat ini, pariwisata menduduki peringkat kedua penyumbang devisa terbesar setelah kelapa sawit. Sepanjang semester pertama 2018, Kempar mencatat, devisa yang dihasilkan dari pariwisata mencapai US$ 9 miliar.

Dengan pencapaian itu, dia optimistis pariwisata akan menjadi penyumbang devisa terbesar, dengan estimasi perolehan US% 17,6 miliar pada 2018. Saat ini, perolehan devisa dari kelapa sawit sebesar US$ 17 miliar.

Pada 2019, Kempar mencanangkan 10 program strategis, di antaranya pengembangan 10 destinasi pariwisata prioritas, pengembangan 5.000 homestay, peningkatan aksesibilitas di 10 destinasi prioritas, peningkatan investasi dan pembiayaan pariwisata sebesar, penerapan sustainable tourism development (STD) di 16 destinasi, pengembangan 10 kawasan ekonomi khusus (KEK) pariwisata, serta perintisan destinasi pariwisata di sekitar 10 DPP.

Secara terpisah, peneliti Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Maxensius Tri Sambodo mengingatkan, target 17 juta wisman yang tak tercapai harus menjadi bahan evaluasi, apakah target yang dicanangkan terlalu besar, atau promosi yang kurang optimal.

Dia tak menampik bencana alam menjadi faktor yang turut menyebabkan target tak tercapai. Akibatnya, banyak wisman yang membatalkan rencana ke Indonesia.

Dia menambahkan, yang perlu dibenahi dalam pembangunan pariwisata adalah infrastruktur yang menjamin terbangunnya konektivitas destinasi wisata. Selain itu, paket-paket promosi wisata harus diperbanyak. “Mendorong daerah untuk membuat event yang unik dan promosi yang memadai. Selain itu, memanfaatkan jaringan diaspora dan pelajar-pelajar Indonesia di luar negeri sebagai agen-agen promosi, serta, menargetkan kunjungan wisatawan berbasis pada kantor kedutaan yang ada di luar negeri,” jelasnya. 



Sumber: Suara Pembaruan