Pelaku Bisnis Pariwisata Pulihkan Destinasi Terdampak Bencana

Pelaku Bisnis Pariwisata Pulihkan Destinasi Terdampak Bencana
Wisatawan asing berada di pusat informasi di kawasan wisata Gili Trawangan, Desa Gili Indah, Tanjung, Lombok Utara, NTB, November 2018, empat bulan pascagempa Lombok. Kawasan wisata Gili Trawangan mulai ramai dikunjungi wisatawan asing, meskipun masih ada reruntuhan bangunan akibat gempa. ( Foto: Antara )
Dina Fitri Anisa / I Nyoman Mardika / ALD Sabtu, 5 Januari 2019 | 17:00 WIB

Jakarta -  Sejumlah pelaku usaha sektor pariwisata tetap optimistis mampu mendatangkan wisatawan mancanegara (wisman) sebanyak 20 juta sebagaimana ditargetkan pemerintah, meskipun masih ada ancaman bencana alam. Mereka justru bergotong royong membangkitkan kembali destinasi wisata yang terdampak bencana, seperti Lombok, antara lain dengan mengajak masyarakat dan wisatawan yang menggunakan jasa mereka untuk berdonasi membangun kembali destinasi yang rusak.

Demikian disampaikan Public Relation Manager Traveloka, Busyra Oryza, dan Chief Executive Officer (CEO) Travacello, Jonathan Thamrin, di Jakarta, Jumat (4/1) dan Sabtu (5/1).

Traveloka bahkan sudah menandatangani kerja sama dengan Kementerian Pariwisata untuk mengusung program #DiscoverWonderfulIndonesia. “Salah satu bentuk dukungan Traveloka adalah dengan menjadi partner resmi Wonderful Indonesia dengan terus mempromosikan destinasi menarik di Indonesia di kawasan Asia Tenggara dengan beragam informasi dan akses produk dan layanan yang tersedia, yang mencakup transportasi, akomodasi, dan experience sehingga memberikan kemudahan untuk menjelajah beragam destinasi menarik di Indonesia,” jelas Busyra.

Tidak hanya itu, Traveloka juga berkomitmen untuk membangun kembali wilayah yang terdampak bencana lewat program Traveloka Tanggap. “Kami mengajak pengguna kami untuk berdonasi lewat penukaran Traveloka Poin yang nantinya akan disalurkan ke organisasi non profit seperti, Palang Merah Indonesia. Dengan begitu, diharapkan wilayah bencana yang terdampak dapat kembali segera pulih,” ujarnya.

Selain Traveloka, travel company berbasis digital lain yang didirikan oleh generasi milenial Indonesia, Travacello juga turut serta mengulurkan tangan membantu merealisasikan target kunjungan wisman 2019.

“Kita lakukan dengan cara-cara yang kreatif untuk menggaet market millenial tidak dengan budget yang besar, tapi lebih yang tepat sasaran. Kami memiliki beberapa ide dan siap berkolaborasi dengan pemerintah,” terang Jonathan.

Dia menambahkan, Travacello juga berperan aktif membantu destinasi wisata yang terdampak bencana. Setelah itu, mereka kembali mempromosikan daerah-daerah yang terkena bencana, dan membuatkan berbagai paket wisata yang menarik.

“Kami memiliki komunitas bernama Caventer, yang terdiri dari beberapa trip operator yang punya kekhususan yang berbeda-beda. Ada yang geologi seperti geo tour, ada yang ahli di budaya, dan juga ada yang fokus ke pengembangan masyarakat desa. Jadi kami turut membantu recovery di kawasan Banten, tentunya dengan berkolaborssi dengan pemerintah,” jelas Jonathan.

Ketua Umum Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Elly Hutabarat juga sependapat, untuk dapat mencapai target 20 juga kunjungan wisman, pemerintah dan pelaku bisnis pariwisata harus bersinergi, terutama untuk menyiasati posisi geografis Indonesia di kawasan rawan bencana.

“Bencana alam menyebabkan dampak yang cukup besar. Indonesia berada di ring of fire atau cincin api dan bencana tidak dapat diprediksi, sehingga membuat orang merasa takut. Jadi setelah bencana itu, kita harus bergerak cepat tanggap, melayani dan meringankan beban para wisatawan dan korban bencana di tujuan wisata yang terkena dampaknya,” terangnya saat dihubungi SP, Sabtu (5/1).

Menurutnya, hal inilah yang sudah seharusnya dipublikasikan ke seluruh dunia. “Sebenarnya pemerintah sudah aktif dan agresif menyebarkan informasi dengan baik selama ini. Namun, harus dibedakan ketika national disaster ini, kita harus ekstra. Harus lebih aktif memberitakan pada dunia, pada saat ada bencana alam, seluruh wisman dapat terangkut dengan baik,” ungkapnya.

Elly mencontohkan sejumlah negara yang mampu membangkitkan kembali sektor pariwisata setelah diguncang bencana besar. “Kita lihat Meksiko yang sempat luluh lantak, tapi mereka bisa menyebarkan informasi dengan baik atas pelayanan mereka ke seluruh dunia. Dan beberapa waktu berselang, industri wisatanya kembali bangkit,” jelasnya.

Bali Optimistis
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Bali Anak Agung Gede Yuniarta Putra, mengungkapkan, sebagai destinasi pariwisata utama, Bali ditargetkan mampu mendatangkan 8 juta wisman pada tahun ini. Jumlah sebanyak itu setara 40% dari target nasional 20 juta wisman.

“Bali berharap pemerintah pusat membantu membenahi infrastruktur, yakni akses yang mempermudah dan memperlancar persebaran wisman ke seluruh Bali,” ujarnya.

Menurut Yuniarta, yang mendesak saat ini adalah pembangunan akses ke Bali barat dan Bali timur. Hal itu untuk mengatasi wilayah Bali selatan yang sudah sangat padat dengan wisatawan.

“Bali, khususnya di selatan, sekarang ini sudah sangat padat. Jika tidak ada upaya menggeser ke wilayah lain, bisa memengaruhi pencapaian target wisman dan pembangunan pariwisata lainnya,” jelasnya.

Terlepas dari harapan pembangunan infrastruktur, Agung Yuniarta optimistis target 8 juta wisman tahun 2019 bisa tercapai. “Dengan segala usaha yang kita lakukan, kita harus optimis itu bisa diwujudkan,” tandasnya.

Wakil Ketua PHRI Bali I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya, menyatakan hal senada. “Malah kita berharap capaiannya bisa lebih dari itu,” kata Rai Suryawijaya.

Untuk itu, lanjut Rai, pihaknya menggencarkan promosi ke sejumlah negara. Di antaranya ke Rusia, India, Hungaria, Spanyol, dan Austria.

Harapannya, dari derasnya kunjungan wisman ke Bali, khususnya di Badung, target pendapatan atau PHR Rp 10 triliun yang dicanangkan Badung, bisa terealisasi. “Makanya kami semua kerja keras, karena targetnya juga tak main-main,” kata Rai Suryawijaya.

Sedangkan, Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Badung, Made Batra menjelaskan, target 6,5 juta wisman ke wilayahnya pada 2018 sudah tercapai. Namun, dia mengaku berat memenuhi target kunjungan 6,8 juta wisman ke Badung pada tahun ini, lantaran masih ada pengaruh dari sejumlah bencana yang terjadi tahun lalu.



Sumber: Suara Pembaruan