Ini Alasan Tarif ke Komodo Naik Hingga Rp 7 Juta Per Orang.

Ini Alasan Tarif ke Komodo Naik Hingga Rp 7 Juta Per Orang.
Wisatawan menyaksikan Komodo di TN Komodo.
/ HS Rabu, 6 Februari 2019 | 07:12 WIB

Labuan Bajo, Beritasatu.com - Kontroversi yang dilakukan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat terkait Taman Nasional Komodo (TNK) masih terus bergulir. Selain berencana menutup TNK bagi wisatawan selama setahun, Viktor juga akan menaikkan tarif masuk mencapai 500 Dolar AS (sekitar Rp 7 juta, 1 Dolar AS setara Rp Rp 14.000) bagi wisatawan mancanegara (wisman) dan 100 Dolar AS (Rp 1,4 juta) bagi wisatawan Nusantara.

Ketika wacana kenaikan tarif menggelinding, beberapa paket wisata ke objek wisata raksasa purba itu terpaksa dibatalkan.
Para pelaku wisata di Labuan Bajo, Manggarai Barat (Pulau Flores), NTT, pun kecewa karena uang yang harusnya masuk ke saku dari kunjungan paket wisata ke Komodo, justru batal. Fenomena yang dihadapi para pelaku wisata di Labuan Bajo itu tampaknya belum mendapatkan response dari Gubernur NTT yang gigih untuk menaikan tarif masuk tersebut. Bahkan, kata dia, jika ada penolakan dari wisman, sebaiknya yang bersangkutan tak boleh datang berwisata di TNK.

"Kalau dia (wisatawan, red) merasa mahal tidak usah datang. Kalau tidak ada uang jangan datang berlibur di sini," katanya menegaskan.

Adapun alasan menaikkan tarif masuk ke TNK karena komodo (varanus komodoensis) hanya ada di NTT. Tak ada pemandangan yang indah seelok di TNK, dan tak ada komodo di dunia lain, selain di NTT.

Baginya, komodo adalah binatang purba langka raksasa satu-satunya di dunia ada di Flores, NTT. Wajar kalau tiket masuknya juga harus mahal.

Viktor mencontohkan kawasan termahal di Bhutan, Nepal. Setiap wisawatan wajib mengeluarkan 250 Dolar AS jika masuk ke kawasan wisata tersebut. Wisatawan pun tetap masuk ke sana. Kenapa TNK tidak diberlakukan demikian?

"Saya yakin banyak wisatawan asing tetap berdatangan ke TNK meski tarif masuknya dinaikkan. Turis asing ingin mengetahui sesuatu yang langka dan unik sehingga saya tetap optimis bahwa jumlah kunjungan ke TNK tetap akan tinggi meski harganya mahal," kata Viktor.

Wacana kenaikan tarif ke TNK itu belum diputuskan. Pemerintah terus bernegosiasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kependudukan (KLHK) untuk mengelola bersama taman nasional yang dihuni sekitar 3.000-an ekor binatang purba komodo itu.

Bupati Manggarai Barat Agustinus Ch Dula merasa tidak masalah kalau pengelolaan TNK berada di bawah kendali Pemprov NTT, namun dikhawatirkan menambah kerusakan TNK. Untuk itu, perlu kajian mendalam terhadap pengelolaan TNK agar nama besar komodo jangan sampai punah seiring dengan pengelolaan tersebut.



CLOSE