Lewat "Indonesia Ramah", Mahasiswa Poltekpar Dukung Target 20 Juta Wisman

Lewat
Alumnus Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXI Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) AM Putut Prabantoro pada acara "Pembinaan Sikap Dasar dan Profesi (PSDP)" yang diadakan di Kampus Poltekpar Palembang, Sumatera Selatan, Jumat, 9 Agustus 2019. ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Sabtu, 10 Agustus 2019 | 23:00 WIB

Palembang, Beritasatu.com - Ratusan mahasiswa baru Politeknik Pariwisata Palembang (Poltekpar), Sumatera Selatan, berjanji akan mengkampanyekan “Indonesia Ramah” sebagai bentuk dukungan pencapaian target kunjungan 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada 2019 yang ditetapkan pemerintah.

Direktur Poltekpar Palembang, Zulkifli Harahap menegaskan, pihaknya akan menindaklanjuti arahan Menteri Pariwisata Arief Yahya yang memutuskan Palembang sebagai destinasi sport tourism Indonesia. Sebagai tindak lanjut, ada dua hal yang saat ini menjadi fokusnya, yaitu pendidikan sumber daya manusia (SDM) pariwisata dan kerja sama antara Poltekpar Palembang dengan berbagai pihak terkait, baik lokal, nasional, bahkan internasional, pemerintah ataupun swasta, untuk bersama-sama mewujudkan Palembang sebagai "Kota Destinasi Sport Tourism".

Janji kampanye “Indonesia Ramah” tersebut diteriakan 312 mahasiswa baru Poltekpar Palembang dalam acara "Pembinaan Sikap Dasar dan Profesi (PSDP)" yang diadakan di Kampus Poltekpar Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (9/8/2019). Janji itu merupakan respon terhadap tantangan yang diajukan alumnus Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXI Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), AM Putut Prabantoro, yang menjadi narasumber dalam kapasitasnya sebagai konsultan komunikasi publik. Putut menampilkan paparannya bertajuk “Pariwisata dan Ketahanan Nasional”.

Menurut Putut Prabantoro, pemerintahan Presiden Joko Widodo telah menetapkan target kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 20 juta orang. Target ini membutuhkan kerja keras dari semua pelaku industri pariwisata termasuk dunia pendidikannya karena mereka mencetak SDM berkualitas di bidang pariwisata.

Meskipun berbeda dalam produk pariwisatanya, semua pelaku industri pariwisata harus menyadari bahwa ada karakter dasar yang harus dimiliki, apalagi bagi bangsa Indonesia yang sudah terlanjur dikenal keramhatamahannya.

“Keramahan Indonesia sebagai bangsa akan memperkaya makan kata-kata Wonderful Indonesia. Masalahnya adalah setelah reformasi dan bahkan belakangan ini, Indonesia bisa dikatakan kehilangan karakter sebagai bangsa yang ramah. Bangsa Indonesia sangat terlihat berubah menjadi bangsa yang mudah sekali tersinggung meski hanya untuk perkara yang sangat remeh sekalipun," kata Putut.

Menurut Putut Prabantoro, media sosial bukan dimanfaatkan untuk tujuan positif malah menjadi sarana memancing konflik dan kebencian. Perubahan ini dilihat masyarakat dunia. Masyarakat dengan mudah tersulut kemarahan atau dalam berkomunikasi tidak santun lagi.

"Bukan hanya soal agama penyebabnya, tetapi juga dipicu oleh faktor lain, misalnya perbedaan pilihan politik atau soal perbedaan suku dapat menjadi sumber kemarahan,” jelas Putut Prabantoro.

Kondisi ini jika tidak diperbaiki, menurutnya, dapat memengaruhi industri pariwisata Indonesia. Keramahan itu memang menyangkut bahasa tubuh (body language) yang dapat terbaca secara fisik oleh siapa pun. Namun, di balik sikap ramah itu terdapat sikap tolerani, sikap saling menghormati dan tidak membeda-bedakan satu sama lain. Para pelaku usaha pariwisata harus memahami dan sekaligus menghormati para wisatawan mancanegara itu memiliki berbagai latar belakang baik budaya, bahasa ataupun warna kulit.

“Bagaimana pariwisata bisa berhasil jika pemahaman kesatuan dalam perbedaan sebagai makna Bhinneka Tunggal Ika, tidak dipahami. Tidak ada budaya di mana wisatawan mennilai diskriminasi dalam pelayanan terjadi di dunia pariwisata. Misalnya, wisatawan Eropa lebih terhormat daripada Asia atau wisatawan Timur Tengah lebih diistimewakan dibandingkan dari Afrika. Atau, adanya perbedaan perlakuan untuk wisatawan pribadi dengan yang rombongan. Semua sama. Keramahan merupakan awal dari semuanya,” ujar Putut Prabantoro.

Oleh karena itu, dia mendorong para mahasiswa Poltekpar Palembang secara terbuka mengkampanyekan "Indonesia Ramah", baik bagi dirinya sendiri dan rekan-rekan segenerasinya.

Sementara itu, selain menegaskan kembali soal Palembang sebagai "Destinasi Sport Tourism", Zulkifli mengatakan, mahasiswa pariwisata harus merasa bangga dengan ditransformasikannya pariwisata sebagai primadona ekonomi nasional.

Secara langsung, transformasi ini akan membuka ribuan lapangan kerja, yang artinya membutuhkan SDM berkualitas di dunia pariwisata. Namun, mahasiswa pariwisata diingatkan tentang adanya berbagai ancaman, termasuk pengaruh budaya asing yang dapat menghambat kemajuan dunia pariwisata Indonesia. Apalagi, sebagian masyarakat menganggap budaya asing lebih baik dari budaya Indonesia.

“Poltekpar Palembang akan menyesuaikan diri terkait dengan ditetapkannya Palembang sebagai Destinasi Sport Tourism. Ke depan sudah pasti banyak lapangan kerja yang tersedia dan itu membutuhkan banyak SDM pariwisata yang berkualitas. Tugas Poltekpar Palembang mempersiapkan SDM berkualitas yang dituntut oleh industri wisata, khususnya sport tourism,” kata Zulkifli Harahap.



Sumber: BeritaSatu.com