Mengarungi Pesona Kepulauan Tanpa Gerbang

Mengarungi Pesona Kepulauan Tanpa Gerbang
Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. ( Foto: beritasatu,com / Yudha Baskoro/Jakarta Globe )
Nurlis E Meuko / NEF Selasa, 13 Agustus 2019 | 08:07 WIB

TAK semua wilayah Jakarta laksana lautan kendaraan penyebab polusi dan kemacetan. Masih ada Kepulauan Seribu yang menawarkan cerita indah: damai dan tenang bersama begitu banyak pesona alam yang menghiasi lautan nyata.

Bahkan, perbedaan itu sudah terasa begitu tiba di dermaga Marina, Ancol, Jakarta Utara, ketika disambut belaian angin laut sepoi-sepoi. Atmosfer yang sama juga terasa di Muara Angke dan Kali Adem.

“Ketiga pelabuhan ini melayani pelayaran ke berbagai kawasan di Kepulauan Seribu,” kata Bupati Kepulauan Seribu, Husein Murad, kepada BeritaSatu.com, pekan lalu.

Hanya saja, suasana Jakarta itu masih terasa begitu melongok ke air laut di tiga pelabuhan yang keruh tercemar aneka sampah dan limbah. Setelah kapal beranjak menjauhi dermaga, lautan tampak semakin jernih. Ini menjadi pertanda memasuki Kepulauan Seribu yang tanpa gerbang itu.

Lautan yang membentang selama berlayar adalah kawasan perairan dan daratan pulau yang membujur dari Pulau Sebira--sebelah utara--ke arah tenggara di Teluk Jakarta.

Terletak di sebelah utara Teluk Jakarta, wilayah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu seluas 869,61 hektare yang berupa pulau-pulau kecil yang bertabur di perairan DKI Jakarta yang mencapai 6.997,50 kilometer persegi (699.750 hektare).

Secara geografis, kepulauan ini berada pada satu kawasan pelayaran laut yang memiliki tiga arah, yaitu pertama, perairan Bangka Belitung bagi Selat Malaka dan Laut Cina Selatan, dan kedua, Selat Sunda bagi Samudera Hindia, serta ketiga, adalah Laut Jawa yang dari arah timur.

Hingga saat ini, perairan Kepulauan Seribu merupakan bagian dari jalur pelayaran internasional lintas Australia.

Di jalur itulah speedboat mengarungi laut menuju pusat Kabupaten Kepulauan Seribu, Pulau Pramuka. Sepanjang berlayar hanya ada keindahan laksana lukisan. Cahaya matahari menerpa punggung laut bergelombang mengayun perahu nelayan yang ditingkahi burung melayang di udara.

Perlahan boat merapat ke pelabuhan Pulau Pramuka. Di sini ada tiga dermaga, yang paling kiri adalah tempat pelelangan ikan (TPI), di sebelah kanannya di depan rumah sakit adalah terminal utama pelabuhan tempat naik turun penumpang, lalu tepat di depan Kantor Bupati Kepulauan Seribu ada satu lagi dermaga untuk sandar kapal pemerintahan.

Pelabuhan Pulau Pramuka hanya aktif dari pukul 6.30 pagi hingga pukul 17.00 sore. Dimulai dengan hiruk-pikuk perahu dan kapal pengangkut anak sekolah dari pulau lain, kemudian dilanjutkan dengan kapal penumpang yang bersandar dan berakhir sore hari.

Tanpa Polusi
Waktu seperti bergerak lambat di Pulau Pramuka. Tanpa hiruk pikuk dan sepi dari kebisingan. Tentu tanpa polusi. Di sini tak ada mobil. Beberapa sepeda motor berseliweran tak begitu berguna, dan sepeda dikayuh seadanya, sebab mengelilingi pulau seluas 16,73 hektare ini cukup dengan berjalan kaki.

Menurut sejumlah literatur, Pulau Pramuka ini sebelumnya bernama Pulau Lang (Elang), sebab di sinilah habitat burung elang bondol yang sekarang menjadi lambang DKI Jakarta. Sejak 1980, elang-elang menghilang dan berganti menjadi permukiman penduduk yang padat.

Belakangan nama pulau ini berganti menjadi Pulau Pramuka karena memang para anggota pramuka berlatih di sini sebelum ada Bumi Perkemahan Cibubur di Jakarta pada era 1950-1970.

Kemudian menjadi pusat pemerintahan kabupaten sejak 2003, tepatnya empat tahun setelah Kecamatan Kepulauan Seribu ditingkatkan statusnya menjadi kabupaten administratif sesuai Undang-Undang Nomor 34 Tahun 1999 dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu.

Ketika tim liputan BeritaSatu.com berkunjung, Pulau Pramuka sudah dipadati penduduk. Kendati sebagai pusat kabupaten, tetapi di sini tak ada pasar. Bahkan, tak satu pun ruko ada di sini. Hanya rumah-rumah penduduk yang difungsikan menjadi warung dan kios-kios kecil di pelabuhan.

Suasananya seperti kompleks perumahan yang tertata tertata rapi dan bersih. Dilengkapi masjid, rumah sakit, kantor pos, sekolah, dermaga, TPI, vila, dan penginapan bagi pengunjung wisata. Terdapat sembilan sarana pendidikan berjenjang, dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas.

Lahan hijau di sebelah kiri pulau menjadi pusat aktivitas masyarakat untuk mengolah sampah dan menanam pohon. Juga terdapat sarana pelestarian penyu sisik. Selain itu, ada pula penanaman bakau yang ditata apik dan ramai dikunjungi wisatawan.

Dari Pulau Pramuka inilah Kabupaten Kepulauan Seribu dikendalikan. Husein Murad tercatat sebagai bupati ke-10 yang mengelola 110 pulau di Kepulauan Seribu. Ia dilantik Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada 5 Juli 2018.

Tak semua pulau berpenghuni. Penduduk yang berjumlah sekitar 25.000 jiwa hanya mengisi 11 pulau. Selebihnya adalah pulau wisata dan karang. Warga Pulau Pramuka melakoni pekerjaan sebagai nelayan dari Senin sampai Jumat. Sedangkan Sabtu-Minggu, mereka bersalin rupa menjadi pemandu wisata dan menyewakan perahunya untuk wisatawan.

Kawasan Wisata
Sebetulnya, kawasan Kepulauan Seribu bergerak ke arah kawasan wisata bahkan menjadi salah satu dari 10 destinasi wisata prioritas atau biasa disebut "10 Bali Baru" yang ditetapkan pemerintah sejak 2016.

“Saat ini banyak penduduk beralih profesi--atau setidaknya berprofesi ganda--dari nelayan menjadi pelaku usaha wisata, seperti membuka homestay, menjadi pemandu wisata, dan menyewakan perahu ikan untuk mengantar wisatawan ke titik destinasi,” kata Bupati Husein.

Berkaitan dengan wisata, maka perilaku bersih menjadi poin penting Husein. Di titik ini, ia telah mampu membuat penduduk Kepulauan Seribu menjadi sangat sadar kebersihan.

Masalah justru datang dari para wisatawan yang datang dari Jakarta dan sekitarnya. Mereka membuang sampah sembarangan dan mencampakkan kemasan minuman ke dalam lautan yang jernih. Wargalah yang kemudian membersihkannya.

Untuk meningkatkan kualitas dunia wisata di Kepulauan Seribu, Husein sedang mengupayakan agar pemandu wisata mampu menguasai bahasa asing. “Minimal bahasa Inggris dan bahasa Mandarin. Sebab pengunjung dari Tiongkok makin hari kian bertambah,” katanya. Rencana ini sedang digodoknya.

Selain itu, Husein juga mengawinkan budi daya kelautan dengan pariwisata. Alasannya, katanya, budi daya kelautan lebih ramah lingkungan ketimbang pekerjaan nelayan tangkap.

“Laut yang indah, maka wisatawan betah. Wisatawan tertarik datang menyelam menikmati keindahan bawah laut,” katanya.

Saat ini, ia juga mengembangkan pertanian rumput laut (seaweed). Ia rajin berenang untuk melihat perkembangan para petani rumput laut di Kepulauan Seribu.

Pengembangan budi daya rumput laut ini dinilai dapat melestarikan lingkungan kelautan, sebab rumput laut membutuhkan nutrien yang berasal dari air di terumbu karang yang memiliki kemampuan menstabilkan nutrien.

Ternyata Husein bukan hanya berteori. Ia sendiri sering nyemplung ke dalam laut di pagi hari untuk memantau tempat budi daya kelautan. Tak lupa ia merekam video dan mempromosikannya agar mendapat bantuan pemerintah dan tentu saja ini menjadi bagian dari program wisata itu sendiri.

Sambutan Baik
Program pemerintah itu tampaknya mendapat sambutan baik dari masyarakatnya. Misalnya, Muhibi, seorang nelayan yang sangat memperhatikan keindahan laut dan kebersihan pulau. “Secara pembangunan sudah dilaksanakan secara bertahap dan dirasakan oleh masyarakat,” katanya.

Menurut Muhibi, hanya segelintir masyarakat saja yang masih belum sadar pentingnya kebersihan. “Beberapa juga belum sadar pentingnya merawat karang untuk keindahan. Nelayan-nelayan dari luar pulau masih ada yang berperilaku merusak laut. Perlu kesadaran masyarakat yang menyeluruh,” katanya.

Pendapat yang sama disampaikan Baby Widyafatika, pengelola sebuah rumah penginapan di Pulau Pramuka. Ia mengatakan, wisatawan yang datang ke Kepulauan Seribu adalah yang suka pada keindahan alam.

“Perawatan lingkungan dan kebersihannya menjadi bagian yang sangat penting," katanya.



Sumber: BeritaSatu.com