Penggiat Wisata Ungkap Butuh Akses Lebih Banyak ke Keraton

Penggiat Wisata Ungkap Butuh Akses Lebih Banyak ke Keraton
Diskusi Pesona Keraton Keagungan Warisan Sejarah di Gedung BPPT, Jakarta, Jumat 23 Agustus 2019. ( Foto: dok )
Yudo Dahono / YUD Sabtu, 24 Agustus 2019 | 08:44 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penggiat pariwisata keraton Indonesia mengungkapkan bahwa mereka membutuhkan akses lebih banyak ke dalam lingkungan keraton. Hal tersebut terungkap dalam diskusi Pesona Keraton Keagungan Warisan Sejarah di Gedung BPPT, Jakarta, Jumat (23/8/2019). Diskusi tersebut digelar oleh Penggiat Startup Turism Indonesia (Pasti) bekerja sama dengan Kementerian Maritim Bidang Sosio Antropologi Indonesia, dan Masyarakat Adat Kerajaan Nusantara (MAKN) serta Forum Komunikasi Informasi Keraton Nusantara (FKIKN).

"Kami membutuhkan inventori atau paket perjalanan pariwisata, sebelumnya secara umum kami ada paket jalan-jalan ke keraton di permukaaan saja, akses terbatas, tapi kami ingin masuk lebih dalam ke keraton, sejarah dan kehidupannya. Bagaimana sih kehidupan di keraton, bagaimana komunikasi di keraton, sekaligus MAKN dan FKIKN butuh saluran kegiatan yang berdampak ke kaum milenial, sekarang kan ada gap antara generasi tua dan muda, dan kami ingin coba menjembataninya, kami memiliki pelaku pariwisata, kami mencoba memberi pemahaman baru adanya periwisata berbasis kebudayaan untuk mengakses keraton lebih dari orang lain, ini benefitnya," ungkap Sekretaris Jenderal Pasti Kusuma Widya, DP.

Sementara itu Tukul Rameyo Adi, Staf ahli Bidang Sosio Antropologi Kemenko Maritim mengatakan bahwa Indonesia kini telah memunculkan revitalisasi jalur rempah sebagai bagian dari program pemajuan budaya.

Menurutnya, balsem-balsem Firaun disebut berasal dari Arab tapi sebetulnya berasal dari Nusantara, sampai ke India dan Eropa.
Jejak itu dilanjutkan sejak hadirnya raja-raja terutama Sriwijaya, dan menjadi perebutan perdagangan antara Tiongkok dan India tapi Sriwijaya mengatakan untuk urusan laut urusan kami.

"Jalur rempah kini akan menjadi bagian dari pemajuan budaya kita, di 10 destinasi wisata kita terlebih dahulu akan dikembangkan di Belitong, Bali dan Ternate, karena bangsa Indonesia sejak ribuan tahun lalu konon sudah berani mengarungi laut, selain memiliki jiwa petualang dan pembelajar bangsa kita juga memiliki jiwa pedagang, bangsa maritim adalah bangsa pedagang, yang diperdagangkan sejak dulu adalah rempah ke seluruh dunia, Mesir, India dan Eropa khususnya," ungkapnya.

Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal Masyarakat Adat Kerajaan Nusantara (MAKN) RA Yani WSS Kuswodidjojo mengatakan peran budaya juga ada di keraton, UUD No 5 Tahun 2017 tentang Kemajuan Kebudayaan, 10 objek kemajuaan kebudayaan, peran keraton sebagai pusat pengetahuan budaya

"Misal dari keraton Sumenep, akar dari batik Madura Astatinggi diukir menjadi batik, juga buku rempah ditulis dengan tulisan tangan arab gundul ada di Sumenep, ditulis diatas kertasnya dari semacam daun tapi tidak rusak, itu baru di Sumenep bagaimana dengan kerajaan lain pasti ada ada budayanya," ujar Bunda Yani panggilan akrabnya.

Kemko Maritim menyatakan bahwa pada tahun 2019 ini akan memulai pilot project Spice Road Connection sebagai kegiatan inisiatif mencoba revitalisasi jalur rempah untuk mendukung pariwisata

"Jadi kita akan coba jalur rempah, budaya keraton dan museum serta geopark, Kemenko Maritim yang akan mengkordinir melalui program Budaya Bahari didalam RPJM," pungkasnya.



Sumber: BeritaSatu.com