Pariwasata di Calon Ibu Kota Baru Harus Dikembangkan dengan Hati-hati

Pariwasata di Calon Ibu Kota Baru Harus Dikembangkan dengan Hati-hati
ilustrasi Sungai Mahakam (antara)
Dina Fitri Anisa / FMB Kamis, 29 Agustus 2019 | 16:01 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kabupaten Penajam Paser Utara di Provinsi Kalimantan Timur telah ditetapkan sebagai salah satu lokasi ibu Kota baru Indonesia, oleh Presiden Joko Widodo, pada Senin (26/8/2019). Lokasi lainnya yaitu Kutai Kartanegara.

Walau teredengar tidak sepopuler Pulau Jawa ataupun Bali, tempat wisata di Kalimantan Timur tetap menggoda untuk dikunjungi. Potensi pariwisata di Kalimantan memiliki karakteristik yang unik dan berbeda dari destinasi lainnya. Terlebih, Kabupaten Penajam Paser Utara sangat didukung oleh letak posisinya yang strategis sebagai pintu gerbang trans-Kalimantan serta menjadi lalu lintas perdagangan antar provinsi.

Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI), Azril Azhari mengatakan keputusan pemerintah untuk memindahkan ibu kota ke Kalimantan tidak ada salahnya. Ia bahkan mendukung, apabila pemerintah yang baru ini bisa mengembangkan pariwisata Kalimantan yang sempat dianaktirikan.

Namun, pria kelahiran Pontianak ini memberikan wejangan agar pariwisata berbasis alam di Kalimantan mampu dikembangkan dengan konsep eco friendly. Serta dibangun untuk tujuan, quality tourism, bukan lagi mass tourism. Hal ini dikarenakan, kondisi alam di Kalimantan berbeda dengan ragam destinasi yang ada di pulau Jawa dan sekitarnya.

“Saya katakan, harus hati-hati membangun Kalimantan. Tanah, air, dan udara di sana berbeda. Begitupun dengan ragam ekosistem hewan dan tumbuhan juga berbeda. Pemerintah harus terlebih dulu meneliti dengan baik, jangan sampai pembangunan yang asal akan membuat Kalimantan menjadi padang pasir,” jelasnya kepada SP melalui sambungan telepon, Kamis (29/8/2019).

Banyak manfaat yang akan didapat menurutnya, jika pemerintah menjalankan pembangunan quality tourism di ibu kota baru Indonesia itu. Selain bisa menjaga keasrian alam, quality tourism juga akan mendatangkan para wisatawan yang terbatas, tetapi berkualitas.

“Percuma kalau mass tourism digalakan tetapi yang datang wisman backpacker semua. Kalau kita membangun destinasi khusus, maka orang berbondong-bondong akan datang, bahkan siap mengantri dengan budget yang tinggi sekalipun,” ungkapnya.

Ia pun menyebut, beberapa kekayaan alam yang bisa menjadi daya tarik pariwisata di Kalimantan. Seperti, sungai terbesar di Kalimantan Timur yang mengalir sepanjang 920 km, yaitu Sungai Mahakam. Di sungai ini, terdapat salah satu keunikan yang tidak dimiliki sungai lain di Indonesia, yaitu hidupnya lumba-lumba air tawar.

Kemudian, Kalimantan Timur juga punya danau cantik bernama Danau Labuan Cermin. Danau ini berada di Desa Labuan Kelambu, Kecamatan Biduk-biduk, Kabupaten Berau. Danau Labuan Cermin punya keunikan rasa air. Di permukaannya tawar, namun air di bagian dalam terasa asin. Karena itulah danau ini dikenal juga dengan nama Danau Dua Rasa.

Sedangkan dari sisi fauna, Kalimantan sangat terkenal dengan hidupnya spesies orangutan yang sudah dilindungi keberadaannya. Hal inilah yang harus diperhatikan dalam pengelolaannya, jika berada di tangan yang salah langkah Azril mengatakan, seluruh ekosistem alam di Kalimantan akan berantakan dan tidak seimbang.

Maka, ia juga menyarankan agar pemerintah mengurangi investor asing dalam pembangunan pariwisata di Kalimantan. Menurutnya, lebih baik mengembangkan community based tourism, di mana masyarakat asli Kalimantan yang turun tangan untuk mengelola kekayaan alam mereka sendiri.

“Menteri Pariwisata selanjutnya harus mengerti betul tentang pariwisata. Destinasinya harus digarap dengan baik dari sisi daya tariknya. Bukan mengubah menjadi produk yang masal, demi mencapai target angka yang tinggi saja,” tukasnya.



Sumber: Suara Pembaruan