Pesona Penginapan Eksotis di Rumah Adat Kawasan Gunung Mutis

Pesona Penginapan Eksotis di Rumah Adat Kawasan Gunung Mutis
Mateos Anin bersama istri sebagai pengelola homestay di kawasan Gunung Mutis, Mollo Utara. ( Foto: Kemenpar / IST )
Jayanty Nada Shofa / JNS Minggu, 3 November 2019 | 21:23 WIB

MOLLO UTARA, Beritasatu.com - Berkunjung ke negeri dongeng tak lagi menjadi sebuah khayalan apalagi jika berkunjung ke Dusun Anin Fuka, Fatumnasi, Mollo Utara, Timor Tengah Selatan.

Di sana, terdapat sebuah situs raksasa alam dan budaya dengan cagar Gunung Mutis sebagai porosnya untuk dijadikan sebagai tujuan wisata. Dengan ketinggian 2,458 meter di atas permukaan laut, wisatawan akan melihat keindahan hutan bonsai yang didominasi pohon kayu putih (Eucalpytus Alba). Pohon cendana (Santalum Album) turut menjadi bagian dari pesona gunung ini. Selain itu, savana luas yang dipenuhi oleh sapi dan kuda menjadi pemandangan khas bagi para wisatawan yang berkunjung.

Selain sebagai spot pendakian, para wisatawan biasanya berkunjung untuk menikmati terbitnya matahari. Tak hanya keasrian alam, ragam warna budaya masyarakat Fatumnasi turut menjadikan pengalaman berwisata menjadi sangat berkesan.

Salah satu dari keragaman budaya ini adalah rumah adat khas Timor.

"Kami masih menjaga keaslian alam dan budaya. Kawasan ini selalu ramai dikunjungi wisatawan. Ada banyak aktivitas yang dapat dinikmati selama berada di Fatumnasi baik menikmati Cagar Alam Gunung Mutis ataupun kegiatan budaya. Di sini, wisatawan bisa ikut beraktivitas bersama masyarakat," kata Tokoh Kunci Desa Futumnasi serta pengelola Home Stay Lopo Mutis, Mateos Anin, Sabtu (2/11).

Semangat masih terlihat pada Mateos di usianya yang sudah menginjak 82 tahun. Bertekad ingin terus mengembangkan homestay-nya, ia aktif berpartisipasi dalam sejumlah workshop oleh dinas pariwisata setempat maupun Kemenpar. Berdiri sejak tahun 2010, ia mulai mengembangkan homestay-nya sejak mengikuti workshop Kemenpar di UGM Yogyakarta dua tahun setelahnya.

Lalu, Mateos Anin memperkenalkan dirinya sebagai generasi ke-9 dari keluarga bangsawan marga Anin dan Fuka. Bersama istrinya, ia tinggal di salah satu rumah adat yang cukup besar di mana mereka tidur ditemani hewan-hewan seperti burung dara dan babi. Di rumah adat ini, renovasi juga hanya dilakukan setiap 20 tahun sekali.

"Saat renovasi rumah, kami keluarga besar kumpul. Anak, cucu, saudara-saudara keturunan Anin Fuka semua datang," ujarnya.

Daya tariknya tak berhenti di situ. Rumah adat ini juga menjadi semacam museum mini yang memperlihatkan beragam barang peninggalan leluhur bahkan dari sejak abad ke-16. Tetapi, dalam berkunjung, wisatawan perlu memerhatikan beberapa zona dalam rumah adat yang dikeramatkan. Ada tangga yang hanya boleh dilalui ibu-ibu serta adanya tongkat dengan pedang di dalamnya. Terdapat pula kursi yang hanya boleh diduduki oleh para tetua adat dan barang pusaka lainnya.

Selain itu, terdapat 15 rumah adat atau Umay Bubu lainnya yang disewakan. Untuk wisatawan nusantara, sewa Umay Bubu dikenakan harga Rp 200.000, sedangkan wisatawan mancanegara dihitung per kepala Rp 100.000. Satu Umay Bubu ini memiliki 3 tempat tidur untuk beristirahat setelah berjelajah.

Dengan beragam pesona dan keunikannya, Fatumnasi menjadi rujukan utama para wisman. Mereka umumnya ingin merasakan eksotisnya tinggal di Umay Bubu dengan suasana pegunungan nan indah dan sejuk. Tak hanya itu, fasilitas homestay juga mempererat para wisman dengan masyarakat lokal terutama dengan mengikuti beragam aktivitasnya.



Sumber: BeritaSatu.com