Siasati Penurunan Wisman, Wisatawan Domestik Perlu Digenjot

Siasati Penurunan Wisman, Wisatawan Domestik Perlu Digenjot
Sejumlah wisatawan memadati sejumlah toko oleh-oleh khas Lampung untuk berburu jajanan khas Lampung, Bandarlampung, Rabu 25/12/2019 ( Foto: Antara / Ruth Intan Sozometa Kanafi )
Lona Olavia / FMB Kamis, 6 Februari 2020 | 14:38 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Merebaknya virus korona menjadi momentum positif untuk membangkitkan minat para wisatawan domestik untuk menjelajahi negaranya. Namun, minat tersebut juga harus didorong dengan penurunan harga tiket domestik.

Ketua Kompartemen Industri Pariwisata Kadin Pusat Rainier H Daulay mengaku, pariwisata di tahun ini amat berat, bukan hanya merosotnya jumlah kedatangan dari turis Tiongkok, namun juga negara lainnya. “Setelah virus korona, sekarang ada isu flu burung, flu babi dan tak tahu ujungnya sampai kapan. Maskapai pun tak hanya kurangi penerbangannya, namun ada juga yang mengimbau karyawan untuk cuti tanpa gaji. Artinya, akan berat sekali,” ucapnya kepada SP, di Jakarta, Kamis (6/2).

Dalam situasi ini, ia mengatakan, potensi wisatawan nusantara perlu dihidupkan kembali dan jangan ketergantungan dengan wisatawan asing saja. Apalagi, Indonesia memiliki banyak obyek wisata. Namun, dengan catatan pemerintah perlu kasih insentif ke maskapai agar harga tiket pesawat lebih terjangkau. “Peran pemerintah sangat diperlukan, sebagai yang punya kuasa dan regulasi tinggal dipermudah. Kenapa kita ribut soal (turis) asing, kita harus dorong yang lokal,” katanya.

Pemerintah, sambung Rainier juga bisa memindahkan rapat-rapat yang biasanya di Jakarta ke daerah, supaya daerah tidak surut. Daerah yang paling terdampak dari penurunan jumlah wisatawan sendiri seperti Bali dan Manado. “Yuk, berbenah dan pemerintah harus punya peran besar, kalau pemerintah tak bisa mengatur sedemikian rupa, maka dampaknya akan besar. Ini 2-3 minggu saja sudah begini,” ujar imbuh ia.

Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Elly Hutabarat juga mengatakan, tahun 2020 akan jadi tahun yang sulit bagi industri pariwisata Indonesia. Belum lagi, target jumlah wisman tahun 2020 sudah diturunkan dari 2019 menjadi hanya 17 juta kunjungan. Jika wisatawan dalam negeri ikut menurun, maka bisnis pariwisata bakal benar-benar merasa tertekan.

Menurutnya, larangan pemerintah Tiongkok kepada warganya untuk tak bepergian keluar negeri bisa dipahami. Selain mencegah penularan virus korona, ia menilai pemerintah Tiongkok tak mau ambil risiko warganya dicurigai dan diisolasi di negara tujuan. Terlebih, sejumlah negara kini tak mau lagi menerima kunjungan apa pun dari Tiongkok. Gara-gara ini pula, Astindo mendapat laporan pembatalan 10.000 wisman asal Tiongkok batal berkunjung ke Bali.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mengungkapkan, virus korona sangat berdampak pada pengusaha. Kekhawatiran pengusaha pun semakin menjadi karena tanda-tanda virus ini akan teratasi masih belum jelas. Alhasil, sejumlah anggotanya juga sudah melaporkan penurunan jumlah wisman secara signifikan. Ia menyebut, misalnya, okupansi hotel di Bali anjlok. Sementara hotel di Kabupaten Bandung yang biasanya masih mampu memperoleh okupansi 40 persen di low season, kini hanya di bawah 30 persen. Lainnya, ia mencatat okupansi hotel di Kota Manado turun menjadi 30 persen padahal biasanya mencapai 70 persen.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio memprediksi kerugian pariwisata Indonesia akibat terhentinya penerbangan dari dan ke Tiongkok sekitar US$ 4 juta. Diketahui, Indonesia menutup penerbangan dari dan ke Tiongkok usai menyebarnya virus korona di sana.

“Seperti diketahui wsiatawan dari Tiongkok dalam masa setahun ada 2 juta. Kalau dihitung dari segi devisa karena pengeluara rata-rata mereka US$ 1.400, kan berarti hampir US$ 4 juta kita kehilangan dari Tiongkok,” sebutnya.

Karenanya, pemerintah akan berupaya menggenjot potensi wisatawan lokal dan wisatawan negara lain untuk mengarahkan liburannya dari Tiongkok ke Indonesia. Ia menambahkan, pihaknya akan menjajaki kerja sama dengan pesawat-pesawat yang tak bisa terbang ke Tiongkok untuk mengalihkan rutenya sementara waktu terbang ke sejumlah destinasi wisata Indonesia.

Beberapa destinasi wisata Indonesia yang akan disiapkan sebagai pengganti destinasi wisatawan asing dan domestik ke Tiongkok ialah Bali. Wishnu menilai Bali saat ini paling siap menjadi destinasi wisata alternatif. Apalagi, di Bali saat ini juga terjadi penurunan jumlah wisatawan dari Tiongkok. Oleh sebab itu, pemerintah akan menggantinya dengan wisatawan negara lain dan domestik.

Sementara itu, Ekonom Indef Bhima Yudhistira Adhinegara menilai, target wisman mengalami perlambatan karena beberapa faktor seperti ekonomi global yang terpengaruh perang dagang, Brexit dan instabilitas geopolitik. Ini akibatnya kunjungan wisman dari negara tradisional menurun, misalnya Tiongkok yang anjlok 3 persen pada tahun lalu. Kemudian adanya bencana alam sepanjang 2019 seperti gempa bumi, tsunami dan gunung meletus membuat wisman menunda perjalanan ke Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan beberapa strategi untk menarik wisman, misalnya melalui paket-paket wisata diskon, harga tiket pesawat internasional ke dalam negeri diturunkan khususnya Garuda Indonesia, dan menbuat event-event yang menarik. “Saya kira potensi wisman dari negara alternatif seperti Rusia, Timur tengah masih cukup tinggi,” katanya.

Terkait korona, ia pun mengakui akan berdampak signifikan ke sektor pariwisata seperti penurunan serapan tenaga kerja bahkan bisa PHK, penurunan pertumbuhan ekonomi di Bali dan Lombok, jelas mengurangi devisa yang masuk. Tahun ini pun diperkirakan pertumbuhan wisman minus. Padahal, kontribusi pariwisata 10 persen ke PDB. Sehingga, Indef memprediksi ekonomi Indonesia hanya mampu tumbuh 4,8 persen di tahun ini. 

 



Sumber: Suara Pembaruan