Penyebab Kematian Yodi Prabowo Diragukan
INDEX

BISNIS-27 428.182 (-4.2)   |   COMPOSITE 4879.1 (-22.36)   |   DBX 933.193 (-0.24)   |   I-GRADE 128.434 (-0.82)   |   IDX30 404.523 (-4.65)   |   IDX80 106.174 (-1.01)   |   IDXBUMN20 268.239 (-4.54)   |   IDXG30 113.341 (-0.74)   |   IDXHIDIV20 361.328 (-5)   |   IDXQ30 118.527 (-1.29)   |   IDXSMC-COM 209.874 (-0.48)   |   IDXSMC-LIQ 234.117 (-1.15)   |   IDXV30 100.803 (-0.95)   |   INFOBANK15 767.134 (-10.02)   |   Investor33 355.071 (-4.06)   |   ISSI 143.565 (-0.31)   |   JII 517.566 (-1.31)   |   JII70 175.828 (-0.42)   |   KOMPAS100 953.068 (-5.96)   |   LQ45 742.375 (-7.8)   |   MBX 1347.52 (-7.05)   |   MNC36 265.633 (-1.94)   |   PEFINDO25 258.006 (1.37)   |   SMInfra18 230.699 (-2.34)   |   SRI-KEHATI 299.246 (-3.58)   |  

Penyebab Kematian Yodi Prabowo Diragukan

Rabu, 29 Juli 2020 | 23:02 WIB
Oleh : Yeremia Sukoyo / YUD

Jakarta - Kepolisian telah menyatakan editor Metro TV, Yodi Prabowo yang ditemukan meninggal dunia dua pekan lalu diduga kuat akibat bunuh diri. Korban diduga bunuh diri dengan pisau yang dibelinya di sebuah toko. Korban meninggal akibat empat luka tusuk di dada dan di leher.

Menyingkapi hasil ini, Praktisi Hukum Ricky Vinando, menilai, kepolisian seharusnya tidak terburu-buru dalam menyimpulkan penyebab kematian Yodi Prabowo yang hingga kini malah mendapat sorotan publik.

"Caranya bagaimana (bunuh diri) itu? Saya tak ngerti lagi logika hukum macam apa yang dipakai dan terlalu terburu-buru. Polda Metro Jaya sangat tergesa-gesa merilis kasus itu," kata Ricky Vinando, di Jakarta, Rabu (29/7/2020).

Dijelaskan, kepolisian sempat menyatakan saksi tidak melihat dua pria mencurigakan. Padahal saksi-saksi menyatakan sendiri yaitu melihat dua pria mencurigakan di malam sebelum penemuan korban. Bahkan melihatnya ketika melewati depan warung saksi.

Dirinya pun meyakini, kasus yang menimpa Yodi Prabowo bukanlah kasus bunuh diri. Tetapi patut diduga kuat adalah pembunuhan berencana yang sangat matang.

"Sekarang kita main logika dan penalaran hukum saja, itu kan disebut ada empat luka. Luka tusukan pertama melukai jaringan otot dada dengan kedalaman sekitar sekitar 1,5 cm. Kemudian, luka tusukan kedua dan ketiga lebih dalam. Pada leher ditemukan luka tusukan yang memotong tenggorokkan. Yang terakhir lebih dalam lagi luka kekerasan tajam tersebut sampai memotong bagian bawah paru-paru. Dan yang melukai leher hingga memotong tenggorokan itulah yang membuat mati," ujarnya.

Kalau luka yang melukai jaringan otot dada belum mengakibatkan kematian, maka lanjut dengan melukai leher dan memotong tenggorokan. Jika ini yang terjadi sudah pasti ada darah yang berceceran.

"Akal sehat dan logika saya sama sekali tidak bisa menerima. Sudah melukai leher dan memotong tenggorokan, tangannya masih memiliki kekuatan untuk menusuk dirinya sendiri sampai berhasil memotong bagian bawah paru-paru? Yang benar aja, apa dia punya nyawa cadangan sampai penyebab matinya luka di leher dan tenggorokan terus masih bisa melukai sampai memotong paru-paru bagian bawah," ujarnya.

Menurutnya, jika luka tusuk sudah memotong tenggorokan, logikanya Yodi Prabowo akan sudah tumbang terlebih dahulu, alias tidak lagi memiliki kekuatan karena banyak darah keluar dari lehernya.

"Sudah tak bisa apa-apa lagi, darah sudah pasti diduga akan habis, kekuatan pun tak akan ada lagi, apalagi leher tenggorokan salah satu organ vital penting dalam kehidupan, itu luka yang membuat mati berdasarkan keterangan Kedokteran Forensik Polda Metro Jaya," kata Ricky.

Lebih jauh, dalam keterangan kepolisian juga mengatakan banyak darah di baju korban ketika ditelentangkan. Namun, darahnya menjadi sedikit yang ada di bawah tubuh korban karena sudah merembas masuk ke dalam tanah.

"Harus dilakukan uji laboratorium forensik aja untuk memastikan apakah tanah itu pernah menyerap darah dalam jumlah atau volume yang banyak," ucapnya.

Sebelumnya, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Tubagus Ade Hidayat juga menegaskan tidak benar baju Yodi bersih tanpa darah sebagaimana dinyatakan ayah korban.

Tubagus menegaskan, tidak hanya di baju, bahkan darah Yodi juga sampai merembes ke tanah di lokasi jenazahnya ditemukan. Namun Tubagus mengakui darah Yodi hanya ditemukan di bawah jenasahnya saja, tak ada ceceran darah di tempat lain.

Atas kondisi ini Ricky pun meminta agar Polda Metro Jaya melakukan tes laboratorium forensik terhadap tanah dilokasi penemuan jenazah Yodi Prabowo.

"Kalau begitu, Polda Metro Jaya segera lakukan uji laboratorium forensik aja untuk memastikan apakah pernah ada banyak darah merembes masuk ke dalam tanah atau tanah itu pernah menyerap darah dalam jumlah atau volume yang banyak, kan perlu dibuktikan pernyataan Dirreskrimum Polda Metro Jaya itu," kata Ricky.

Menurutnya untuk memastikan apakah itu benar darah Yodi merembes masuk ke dalam tanah atau tidak perlu dilakukan uji laboratorium termasuk pada daun atau tanaman-tanaman yang ada disebelah korban ditemukan.

"Juga baiknya itu diuji laboratorium forensik saja untuk memastikan apakah daun dan tanaman itu pernah menyerap darah dalam jumlah banyak atau tidak saat korban yang disebut bunuh diri dengan cara menusuk dan memotong tenggorokan dan bagian bawah paru-paru nya," ujarnya.

Ricky juga menilai janggal dengan pernyataan kepolisian yang sempat menyebut darah Yodi Prabowo sangat sedikit menempel di dinding tempat Yodi ditemukan tewas.

"Janggal bagaimana mungkin bisa sedikit terpercik di dinding, harusnya banyak karena dia kan disebut memotong tenggorokan leher dan bagian bawah paru-paru, ini luar biasa banyak darahnya. Kecuali kalau perbuatan itu dilakukan ditempat lain oleh orang lain, lalu dibawa ke sana, kalau itu wajar logis ada darah sedikit sekali di dinding," katanya.

Jangan sampai kata Ricky, polisi keliru dan kasus tersebut bagian dari pembunuhan berencana yang sangat matang namun tidak bisa terungkap. Sebab menurutnya hal itu bisa jadi cara pelaku mengelabui polisi.

"Menurut analisa saya itulah kepintaran pelaku untuk mengelabuhi penyidik hingga kasus ini 100% sangat sempurna seolah-olah kasus bunuh diri. Ini kasus sangat janggal kalau darah hanya ada di bawah jenazah, apalagi darah di dinding sangat sedikit dan itu diakui Polda Metro Jaya," tutupnya.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Pegawai Terbatas, Pemprov DKI Tak Mampu Awasi Semua Kantor

Masih banyak perkantoran yang tak menjalankan protokol Covid-19, bahkan cenderung mencuri kesempatan untuk melanggar aturan.

MEGAPOLITAN | 29 Juli 2020

Pradi: Tak Ada Salahnya Dana Covid-19 Dialokasikan unuk Kebutuhan Internet Siswa

Wakil Wali Kota Depok Pradi Supriatna menilai kebutuhan internet merupakan hal mendesak dan dia meminta gugus tugas segera mempercepat bantuan tersebut.

MEGAPOLITAN | 29 Juli 2020

Anies Minta Pelaksanaan Ibadah Iduladha Terapkan Protokol Kesehatan

Penerapan protokol kesehatan saat iduladha sangat penting menurut Anies Baswedan guna mencegah penyebaran Covid-19.

MEGAPOLITAN | 29 Juli 2020

Satgas: Kasus Covid-19 di Jakarta Didominasi Klaster Pemukiman

Berdasarkan analisis ditemukan, kasus Covid-19 di Jakarta didominasi klaster pemukiman.

MEGAPOLITAN | 29 Juli 2020

Polres Jakarta Utara Tangkap Penyebar Berita Hoaks

Keberadaan penyebar berita hoaks diketahui setelah polisi melakukan pelacakan beberapa hari.

MEGAPOLITAN | 29 Juli 2020

Sebelum Denda, Pemkot Bogor Sosialisasi Penggunaan Masker Sepekan

Setelah sosialisasi sepekan, Pemkot Bogor akan melakukan razia masker di tempat-tempat kerumunan warga.

MEGAPOLITAN | 29 Juli 2020

Penambahan Positif Covid-19 584 Orang, Anies: Harus Disyukuri

Menurut Anies semakin banyak yang ditemukan positif Covid-19, maka semakin cepat diisolasi guna mencegah penularan yang lebih banyak.

MEGAPOLITAN | 29 Juli 2020

Iduladha, Ditlantas Polda Metro Jaya Siapkan 28 Pos Pengamanan

Polisi menyiapkan 28 pos pengamanan dan pengaturan lalu lintas arus mudik serta balik, terkait Hari Raya Iduladha, di Jakarta dan sekitarnya.

MEGAPOLITAN | 29 Juli 2020

6 Hari Operasi Patuh Jaya di Tangerang, 501 Pengendara Ditilang

Ada 1.446 pelanggaran selama enam hari pelaksanaan Operasi Patuh kalimaya Jaya yang digelar Polres Metro Tangerang.

MEGAPOLITAN | 29 Juli 2020

Polda Metro Jaya Siapkan 3.327 Personel Amankan Iduladha

Ribuan personel akan diploting di pos-pos pengamanan mulai dari sebelum Iduladha, Kamis (30/7/2020) besok hingga Minggu (2/8/2020) mendatang.

MEGAPOLITAN | 29 Juli 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS