Yasonna Sebut Nyaris Gagal Ekstradisi Maria Lumowa
INDEX

BISNIS-27 434.176 (-7.64)   |   COMPOSITE 4917.96 (-75.2)   |   DBX 928.196 (-4.7)   |   I-GRADE 130.286 (-2.42)   |   IDX30 412.166 (-7.85)   |   IDX80 107.727 (-2.08)   |   IDXBUMN20 269.265 (-5.95)   |   IDXG30 115.773 (-2.53)   |   IDXHIDIV20 368.481 (-6.65)   |   IDXQ30 120.761 (-2.3)   |   IDXSMC-COM 210.292 (-3.36)   |   IDXSMC-LIQ 235.988 (-6.09)   |   IDXV30 101.893 (-2.12)   |   INFOBANK15 773.605 (-13.29)   |   Investor33 359.92 (-6.34)   |   ISSI 144.524 (-2.29)   |   JII 524.265 (-9.92)   |   JII70 177.451 (-3.41)   |   KOMPAS100 962.885 (-17.72)   |   LQ45 754.177 (-14.18)   |   MBX 1360.94 (-22.87)   |   MNC36 269.191 (-4.78)   |   PEFINDO25 256.961 (-5.33)   |   SMInfra18 232.003 (-3.35)   |   SRI-KEHATI 302.863 (-5.05)   |  

Yasonna Sebut Nyaris Gagal Ekstradisi Maria Lumowa

Kamis, 9 Juli 2020 | 12:40 WIB
Oleh : Fana Suparman / YUD

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Hukum dan HAM Yasonna H. Laoly mengungkapkan ekstradisi terhadap Maria Pauline Lumowa, buronan pembobol BNI senilai Rp 1,7 triliun dilakukan pada masa injury time. Hal ini lantaran penahanan Maria di Serbia akan berakhir pada 16 Juli 2020 atau hanya sekitar seminggu lagi. Untuk itu, Yasonna menyatakan, delegasi yang dipimpinya bekerja keras agar Maria dapat segera dipulangkan ke Tanah Air.

"Kita betul-betul berupaya keras untuk mengekstradisi. Ini di injury time," kata Yasonna dalam konferensi pers di ruang VIP Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Banten, Kamis (9/7/2020).

Maria yang telah menjadi buron sejak 2003 atau 17 tahun lalu diketahui ditangkap NCB Interpol Serbia di Bandara Internasional Nikola Tesla, Serbia, pada 16 Juli 2019 dan langsung dilakukan penahanan. Masa penahanan Maria akan berakhir pada 16 Juli 2020 dan jika tidak segera dibawa ke Indonesia, secara hukum harus dibebaskan dari penahanan.

"Tahun lalu ditangkap oleh Serbia, ditahan di sana, dan Serbia memberitahukan kepada Indonesia. Ini menjadi sangat penting kita kejar sekarang karena tanggal 16 Juli yang datang ini secara hukum dia harus dilepas oleh Pemerintah Serbia," ujarnya.

Setelah Maria ditangkap otoritas Serbia, Yasonna dan tim delegasi segera menjalin hubungan diplomasi dengan pemerintah Serbia. Pada 31 Juli 2019, pihaknya melalui Ditjen Administrasi Hukum Umum melayangkan surat permintaan ekstradisi kepada pemerintah Serbia. Tak hanya itu, pada 3 September 2019, Yasonna mengatakan, pihaknya kembali melayangkan surat untuk mempercepat ekstradisi Maria.

Selama proses tersebut, Yasonna mengakui terdapat sejumlah kendala yang dihadapi pihaknya. Tak hanya upaya hukum yang dilakukan Maria dan tim penasihat hukumnya agar terhindar dari ekstradisi, Yasonna mengungkapkan, terdapat negara yang berupaya agar Maria tidak dipulangkan ke Indonesia. Upaya diplomasi semakin diintensifkan selama sebulan terakhir.

Puncaknya, pada Sabtu (4/7/2020), Yasonna dan tim delegasi terbang ke Serbia untuk melakukan high level diplomacy dan bertemu dengan para pejabat Serbia. Melalui upaya diplomasi dan hubungan baik yang terjalin kedua negara, Presiden Serbia Aleksander Vucic membantu agar Maria mempertanggungjawabkan perbuatannya dan diadili di Indonesia.

"Pemerintah Serbia committed. Saya bertemu dengan Menteri Kehakiman yang diwakili Wakil Menteri Kehakiman karena Menteri Kehakiman sedang cuti melahirkan, bertemu Menteri Luar Negeri, Wakil Perdana Menteri tetap committed dan puncaknya pertemuan dengan Presiden Serbia. saya menyampaikan titip salam Presiden. Beliau sangat menyambut hangat, beliau katakan persahabatan historis antara Indonesia dan Serbia akan tetap kita pelihara dan tingkatkan," tuturnya.

Setelah menjalani proses uji kesehatan termasuk proses tes Covid-19, otoritas Serbia menyerahkan Maria pada delegasi yang dipimpin Yasonna melalui Dirjen AHU pada Rabu (8/7/2020) kemarin.

Maria Pauline Lumowa merupakan salah satu tersangka pelaku pembobolan kas bank BNI cabang Kebayoran Baru lewat Letter of Credit (L/C) fiktif. Pada periode Oktober 2002 hingga Juli 2003, Bank BNI mengucurkan pinjaman senilai US$ 136 juta dan 56 juta Euro atau sama dengan Rp 1,7 triliun dengan kurs saat itu kepada PT Gramarindo Group yang dimiliki Maria Pauline Lumowa dan Adrian Waworuntu.

Aksi PT Gramarindo Group diduga mendapat bantuan dari oknum pegawai BNI yang menyetujui jaminan L/C dari Dubai Bank Kenya Ltd, Rosbank Switzerland, Middle East Bank Kenya Ltd, dan The Wall Street Banking Corp yang bukan merupakan bank korespondensi Bank BNI.

Pada Juni 2003, pihak BNI yang curiga dengan transaksi keuangan PT Gramarindo Group mulai melakukan penyelidikan dan mendapati perusahaan tersebut tak pernah melakukan ekspor. Dugaan L/C fiktif ini kemudian dilaporkan ke Mabes Polri, namun Maria Pauline Lumowa sudah lebih dahulu terbang ke Singapura pada September 2003 alias sebulan sebelum ditetapkan sebagai tersangka oleh tim khusus yang dibentuk Mabes Polri.

Perempuan kelahiran Paleloan, Sulawesi Utara, pada 27 Juli 1958 tersebut belakangan diketahui keberadaannya di Belanda pada 2009 dan sering bolak-balik ke Singapura. Indonesia sempat dua kali mengajukan proses ekstradisi ke Pemerintah Kerajaan Belanda, yakni pada 2010 dan 2014, karena Maria Pauline Lumowa ternyata sudah menjadi warga negara Belanda sejak 1979. Namun, kedua permintaan itu ditolak oleh Pemerintah Kerajaan Belanda yang justru memberikan opsi agar Maria Pauline Lumowa disidangkan di Belanda.

Upaya penegakan hukum memasuki babak baru saat Maria Pauline Lumowa ditangkap oleh NCB Interpol Serbia di Bandara Internasional Nikola Tesla, Serbia, pada 16 Juli 2019. Penangkapan itu dilakukan berdasarkan red notice Interpol yang diterbitkan pada 22 Desember 2003.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Tiba di Indonesia, Maria Lumowa Langsung Jalani Rapid Test

Maria tiba bersama Menkumham Yasonna Laoly yang menjemputnya di Serbia.

NASIONAL | 9 Juli 2020

Target Produksi Pangan Diminta Perkuat Komoditas Lokal

Komisi IV DPR berharap Kemtan memperkuat komoditas pangan lokal dalam upaya pencapaian target produksi pangan di tahun 2021.

NASIONAL | 9 Juli 2020

Semarakkan HUT Ke-75 RI, Helikopter Kepresidenan Dicat Merah Putih

Helikopter yang berwarna merah putih tersebut bukan helikopter baru, namun yang biasa digunakan Presiden saat kunjungan kerja.

NASIONAL | 9 Juli 2020

Siapa Cabut Red Notice Djoko Tjandra?

Apa landasan hukum nama Djoko Tjandra dicabut dari red notice?

NASIONAL | 9 Juli 2020

Pengembalian Aset Honggo Wendratno Capai Rp 35,8 T

Honggo Wendratno dihukum 16 tahun penjara dan kini buron.

NASIONAL | 9 Juli 2020

Tidak Ramah Investasi, Pelayanan Kesehatan Sumbar Tertinggal

Pemprov Sumbar harus menggandeng swasta membangun rumah sakit dengan fasilitas terbaik untuk menghadapi Covid-19.

NASIONAL | 9 Juli 2020

Munas DPP Mapancas Diminta Terapkan Protokol Covid-19

Menpora Zainudin Amali mengingatkan DPP Mapancas untuk menerapkan protokol Covid-19 yang ketat pada penyelenggaraan Munas nanti.

NASIONAL | 9 Juli 2020

Komisi X Harap Pengangkatan Guru Honorer Dipercepat

Pengangkatan guru honorer diharapkan dapat dipercepat untuk memenuhi kebutuhan guru nasional.

NASIONAL | 9 Juli 2020

Tingkat Kesembuhan Pasien Covid-19 di Jatim Membaik

Semoga ke depan semakin banyak warga Jatim yang sembuh dari Covid-19.

NASIONAL | 9 Juli 2020

Menpora Ingatkan Masyarakat untuk Tetap Berolahraga

Menpora Zainudin Amali mengingatkan masyarakat untuk tetap berolahraga guna meningkatkan daya tahan tubuh.

NASIONAL | 9 Juli 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS