N250 Gatot Kaca, Akhir Tragis Dunia Dirgantara Kita
INDEX

BISNIS-27 503.122 (7.61)   |   COMPOSITE 5724.74 (89.25)   |   DBX 1066.46 (9.81)   |   I-GRADE 166.255 (3.05)   |   IDX30 491.004 (8.8)   |   IDX80 129.735 (2.65)   |   IDXBUMN20 364.991 (9.26)   |   IDXG30 133.352 (2.1)   |   IDXHIDIV20 441.973 (8.53)   |   IDXQ30 143.512 (2.54)   |   IDXSMC-COM 247.38 (3.5)   |   IDXSMC-LIQ 301.054 (8.02)   |   IDXV30 127.096 (4)   |   INFOBANK15 976.214 (12.27)   |   Investor33 422.656 (6.59)   |   ISSI 167.54 (3)   |   JII 607.336 (12.69)   |   JII70 209.626 (4.39)   |   KOMPAS100 1162.4 (23.4)   |   LQ45 904.834 (17.52)   |   MBX 1587.29 (26.24)   |   MNC36 315.598 (5.98)   |   PEFINDO25 317.232 (4.1)   |   SMInfra18 287.626 (7.78)   |   SRI-KEHATI 361.444 (5.7)   |  

N250 Gatot Kaca, Akhir Tragis Dunia Dirgantara Kita

Sabtu, 29 Agustus 2020 | 16:42 WIB
Oleh : YUD

Oleh: Ricky Rachmadi SH MH*

Dengan kepandaian khasnya dalam berbicara di depan publik, di depan saudagar dan tokoh masyarakat Aceh, Presiden Soekarno mengatakan, “Saya tidak makan malam saat ini, kalau dana untuk itu tidak terkumpul”. Usai Presiden Soekarno berbicara, seorang pria muda berumur sekitar 30 tahun, M Djoened Joesof, berdiri dan berkata “Saya bersedia”.

Langkah Djoened Joesof, Ketua Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (Gasida) ini pun diikuti peserta jamuan makam malam yang lain. Presiden Soekarno tentu saja tersenyum puas. Ia lalu mengajak hadirin beranjak ke meja makan guna santap malam.

Adegan di atas adalah bagian di antara cuplikan yang terjadi di Hotel Atjeh Banda Aceh pada 16 Juni 1948. Pada waktu itu Gasida mengadakan jamuan makam malam yang dihadiri banyak saudagar dan tokoh masyarakat Aceh, sebagaimana ditulis dalam buku “Aceh Daerah Modal” yang diterbitkan Yayasan Seulawah RI-001 tahun 1992. Kehadiran Soekarno sendiri pada waktu itu adalah bagian perjalanan sebagai upaya mengumpulkan dana perjuangan untuk pembelian pesawat terbang.

Kunjungan Presiden Soekarno di atas lantas berakhir dengan terkumpulnya uang sebesar 120.000 dollar Singapura dan 20 kilogram emas. Pengumpulan dana yang dimobilisasi Panitia Dana Dakota pimpinan HM Djoened Joesoef, akhirnya bisa untuk membeli dua pesawat jenis Dakota milik seorang penerbang Amerika Mr JH Maupin di Hongkong dengan kode pesawat VR-HEC. Pesawat ini mendarat di Maguwo, Yogyakarta dan diregistrasi dengan nama RI-001. Dua pesawat inilah yang menjadi pesawat angkut pertama Indonesia dan menjadi cikal bakal lahirnya Garuda Indonesia.

Orang mungkin bisa memerpanjang sejarah dunia dirgantara kita jauh ke belakang sebelum masa kemerdekaan. Namun bagaimana pun juga peristiwa di Hotel Atjeh di atas, adalah tonggak penting dunia kedirgantaraan kita. Sebuah peristiwa ketika masyarakat dan pemerintah bahu-membahu membeli pesawat untuk kepentingan negara yang baru saja merdeka. Bukan hanya rakyat Aceh yang bangga dengan peristiwa tersebut, pemerintah Indonesia pun tidak lupa mengapresiasinya.

Bila Presiden Soekarno memberi nama RI-001 dengan nama “Seulawah”, maka pelanjutnya Presiden Soeharto membuat monumen pesawat Seulawah untuk mengenang peristiwa ini di Lapangan Blang Padang Banda Aceh. Lalu pesawat asli “Seulawah” disimpan di Taman Mini Indonesia Indah.

Namun perjalanan dunia Dirgantara Indonesia tidak berhenti sampai di peristiwa Hotel Atjeh. Presiden Soekarno yang dikenal mempunyai visi panjang dalam membangun Indonesia yang baru merdeka, mengirim Nurtanio berserta ketiga rekannya ke Manili, Filipina untuk mengikuti studi kedirgantaraan di FEATI (Far Eastern Air Transport Incorporated). Lalu pada 16 Desember 1961 mendirikan Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP). Sebuah badan yang berada dibawah Kasau yang bertugas mempersiapkan industri Penerbangan nasional Indonesia. Bersama dengan CEKOP (Industru pesawat terbang Polandia) keduanya bekerja sama untuk membangun gedung untuk fasilitas manufaktur pesawat terbang, pelatihan SDM, dan memproduksi PZL-104 Wilge dibawah lisensi Gelatik.

Tidak cukup sampai di sini. Empat tahun kemudian, tahun 1965, presiden mengeluarkan dekrit pendirian KOPERLAPIP (Komando Pelaksana Industri Pesawat Terbang) dan PN Industri Pesawat Terbang Berdikari. Setahun kemudian, kedua lembaga ini digabung menjadi LIPNUR atau Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio.

Setelah masa kepemimpinan Presiden Soekarno berakhir dan dilanjutkan oleh kepempinan Presiden Soeharto, perhatian pemerintah Indonesia terhadap industri dirgantara nasional tidaklah kendur. Meski kedua pemimpin/agenda pemerintahan itu dikenal bertolak belakang dan tokoh-tokohnya terlibat banyak perseteruan politik.

Bila Presiden Soekarno mengirim Nurtanio dan teman-temannya ke Manila untuk mempelajari industri Dirgantara, maka Presiden Soeharto memanggil pulang BJ Habibie ke Indonesia untuk membangun industri dirgantara nasional. BJ. Habibie waktu itu dikenal sebagai pakar pesawat cemerlang yang sangat disegani di Jerman. Namun karena panggilan untuk mengabdi di negeri sendiri, BJ Habibie melepaskan segala privillege yang dia dapatkan di Jerman. Atas dukungan penuh Presiden Soeharto, BJ Habibie merombak LIPNUR menjadi IPTN, Industri Pesawat Terbang Nusantara.

IPTN inilah yang kemudian dikenal sebagai industri pesawat terbang termaju di negara berkembang. Menyadari bahwa membangun industri pesawat terbang nusantara itu membutuhkan proses panjang dan transfer teknologi dari negara-negara maju, maka pada awal-awal pengembangan IPTN, BJ Habibie menggandeng kerja sama CASA. Sebuah industri pesawat terbang dari Spanyol yakni Construcciones Aeronáuticas SA. Dari kerja sama inilah lahir pesawat CN-235. Sebuah pesawat penumpang sipil (airliner) kelas menengah bermesin dua. Pesawat bernama sandi Tetuka ini telah menjadi pesawat paling laku di kelasnya. Karena pesawat ini merupakan proyek kerja sama antara CASA dan Nurtanio, maka kode pesawatnya pun disebut “CN”.

Berikutnya, IPTN tidak lagi menyandarkan kerja sama dengan negara maju dalam membuat pesawat terbang. IPTN mencoba berdiri sendiri untuk membuat pesawat terbang. Maka lahirlah pesawat N-250.

Berbeda dengan sebelumnya yang mempunyai kode CN, kode pesawat ini “N” saja yang berarti Nusantara atau Nurtanio. N-250 sendiri adalah pesawat penumpang sipil yang menjadi primadona IPTN untuk merebut pasar di kelas 50-70 penumpang yang diluncurkan pada Indonesia Air Show 1996 di Cengkareng.

Sebagaimana diketahui, setahun setelah peluncuran pesawat ini Indonesia dilanda krisis moneter. Krisis ekonomi yang berimbas pada krisis politik sehingga Presiden Soeharto pada akhirnya jatuh.

Bagi industri pesawat terbang, krisis ini tidak hanya berimplikasi secara ekonomi tapi juga politik. Secara ekonomi, industri pesawat terbang tidak lagi mendapat dukungan keuangan negara. Sehingga IPTN terpaksa harus merumahkan sekitar 4.000 karyawannya. Sementara secara politik, IPTN tidak lagi mendapat sokongan pemerintah.

Mematuhi MoU dengan IMF, pemberi pinjaman untuk mengeluarkan Indonesia dari krisis, pemerintah Indonesia terpaksa mengeluarkan proyek industri pesawat terbang nasional sebagai bagian dari penyelematan ekonomi.

Namun sebagaimana Orde Lama yang tidak menjadikan situasi sulit dalam mempertahankan kemerdekaan sebagai alasan untuk tidak mengembangkan industri pesawat terbang, begitu juga dengan pasca pemerintah setelah Orde Baru. Meski masih dalam masa recovery, setahap demi setahap industri pesawat terbang nusantara dicoba dipulihkan.

Seperti dengan merubah nama PT IPTN Menjadi PT DI (Dirgantara Indonesia). Dan empat tahun setelah krisis, PT DI mulai dipercayai negara-negara seperti Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam, Korea Selatan, serta Filipna untuk melaksanakan beberapa proyek kedirgantaraan mereka.

Meski efek krisis ekonomi 1998 telah membuat PT DI diputus pailit oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, tapi upaya hukum yang serius dari PT DI telah membuat keputusan pailit tersebut dibatalkan. Puncak kebangkitan adalah ketika PT DI sendiri adalah ketika tahun 2012 bisa mengkrimkan 4 pesawat CN-235 pesanan Korea Selatan dan menyelesaikan 3 pesawat CN-235 pesanan TNI AL dan 24 Heli Super Puma dari EUROCOPTER.

Kebangkitan PT DI sendiri pada saat itu tidak bisa dilepaskan dari kebijakan pemerintah. Selain memberikan dukungan dana, pemerintah juga menggunakan kebijakan afirmasi berupa pemesanan pesawat militer ke PT DI.

Setelah berjibaku melepaskan diri dari krisis sekaligus ingin membangun kembali industri pesawat terbang nasional, PT DI kemudian bisa melaunching produk baru mereka yaitu N-219. Sebuah pesawat penumpang serbaguna untuk 19 penumpang yang bisa mendarat di landasan pendek. Sehingga sangat cocok untuk Indonesia yang memiliki daerah-daerah terpencil.

Beriringan dengan geliat PTDI untuk membangkitkan kembali industri dirgantara nasional, pihak swasta melalui PT Regio Aviasi Industri yang didirikan BJ Habibie, memperkenalkan pesawat untuk jenis baru R80. Pesawat komersil jarak pendek berkapasitas 80-92 penumpang, irit bahan bakar, dan kelasnya belum ada di pasaran.

Meski belum dibuat, R-80 sudah dipesan 155 unit oleh Nam Air, Kalstar, Trigana Air, dan Aviastar. Karenanya tidak aneh bila R-80 menjadi bagian dari proyek strategis nasional.

Bila kita melihat kembali bagaimana cara Indonesia mulai membangun industri dirgantara nasional serta sikapnya menghadapi kejatuhan ketika industri dirgantara terimbas krisis moneter, maka kita tetap sangat percaya diri akan kemajuan industri dirgantara. pasalnya, Indonesia yakin bahwa kelak negeri ini akan mempunyai industri pesawat terbang setara Boeing atau Air Bus.

Dari peristiwa di tanah Aceh, kita melihat dan telah berjuang untuk upaya memulai industri pesawat terbang. Pasca krisis moneter yang membuat IPTN ambruk, kita berhasil memulihkan keadaan yang mendera.

Namun akhir-akhir ini, kepercayaan diri kita akan masa depan industri pesawat terbang nusantara seperti hilang harapan. Mulanya adalah wabah Covid-19 yang menjadi alasan dikeluarkannya R-80 sebagai bagian dari proyek strategis nasional. Langkah ini diambil ketika pemerintah lebih memberikan perhatian terhadap recovery ekonomi karena pandemi Covid-19, tapi bukan mengatasi pandeminya itu sendiri.

Terakhir adalah ketika N-250 yang menjadi karya anak bangsa, setelah berjibaku sedemikian rupa untuk bisa menciptakan pesawat sendiri, hanya berujung di museum. Bukan diperbaiki, dimodernisasi, apalagi diproduksi secara massal termasuk dipromosikan secara besar-besaran dan dibuat lebih beragam untuk kebangkitan ekonomi dan kepercayaan diri bangsa ini.

Ironisnya, alih-alih dikembangkan dan bahkan produktivitas karya-karyanya dipertaruhkan sebagai karya genuine anak bangsa, warisan BJ Habibie ini malah kini masuk ke keranjang museum, menyedihkan.

*Mantan Pemimpin Redaksi HU Suara Karya dan kini menjadi Ketua Lembaga Informasi dan Komunikasi DPP Partai Golkar



Sumber:BeritaSatu.com

TAG: 


BAGIKAN




BERITA LAINNYA

Mahfud MD: Pungli di Sentra Layanan Publik Berkurang

Kemudahan tersebut berkat perkembangan teknologi informasi digital.

NASIONAL | 29 Agustus 2020

BNPT: Komunikasi dengan Ulama Cegah Terorisme pada Generasi Muda

Apalagi di era teknologi informasi yang makin berkembang ini, pengaruh media sosial saat ini sungguh luar biasa.

NASIONAL | 29 Agustus 2020

Kemtan Cabut Sementara Penetapan Ganja Sebagai Tanaman Obat

Kementerian Pertanian mencabut sementara Kepmentan no 104 tahun 2020 yang menetapkan ganja sebagai tanaman obat.

NASIONAL | 29 Agustus 2020

Dirjen GTK: Pembelajaran Bermakna Menumbuhkan Keingintahuan

Guru diharapkan mengutamakan pembelajaran yang bermakna di masa pandemi Covid-19.

NASIONAL | 29 Agustus 2020

3 Indonesia Dukung Pembelajaran Jarak Jauh

Kerja sama dengan pihak sekolah dan universitas dilakukan 3 Indonesia dalam memberikan kartu perdana secara gratis kepada siswa dan tenaga pengajar.

NASIONAL | 29 Agustus 2020

Akademisi UI Uraikan Dampak Positif RUU Cipta Kerja

Teddy mengaku heran jika ada yang menolak RUU Cipta Kerja. Menurutnya, serikat buruh juga tidak menolak semua isi dari RUU Cipta Kerja.

NASIONAL | 29 Agustus 2020

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto Kuliah S3 di Unhan

Ketika mengajar di Sekolah Partai, Hasto selalu menyampaikan pentingnya pemahaman geopolitik. Di Unhan dia senang mendapat ruang yang luas mempelajari hal itu.

NASIONAL | 29 Agustus 2020

Kempora Pantau Pengelolaan Anggaran Pelatnas Timnas U-19

Pengawasan dilakukan untuk memastikan pelatnas dapat berjalan dengan baik.

NASIONAL | 29 Agustus 2020

Kemdagri Dorong Pemda Laksanakan Proses Belajar yang Aman

Kemdagri mendorong kepala daerah untuk melaksanakan kewajiban sesuai dengan kewenangannya dalam pelaksanaan pembelajaran di masa pandemi ini.

NASIONAL | 28 Agustus 2020

Mantan Juru Bicara HTI Dipolisikan

Mantan juru bicara HTI M Ismail Yusanto dilaporkan ke polisi terkait unggahan di media sosial.

NASIONAL | 28 Agustus 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS