Tracing Kontak Covid-19 di Indonesia Masih Lemah
INDEX

BISNIS-27 446.998 (3.66)   |   COMPOSITE 5103.41 (22.92)   |   DBX 961.91 (2.39)   |   I-GRADE 139.433 (1.14)   |   IDX30 425.424 (3.73)   |   IDX80 112.732 (0.9)   |   IDXBUMN20 290.237 (3.92)   |   IDXG30 119.067 (0.52)   |   IDXHIDIV20 380.466 (2.42)   |   IDXQ30 124.992 (0.94)   |   IDXSMC-COM 219.453 (0.5)   |   IDXSMC-LIQ 253.905 (3.07)   |   IDXV30 105.587 (1.13)   |   INFOBANK15 830.947 (11.32)   |   Investor33 371.883 (3.69)   |   ISSI 150.117 (0.53)   |   JII 544.402 (1.55)   |   JII70 185.969 (0.84)   |   KOMPAS100 1019.44 (6.38)   |   LQ45 783.452 (7)   |   MBX 1412.54 (6.76)   |   MNC36 280.287 (2.27)   |   PEFINDO25 278.026 (3.1)   |   SMInfra18 241.756 (0.32)   |   SRI-KEHATI 314.153 (3.5)   |  

Tracing Kontak Covid-19 di Indonesia Masih Lemah

Kamis, 1 Oktober 2020 | 21:56 WIB
Oleh : Dina Manafe / YUD

Jakarta, Beritasatu.com - Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang bertujuan untuk membatasi pergerakan orang memang diperlukan untuk menekan transmisi virus SARS Cov-2 penyebab Covid-19. Pengalaman DKI Jakarta saat melakukan PSBB pertama 10-24 April berhasil menurunkan jumlah kasus. Bahkan secara hitungan epidemiologi, angka reproduksi efektif (Rt) saat itu berada di bawah angka 1, yang menunjukkan transmisi virus bisa dikendalikan.

Namun apa terjadi ketika PSBB mulai dilonggarkan. Jumlah kasus kembali meningkat drastis, bahkan saat ini rata-rata 1.200-1.300 per hari. Tentu angka ini dipengaruhi makin banyaknya test swab PCR, namun tak bisa dibantah bahwa penularannya memang masih tinggi.

Namun, PSBB tidak mungkin diterapkan selamanya. Karena alasan dasar, seperti pemulihan ekonomi, suatu saat PSBB pasti akan dilonggarkan. Saat dilonggarkan harus ada penggantinya dengan dua pendekatan utama. Pertama, tingkatkan kepatuhan terhadap protokol kesehatan. Kedua, tingkatkan cakupan testing, lacak (tracing) dan isolasi.

Persoalannya, dua pendekatan ini sampai sekarang cakupannya kurang. Tracing, misalnya, sangat dibutuhkan untuk menemukan kasus lebih dini. Mereka yang kontak erat dan kontak dekat dengan kasus positif secepat mungkin ditemukan, kemudian dipastikan kesehatannya, lalu diisolasi selama menunggu hasil test swab PCR. Ini penting untuk menekan risiko potensi penularan yang lebih luas.

Namun, sejak tujuh bulan Covid-19 menular di Indonesia, contact tracing atau pelacakan kontak masih juga lemah. Pakar epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKMUI), Iwan Ariawan, mengatakan, cakupan tracing di Indonesia masih minim. Sekelas DKI Jakarta dengan jumlah kasus tertinggi dibanding provinsi lain pun rasio tracing rata-rata baru 1:4 sampai 1:5. Sementara WHO menyarankan 1:30, dan CDC Amerika Serikat standar minimal 1:10. Artinya satu orang terkonfirmasi positif minimal 10 orang kontak erat harus ditemukan.

Masih terbatasnya jumlah test swab PCR memerlambat upaya tracing. Pelacakan akan efektif kalau dilakukan 24 jam sejak orang yang terpapar bergejala. Tetapi, ini tidak bisa dilakukan karena hasil tes PCR baru keluar 3 hari kemudian. Bahkan di sejumlah daerah sampai satu minggu. Petugas dinas kesehatan dan tenaga surveilens ketika mendapatkan laporan kasus positif dari laboratorium pun belum tentu langsung melakukan tracing hari itu.

Delay pelacakan ini sangat panjang. Akibatnya, orang-orang yang kontak dengan kasus positif sudah jalan-jalan, sudah bertemu banyak orang, dan bisa jadi risiko menularkan jika memang dia positif,” kata Iwan. Kamis (1/10/2020).

Permasalahan lainnya, tes PCR secara nasional jumlahnya terus bertambah, meskipun belum sesuai standar WHO. Testing di DKI bahkan telah melampaui standar WHO yaitu diatas 50.000 per hari. Pertanyaannya, siapa saja orang yang dites ini. Jika yang dites sembarang orang, maka tes tersebut tidak ada manfaatnya. Yang dites adalah yang benar-benar kontak dengan kasus positif, bukan satu komunitas semuanya dites. Untuk memenuhi standar WHO, bisa saja pemeriksaan ditingkatkan jumlahnya, tetapi apakah sasarannya tepat.

Ini diperparah dengan sistem informasi yang tidak mendukung. Penting informasi mengenai seseorang bergejala sejak kapan, berapa banyak yang kontak, dan berapa banyak di-tracing. Kalau informasi ini ada, misalnya kemampuan lacak di satu kabupaten hanya 1:4, pusat bisa mengetahui kekurangan itu lalu dicaritahu penyebab dan juga jalan keluarnya. Kalau masalahnya adalah di tenaga, bisa mengatasinya dengan merekrut tenaga temporer untuk membantu melacak.

“Kalau tracing kita masih begini terus, maka kasusnya juga akan stabil. Karena transmisinya tidak kita pangkas dengan tracing yang banyak,” kata Iwan.

Solusi terhadap lemahnya tracing ini, antara lain petakan kemampuan lab menurut kabupaten/kota. Ini untuk memastikan ketika tracing ditingkatkan jadi 1:10, apakah lab siap untuk melakukan test swab PCR dari orang-orang yang kontak dengan kasus positif. Kemudian, hitung sumber daya yang dimiliki tiap daerah termasuk tenaga yang melakukan pelacakan. Jika tidak cukup, perlu merekrut tenaga temporer. Mereka harus dilatih. Belajar dari negara lain, seperti Korea, Singapura, dan beberapa negara bagian di Australia yang berhasil melakukan tracing dengan merekrut tenaga temporer.

Lemahnya tracing ini pun diakui Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 (Satgas Covid-19), Prof Wiku Adisasmito. Menurut Wiku, sejauh ini pemerintah sudah cukup berhasil meningkatkan kapasitas testing (pemeriksaan) dan treatment (perawatan) pasien Covid-19. Meskipun secara nasional angka testing belum mencapai target WHO, sejumlah provinsi telah melampaui target itu.

Resistensi

Namun, menurut Wiku, kendala terbesar ialah tracing. Karena banyaknya resistensi dari masyarakat di lapangan akibat adanya stigma negatif dari masyarakat terhadap penderita Covid-19. Diperparah adanya berita bohong yang menghilangkan rasa percaya terhadap pasien yang menjadi subjek tracing.

“3T (testing, tracing dan treatment) merupakan upaya yang tidak mudah sehingga membutuhkan sinergi dari masyarakat. Untuk itu kami mengimbau masyarakat untuk betul-betul memahami bahwa keterbukaan kita semuanya sangat penting bagi pemerintah dalam upaya pemerintah melakukan tracing,” kata Wiku.

Masyarakat harus terbuka terkait riwayat perjalanan dan interaksi yang dilakukan. Tidak memberikan stigma negatif terhadap penderita positif Covid-19, sehingga mereka yang terpapar dapat sembuh dan tidak menularkan kepada yang lainnya.

Kecepatan tracing contact atau penelusuran/pelacakan kontak erat atau kontak dekat dengan kasus positif sangat penting untuk mengendalikan penyebaran Covid-19. Sayangnya, upaya tracing masih menghadapi kendala di lapangan. Banyak orang tidak jujur mengenai riwayat kontaknya. Padahal kejujuran sangat dibutuhkan untuk mempercepat penemuan kasus, sehingga menekan penyebaran yang leboh meluas. Masyarakat diminta kerja samanya untuk mempercepat penemuan kasus melalui tracing yang optimal.

Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19, Dr Dewi Nur Aisyah menjelaskan, begitu menerima laporan ada kasus positif Covid-19, tenaga surveleins di lapangan mendatangi yang bersangkutan. Ia ditanyakan seputar riwayat perjalanannya dalam 14 hari terakhir, seperti kontak erat dengan siapa saja, bepergian ke mana, menderita komorbid atau tidak, dan lain-lain.

Jika ada yang kontak erat atau kontak dekat dengan kasus positif ini, tenaga surveilens kemudian mengidentifikasi siapa saja orangnya. Mereka didatangi dan ditanyakan seputar kondisi kesehatannya, dan riwayat kontak dengan kasus positif. Jika benar, selanjutnya dilakukan tes swab PCR untuk memastikan positif atau negatif. Selama menunggu hasil laboratorium keluar, orang-orang yang kontak ini harus isolasi mandiri.

“Jadi jangan pergi-pergi ke mana mana dulu. Kemudian kalau hasilnya keluar ternyata juga positif, maka akan ditanya lagi selama beberapa hari terakhir ke mana saja bertemu siapa saja, semua itu ditelusuri meksipun tidak menunjukkan gejala,” kata Dewi.

Jumlah yang di-tracing target minimal 20 sampai 30 orang yang kontak erat dan kontak dekat. Tetapi kalau selama yang positif hanya berada di rumah, maka yang di-tracing hanya keluarganya di rumah. Kalau yang bersangkutan ternyata selama beberapa hari terakhir bepergian atau kumpul bersama temannya, maka jumlah orang yang di-tracing harus lebih banyak.

Persoalannya dalam tracing, menurut Dewi, banyak yang tidak bicara jujur. Mereka berbohong ke petugas bahwa tidak memiliki kontak dengan orang. Berbohong mengenai riwayat kontak ini akan mengakibatkan penularan virus terus berlanjut ke orang-orang sekitar dengan jumlah lebih banyak. Kondisi ini berpotensi menimbulkan klaster keluarga.

“Kejujuran sangat penting dalam tracing. Jangan sampai ada pasien positif punya kontak, tetapi tidak diketahui karena ternyata ada anggota keluarga yang berbohong,” kata Dewi.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Mahfud MD: Tidak Ada Rencana Akhiri Otsus Papua

Menko Polhukam mengemukakan bahwa tidak ada niat atau rencana pemerintah untuk mengakhiri status Otonomi Khusus (Otsus) di Papua.

NASIONAL | 1 Oktober 2020

Rempah dan Ikan Nila Sulut Tembus Pasar Jepang, Olly: Kita Tidak Menyerah Saat Pandemi

Dampak pandemi Covid-19 yang ikut menyasar sektor ekonomi, disiasati dengan berbagai terobosan.

NASIONAL | 1 Oktober 2020

Hadirkan Teman Bus, Kemhub Gandeng Kempupera dan Korlantas Polri

Kemhub bekerja sama dengan Kempupera dan Korlantas Polri dalam penerapan program Buy the Service (BTS).

NASIONAL | 25 September 2020

Moeldoko Sebut KAMI Hanya Sekumpulan Orang yang Miliki Kepentingan

Moeldoko megatakan, selama gagasan yang diberikan KAMI bagus, pemerintah menerimanya namun jika mengarah ke pemaksaan kepentingan, pemerintah tak tinggal diam

NASIONAL | 1 Oktober 2020

Apresiasi Terbitnya Perpres 98/2020, DPR: Nasib Tenaga Honorer Menjadi Jelas

Ketua Komisi X DPR, Syaiful Huda mengapresiasi terbitnya Peraturan Presiden (perpres) 98/2020.

NASIONAL | 1 Oktober 2020

Tak Terima Hasil Pengumuman CPNS, Massa Bakar Kantor Pemerintah di Keerom

Ratusan massa membakar kantor pemerintahan di Kabupaten Keerom, Papua karena tak terima dengan hasil pengumuman tes CPNS, Kamis (1/10/2020) sekitar 16.16 WIT.

NASIONAL | 1 Oktober 2020

Penanganan Pandemi Covid-19 di Sumut Semakin Terkendali

Gugus tugas masih melakukan penyekatan untuk beberapa wilayah yang menjadi penyebaran Covid-19.

NASIONAL | 1 Oktober 2020

Ini Alasan Pemerintah Memprioritaskan Penanganan Covid-19 di Aceh dan Banten

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menerangkan alasan Provinsi Banten dan Aceh masuk ke dalam provinsi prioritas.

NASIONAL | 1 Oktober 2020

BPK-BPKP Bersinergi Lakukan Pengawasan Penanganan Covid-19 dan PEN

BPKP siap berkolaborasi dengan BPK dalam menjaga akuntabilitas penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional.

NASIONAL | 1 Oktober 2020

Sumut Alami Kelangkaan Dokter Spesialis Bedah Anak

Saat ini, hanya tinggal 2 orang dokter spesialis bedah anak di Medan.

NASIONAL | 1 Oktober 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS