Pilkada di Tengah Pandemi, Partisipasi Perempuan Diprediksi Menurun
INDEX

BISNIS-27 434.406 (-0.92)   |   COMPOSITE 4934.09 (-21.68)   |   DBX 924.804 (0.62)   |   I-GRADE 130.838 (-0.85)   |   IDX30 413.425 (-2.12)   |   IDX80 108.094 (-0.55)   |   IDXBUMN20 272.657 (-4.2)   |   IDXG30 115.379 (0.28)   |   IDXHIDIV20 370.721 (-3.03)   |   IDXQ30 120.916 (-0.42)   |   IDXSMC-COM 211.116 (-0.74)   |   IDXSMC-LIQ 236.814 (-0.78)   |   IDXV30 102.468 (-0.6)   |   INFOBANK15 776.883 (-4.08)   |   Investor33 360.093 (-0.71)   |   ISSI 144.765 (-0.4)   |   JII 523.909 (-1.11)   |   JII70 177.568 (-0.47)   |   KOMPAS100 966.07 (-4.74)   |   LQ45 756.376 (-3.63)   |   MBX 1366.8 (-6.93)   |   MNC36 270.277 (-1.55)   |   PEFINDO25 258.891 (-1.82)   |   SMInfra18 233.321 (-1.8)   |   SRI-KEHATI 303.606 (-1.44)   |  

Pilkada di Tengah Pandemi, Partisipasi Perempuan Diprediksi Menurun

Minggu, 19 Juli 2020 | 19:15 WIB
Oleh : Robertus Wardy / YUD

Jakarta, Beritasatu.com – Pelaksanaan Pilkada Serentak 2020 yang dilakukan ditengah penyebaran wabah virus Corona atau Covid 19 akan menurunkan partisipasi perempuan. Pasalnya, mayoritas perempuan, terutama yang sudah berumah tangga akan sibuk dengan pekerjaannya, baik di kantor maupun di rumah.

“Beban pekerjaan perempuan saat ini bertambah. Mereka harus fokus dengan pekerjaannya di kantor. Tetapi di sisi lain, mereka juga harus mengajar anaknya di rumah karena sekarang kan sekolah dari rumah,” kata Direktur Eksekutif Kalyanamitra Lilis Listyowati dalam diskusi virtual bertema “Akses Perempuan di Pilkada 2020” di Jakarta, Minggu (19/7/2020).

Ia menjelaskan akibat pandemi Covid-19, persoalan yang dialami perempuan menjadi kompleks dan beragam. Berbagai masalah muncul, mulai dari pekerjaan domestik mendampingi sekolah di rumah, hingga masalah dengan pekerjaan. Belum lagi yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari kantor yang membuat mereka mencari pekerjaan lain agar bisa bertahan hidup ditengah situasi sulit seperti sekarang. Akibatnya, kepedulian mereka terhadap Pilkada tidak ada. Hal itu membuat mereka tidak antusias menyambut pelaksanaan Pilkada.

"Perempuan sebagai pemilih bisa jadi kelelahan atas pekerjaannya sehingga menjadi tidak peduli dengan proses pilkada yang terjadi," tutur Lilis.

Dia mengkhawatirkan ketidakpedulian itu bisa merembet pada penyalahgunaan suara oleh oknum-oknum tertentu. Para petualang politik bisa memanfaatkan suara perempuan dengan memanipulasi perolehan suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS).

"Para pemilih perempuan akan kehilangan suaranya karena tidak datang ke TPS. Ini bisa dimanfaatkan kelompok tertentu yang memiliki kepentingan dalam proses Pilkada," ungkap Lilis.

Sementara itu pendiri Sekolah Pemilu, Heni Susilawati yang juga menjadi pembicara pada diskusi itu mengemukakan upaya penyampaian informasi terkait pilkada di tengah pandemi harus terus dilakukan pada masyarakat, termasuk pada kaum perempuan. Hal itu agar kaum perempuan tidak terlewatkan berbagai informasi sekalipun sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

“Ini resiko Pilkada digelar di tengah pandemi. Penyelenggara harus kerja keras untuk sosialiasi. Supaya ibu-ibu nanti bisa datang ke TPS,” ujar Heni.

Dia juga melihat partisipasi perempuan dalam pencalonan menurun di Pilkada 2020. Hal itu terlihat tidak banyak calon perempuan yang tampil sebagai calon.

Dia melihat kondisi itu terjadi karena tidak didukung penuh oleh internal parpol. Di sisi lain, kader perempuan banyak yang tidak punya modal. Padahal ikut menjadi calon di pilkada butuh dana besar.

“Figur perempuan yang tampil sangat sedikit. Ini terjadi karena beberapa alasan yaitu keterbatasan modal, keterbatasan akses informasi, hingga lemahnya support dari partai politik pengusung karena alasan situasi pandemi," tutur Heni.

Adapun Direktur Eksekutif Perludem Titi Anggraini mengemukakan afirmasi atau perekrutan sebagai calon bagi kaum perempuan di Pilkada masih sangat rendah. Sebabnya, belum ada aturan yang mengikat terkait keterlibatan kaum perempuan di Pilkada seperti terjadi di pemilu legislatif (Pileg).

"Sistem politik berbiaya mahal seperti sekarang juga turut menjadi penghambat bagi kaum perempuan. Kebanyakan kader perempuan tidak punya modal. Akibatnya tidak bisa bersaing dengan kaum pria untuk menjadi calon kepala daerah," tegas Titi.

Dia menyebut di Pileg sudah ada afirmasi lewat UU yang mengharuskan 30 persen Caleg perempuan. Dia berharap ke depan, pada Pilkada juga bisa dibuat aturan serupa sehingga membuat lebih luas peluang perempuan.

“Untuk Pilkada, diserahkan ke Parpol. Model ini berat bagi perempuan karena jika tidak punya modal banyak, tidak akan dilirik oleh Parpol,” tutup Titi.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Peluang Bobby Diusung PDIP Masih Besar

Calon yang akan diusung PDIP untuk Pilwakot Medan maupun daerah lainnya, akan diumumkan dalam gelombang ketiga.

POLITIK | 19 Juli 2020

Ternyata Ini Alasan PKS dan PD Tak Ada di Daftar Pendukung Gibran-Bobby Nasution

PDI Perjuangan sendiri memilih terus mengedepankan semangat gotong royong dan siap bekerja sama dengan parpol pendukung pemerintah.

POLITIK | 19 Juli 2020

PBB Keberatan Parliamentary Threshold Dinaikkan Jadi 7 Persen

PBB sendiri sangat keberatan dengan PT 7 persen dan berharap ambang batas parlemen justru ditiadakan.

POLITIK | 19 Juli 2020

Putra Yusril Ihza Mahendra Siap Ramaikan Pilkada Belitung Timur

Putra Ketua Umum (Ketum) Partai Bulan Bintang (PBB), Yusril Ihza Mahendra, Yuri Kemal Fadlullah mengaku siap meramaikan Pilkada Belitung Timur.

POLITIK | 19 Juli 2020

Yusril Minta Kader PBB Manfaatkan Momentum Pilkada 2020

"Mari kita manfaatkan ajang pilkada untuk menguatkan konsolidasi partai," kat Yusril.

POLITIK | 18 Juli 2020

Ray Rangkuti Sebut BPIP Tak Perlu Permanen

Menurut Ray Rangkuti, lembaga seperti BPIP tidak harus dipermanenkan.

POLITIK | 18 Juli 2020

Monumen Soekarno Diresmikan di Aljazair, Ini Kata Puan Maharani

Ketua DPR Puan Maharani meresmikan Monumen Soekarno yang didirikan di kota Aljir, Aljazair, Sabtu (18/7/2020), yang dilaksanakan secara virtual.

POLITIK | 18 Juli 2020

Pengamat: PDIP Solo Tidak Akan Terbelah dengan Pengusungan Gibran

Dengan modal elektabilitas Gibran yang sangat besar, kecil kemungkinan suara DPC PDIP Solo akan terbelah atau berseberangan dengan suara DPP PDIP.

POLITIK | 18 Juli 2020

Pengamat: Gibran Bakal Lawan Kotak Kosong, Bobby Mesti Kerja Keras

Wempy Hadir mengungkap, Gibran berpeluang besar melawan kotak kosong, sedangkan Bobby masih perlu kerja keras untuk terpilih.

POLITIK | 18 Juli 2020

Calon Kepala Daerah PDIP Diminta Dukung Jokowi Tangani Covid-19

Ketua Umum PDIP Perjuangan, Megawati Soekarnoputri meminta kandidat kepala daerah, mendukung Presiden Joko Widodo (Jokowi) menangani pandemi Covid-19.

POLITIK | 17 Juli 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS