Presiden Jokowi: Indonesia Butuh Kerja Cepat Pulihkan Ekonomi
INDEX

BISNIS-27 434.176 (-7.64)   |   COMPOSITE 4917.96 (-75.2)   |   DBX 928.196 (-4.7)   |   I-GRADE 130.286 (-2.42)   |   IDX30 412.166 (-7.85)   |   IDX80 107.727 (-2.08)   |   IDXBUMN20 269.265 (-5.95)   |   IDXG30 115.773 (-2.53)   |   IDXHIDIV20 368.481 (-6.65)   |   IDXQ30 120.761 (-2.3)   |   IDXSMC-COM 210.292 (-3.36)   |   IDXSMC-LIQ 235.988 (-6.09)   |   IDXV30 101.893 (-2.12)   |   INFOBANK15 773.605 (-13.29)   |   Investor33 359.92 (-6.34)   |   ISSI 144.524 (-2.29)   |   JII 524.265 (-9.92)   |   JII70 177.451 (-3.41)   |   KOMPAS100 962.885 (-17.72)   |   LQ45 754.177 (-14.18)   |   MBX 1360.94 (-22.87)   |   MNC36 269.191 (-4.78)   |   PEFINDO25 256.961 (-5.33)   |   SMInfra18 232.003 (-3.35)   |   SRI-KEHATI 302.863 (-5.05)   |  

Presiden Jokowi: Indonesia Butuh Kerja Cepat Pulihkan Ekonomi

Selasa, 28 Juli 2020 | 13:10 WIB
Oleh : Lenny Tristia Tambun / YUD

Jakarta, Beritasatu.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan bahwa membutuhkan kerja cepat untuk memulihkan pertumbuhan ekonomi yang terpuruk akibat pandemi virus corona (Covid-19). Hal itu ditegaskan Jokowi di depan para peserta program kegiatan bersama perjuangan tahun anggaran 2020 yang berasal dari TNI dan Polri, Selasa (28/7/2020).

Oleh sebab itu, lanjut Jokowi, semua pihak harus mengambil momentum dan manfaat dari pandemi yang sedang terjadi sekarang di Indonesia. Ia mengajak TNI dan Polri bersama seluruh masyarakat terus berjuang menyelesaikan masalah Covid-19 dan ekonomi yang sedang terjadi di Indonesia.

“Momentum ini harus kita ambil. Sudah sering saya katakan kita perlu cara kerja baru. Kita perlu budaya baru dalam bekerja lebih cepat. Harus berani melakukan shortcut, terobosan baru, pemotongan-pemotongan, sehingga cara-cara kerja kita tidak bertele-tele dan lambat,” kata Jokowi saat memberikan arahan kepada peserta Program Kegiatan Bersama Kejuangan Tahun Anggaran 2020 secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (28/7/2020).

Ia sendiri telah berkali-kali menyampaikan saat ini, negara pemenang dalam mengatasi krisis kesehatan dan ekonomi bukan negara besar mengalahkan negara kecil. Tetapi negara cepat yang akan mengalahkan negara lambat.

“Karena berkali-kali saya sampaikan, bukan negara besar mengalahkan negara kecil, tapi yang sekarang dan yang akan datang, negara cepat yang akan mengalahkan negara yang lambat. Artinya, yang cepat yang akan menang,” tegas Jokowi.

Hal itu dikatakan Jokowi karena semua negara mengalami masa sulit. Menurutnya sangat tidak mudah mengatasi krisis kesehatan berbarengan dengan krisis ekonomi. Kondisi ini dialami Indonesia bersama dengan 215 negara lainnya.

“Kita tahu saat ini kita sedang menghadapi masa yang sulit, sangat tidak mudah krisis kesehatan sekaligus krisis ekonomi dan melanda tidak hanya negara kita Indonesia, tapi hampir semua negara, 215 negara mengalami hal yang sama seperti kita, yang kecil sulit, yang tengah sulit yang gede juga sulit, sesuatu yang tidak mudah,” papar Jokowi

Kembali ia mengungkapkan percakapannya dengan Managing Director IMF Kristalina Georgieva pada empat bulan yang lalu. Saat itu, Kristalina Georgieva mengatakan kemungkinan tahun ini pertumbuhan ekonomi global akan minus 2,5 persen dari yang sebelumnya 3 sampai 3,5 persen plus.

Kemudian, sebulan setelah percakapannya dengan IMF, Bank Dunia mengatakan pertumbuhan ekonomi dunia hanya akan tumbuh minus 5 persen. Lalu tiga minggu kemudian, Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menyampaikan prediksi pertumbuhan ekonomi dunia akan minus 6 persen sampai 7,6 persen di tahun 2020.

“Saya tidak tahu, apakah akan bergerak lebih buruk lagi. Karena memang situasinya sangat dinamis sekali,” ujar Jokowi.

Begitu pula dengan prediksi pertumbuhan ekonomi untuk negara-negara di dunia juga mengalami perubahan yang dinamis. Berdasarkan prediksi IMF, Indonesia masih berada di Tiga Besar negara yang paling baik pertumbuhan ekonominya di tengah pandemi Covid-19.

Tiga Besar negara yang paling baik pertumbuhan ekonominya adalah Tiongkok masih tumbuh sekitar 1,9 persen, India akan tumbuh 1,2 persen dan Indonesia akan tumbuh 0,5 persen.

“Tapi dengan perubahan-perubahan yang semakin buruk tadi, kita juga belum mendapatkan angka-angka yang paling akhir berapa posisi negara kita pertumbuhan ekonominya di tahun 2020. Tapi ini yang perlu kita sampaikan prediksi kontraksi ekonomi di luar Indonesia,” terang Jokowi.

Diungkapkan Jokowi, pertumbuhan ekonomi beberapa negara yang mengalami kontraksi tajam. Diantaranya Perancis minus 17 persen, Jerman minus 11 persen, Amerika Serikat minus 9,7 persen, Jepang minus 8,3 persen, Malaysia minus 8 persen.

“Apa yang ingin saya sampaikan dengan kondisi yang ada? Hati-hati. Ini sudah mengimbas ke geopolitik global. Ini semuanya harus tahu, Laut China Selatan memanas, China-Amerika semakin memanas,” ungkap Jokowi.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Peristiwa “Kudatuli” Disebut Membunuh Demokrasi

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto menegaskan kerusuhan 27 Juli 1996 atau Kudatuli telah membunuh demokrasi.

POLITIK | 28 Juli 2020

Tak Sekadar Tabur Bunga, PDIP Desak Ungkap Dalang "Kudatuli"

PDI Perjuangan meminta dalang kerusuhan 27 Juli 1996 atau Kudatuli dapat diungkap.

POLITIK | 28 Juli 2020

Kemdagri: Pilkada Serentak Gerakkan Perekonomian Daerah

Kemdagri menegaskan, semua daerah penyelenggara Pilkada menyatakan kesiapan.

POLITIK | 27 Juli 2020

Revisi UU Pemilu Dinilai Belum Sentuh Masalah Keadilan Pemilu

Masalah keadilan pemilu menjadi salah satu isu penting yang harus dibahas.

POLITIK | 27 Juli 2020

Kudatuli, Gus Dur dan Megawati Jadi Simbol Lawan Orde Baru

Peristiwa 27 Juli menjadi bagian dari kristalisasi perlawanan rakyat di berbagai daerah terhadap rezim otoriter Orde Baru.

NASIONAL | 27 Juli 2020

Peristiwa 27 Juli 1996, Petrus Hariyanto: Munir Sudah Sampaikan PDI Akan Diserang

Orba sudah sejak awal berusaha mengkambinghitamkan warga sipil yang beraktivitas di Partai Rakyat Demokratik sebagai dalang penyerangan kantor PDI.

POLITIK | 27 Juli 2020

Perludem: Peradilan Pemilu Belum Beri Efek Jera

Penerapan peradilan pemilu tak memberi efek jera. Peserta pemilu lebih banyak takut sanksi administatif daripada mendapatkan hukuman peradilan pemilu.

POLITIK | 27 Juli 2020

Pimpinan DPR Cari Solusi Polemik Azis Syamsuddin vs Komisi III soal Kaburnya Djoko Tjandra

Pimpinan DPR akan segera melaksanakan rapat koordinasi dengan Komisi III menyangkut polemik penolakan rencana rapat dilaksanakan di masa reses.

POLITIK | 27 Juli 2020

Pembatalan SK Presiden Atas Pemberhentian Evi Novida Otomatis Batalkan Putusan DKPP

Pakar hukum pidana dari Universitas Gadjah Mada, Eddy OS Hiariej menilai, putusan PTUN atas Evi Novida Ginting otomatis membatalkan putusan DKPP

POLITIK | 26 Juli 2020

Putusan Dibatalkan PTUN, Penyelenggara Pemilu Harus Saling Koreksi

Implikasi dari putusan itu Presiden Jokowi harus melaksanakan amar putusan PTUN, kecuali jika Presiden Jokowi melakukan banding.

POLITIK | 26 Juli 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS