Sampah Elektronik Tak Bisa Didaur Ulang Ancam Dunia
INDEX

BISNIS-27 511.575 (-1.4)   |   COMPOSITE 5759.92 (23.42)   |   DBX 1054.23 (9.81)   |   I-GRADE 169.662 (-0.8)   |   IDX30 501.412 (-1.48)   |   IDX80 131.739 (0.17)   |   IDXBUMN20 371.622 (2.16)   |   IDXG30 135.832 (0.63)   |   IDXHIDIV20 450.213 (0.05)   |   IDXQ30 146.619 (-0.52)   |   IDXSMC-COM 244.641 (3.77)   |   IDXSMC-LIQ 299.216 (4.65)   |   IDXV30 126.958 (1.03)   |   INFOBANK15 989.895 (-6.43)   |   Investor33 430.473 (-1.37)   |   ISSI 168.725 (1.07)   |   JII 619.114 (0.96)   |   JII70 212.184 (1.01)   |   KOMPAS100 1175.82 (1.47)   |   LQ45 920.779 (-0.67)   |   MBX 1601.16 (5.3)   |   MNC36 321.923 (-0.8)   |   PEFINDO25 313.689 (3.18)   |   SMInfra18 292.004 (3.49)   |   SRI-KEHATI 368.014 (-1.81)   |  

Sampah Elektronik Tak Bisa Didaur Ulang Ancam Dunia

Sabtu, 11 Juli 2020 | 15:05 WIB
Oleh : Yuliantino Situmorang / YS

New Delhi - Seberang sungai Red Fort, New Delhi, India, warga di permukiman padat Seelampur hidup di antara tumpukan limbah buangan konsumen modern dunia. Sampah-sampah itu adalah barang elektronik dan komponen elektrik yang rusak dan usang.

Seelampur menjadi rumah terbesar bagi pasar sampah elektronik dunia. Persoalan di wilayah itu menjadi contoh dan sorotan khusus dalam laporan PBB yang dirilis, pekan lalu.

Dalam laporan tentang Pantauan E-Sampah Global 2020 ditemukan, dunia membuang sampah sebanyak 53,6 juta ton tahun lalu. Dari jumlah itu, hanya 17,4 persen yang bisa didaur ulang.

“Bahkan, negara-negara yang memiliki sistem manajemen pembuangan limbah elektronik pun menghadapi persoalan tempat penumpukan dan kemampuan daur ulang yang masih rendah,” demikian laporan itu.

Tiongkok, dengan 10,1 juta ton, merupakan negara terbesar yang menghasilkan e-limbah. Posisi kedua, AS dengan 6,9 juta ton, lalu India di tempat ketiga yang menyumbang 3,2 juta ton. Tahun lalu, tiga negara ini memasok sekitar 38 persen e-limbah dunia.

Walaupun dampak keseluruhan terhadap lingkungan dari sampah elektronik yang tidak bisa didaur ulang itu sulit dikalkulasi, namun pesan yang ingin disimpulkan dalam laporan itu: “Cara kita memproduksi, mengkonsumsi, dan membuang e-limbah tak bisa dipertahankan.”

Pemanasan global hanya satu isu yang dikaji dalam laporan itu terkait adanya 98 juta ton karbondioksida yang dilepas ke atmosfir sebagai hasil buangan produk lemari es dan AC “tak berdokumen”.

Di sisi lain, lockdown akibat pandemi Covid-19 tahun ini, makin memperburuk persoalan limbah elektronik. Banyak orang tertahan di rumah, begitu juga pekerja pendaur ulang sampah. Hanya segelintir yang bisa bekerja. Demikian disampaikan Kees Balde, Kepala Program Senior di Universitas PBB, yang menjadi kontributor laporan itu kepada Reuters.

Konsumen Baru
Apa yang terjadi di India dan Tiongkok merupakan gejala dari masalah yang lebih besar di negara-negara berkembang, di mana permintaan barang seperti mesin cuci, kulkas, dan pendingin ruangan (AC) meningkat pesat.

“Di negara-negara berpenghasilan menengah dan rendah, infrastruktur pengelolaan limbah elektronik belum sepenuhnya berkembang. Bahkan, dalam beberapa kasus, sama sekali tidak ada," kata laporan itu.

Dinesh Raj Bandela, Wakil Manajer Program Pusat Ilmu Pengetahuan dan Lingkungan, sebuah badan advokasi dan riset di New Delhi mengatakan, fokus India terhadap e-sampah semestinya tak hanya soal mengumpulkan, dan pabrikan semestinya memproduksi barang-barang tahan lama dan minim kandungan toksin.

Meskipun India sebagai satu-satunya negara di Asia Selatan yang merancang peraturan e-sampah, persoalan mengepul sampahnya belum beres.

Buktinya, di Seelampur, masih terlihat labirin jalur kusam dipenuhi toko-toko barang bekas tempat ribuan orang bekerja. Para pekerja itu memisahkan apa pun yang bisa diselamatkan dari sampah-sampah elektronik yang dikumpulkan dari seluruh India bagian utara.

Di sisi luar tiap toko, tampak tumpukan layar monitor tua, desktop komputer, gagang telepon, telepon genggam, stabilisers tegangan listrik, AC, kulkas, microwave, penghisap debu, dan mesin cuci.

Gulungan kabel tua melintang dan menumpuk di sana-sini, menghiasi sampah elektronik yang menggunung.

Penjaga toko dan pekerja sangat curiga terhadap orang luar yang menelusuri jalur sempit, terutama jurnalis. Mohammed Abid, seorang pedagang limbah elektronik bekas, yang bersedia diwawancarai menyangkal cara-cara pengelolaan limbah elektronik di Seelampur melanggar hukum atau menimbulkan bahaya.

“Ada pekerjaan lain yang menciptakan banyak masalah bagi lingkungan, tetapi di pasar ini tidak ada pekerjaan yang merrusak lingkungan atau meningkatkan polusi,” katanya.

Padahal, bau busuk dari saluran pembuangan terbuka dekat tokonya terasa memenuhi udara di situ.



Sumber:Reuters


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Siem Reap, Provinsi Pertama Kamboja yang Larang Makan Daging Anjing

Larangan baru di Siem Reap itu disertai hukuman hingga lima tahun penjara atau denda antara 7 sampai 50 juta riel atau setara dengan US$ 12.200.

DUNIA | 11 Juli 2020

Menteri Venezuela Buronan Narkoba AS Positif Covid-19

Menteri Perminyakan Venezuela Tareck El Aissami mengumumkan dirinya positif mengidap virus corona lewat Twitter.

DUNIA | 11 Juli 2020

Ini Wasiat Terakhir Wali Kota Seoul

CGTN melaporkan kata-kata wasiat Park Won-soon adalah "Maaf untuk semua orang".

DUNIA | 11 Juli 2020

PAP Tetap Berkuasa di Singapura

Partai berkuasa People's Action Party (PAP) berhasil memenangkan Pemilu Singapura yang dilakukan Jumat kemarin (10/7/2020).

DUNIA | 11 Juli 2020

Kesepakatan Dagang Tahap II AS-Tiongkok Terancam Batal

Kesepakatan dagang tahap II AS-Tiongkok terancam batal karena hubungan kedua negara merenggang akibat Covid-19.

DUNIA | 11 Juli 2020

1 ABK WNI Ditemukan Meninggal di Kapal Tiongkok

Satu jenazah ABK WNI telah disemayamkan di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara, Batam, Kepulauan Riau.

DUNIA | 10 Juli 2020

Wali Kota Seoul Diduga Bunuh Diri

Kantor berita Yonhap melaporkan polisi tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh Park, sehingga diduga kuat dia bunuh diri.

DUNIA | 10 Juli 2020

Presiden Bolivia Anez Positif Covid-19

Melanjutkan tugasnya selama menjalani isolasi

DUNIA | 10 Juli 2020

Jika Terpilih, Joe Biden Janjikan Anggaran Buy America US$ 700 Miliar

Joe Biden menjanjikan alokasi anggaran sebesar US$ 700 miliar (Rp 10.000 triliun) untuk industri manufaktur dan teknologi AS.

DUNIA | 10 Juli 2020

Wali Kota Seoul Ditemukan Tewas

Wali Kota sempat dilaporkan ke polisi atas tuduhan pidana sehari sebelum pergi dari rumah.

DUNIA | 10 Juli 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS