Rakyat Thailand Tak Lagi Takut Memprotes Raja
INDEX

BISNIS-27 509.396 (-3.69)   |   COMPOSITE 5822.94 (-25.17)   |   DBX 1088.19 (3.29)   |   I-GRADE 169.852 (-1.7)   |   IDX30 498.88 (-3.97)   |   IDX80 132.065 (-0.81)   |   IDXBUMN20 376.263 (-4.1)   |   IDXG30 135.508 (-1.09)   |   IDXHIDIV20 449.517 (-3.85)   |   IDXQ30 145.713 (-1.46)   |   IDXSMC-COM 252.052 (-0.16)   |   IDXSMC-LIQ 309.347 (-1.2)   |   IDXV30 130.911 (0.61)   |   INFOBANK15 993.498 (-12.22)   |   Investor33 428.541 (-3.18)   |   ISSI 170.173 (-0.41)   |   JII 616.286 (-0.96)   |   JII70 212.951 (-0.53)   |   KOMPAS100 1185.6 (-7.39)   |   LQ45 921.176 (-7.27)   |   MBX 1613.76 (-8.73)   |   MNC36 320.851 (-2.49)   |   PEFINDO25 318.369 (-4.5)   |   SMInfra18 296.861 (-1.69)   |   SRI-KEHATI 366.856 (-3.03)   |  

Rakyat Thailand Tak Lagi Takut Memprotes Raja

Kamis, 22 Oktober 2020 | 15:32 WIB
Oleh : Yuliantino Situmorang / YS

Bangkok, Beritasatu.com - Setelah kerusuhan berminggu-minggu, pengunjuk rasa antipemerintah Thailand tidak pernah mundur. Lebih dari 10.000 orang mengepung Monumen Kemenangan di Bangkok pada satu pertemuan selama akhir pekan. Unjuk rasa dengan skala lebih kecil juga digelar di berbagai daerah di seluruh negeri.

Padahal, Pemerintah Thailand sudah menerapkan sejumlah langkah keras, seperti melarang aktivitas berkumpul lebih dari 10 orang, menerapkan jam malam yakni larangan keluar rumah setelah jam enam sore, dan larangan menggunakan aplikasi pesan terenkripsi Telegram. Bahkan, aparat pemerintah mengerahkan kanon air untuk menghalau pengunjuk rasa, tetapi ternyata tetap tidak mampu menghentikan gerakan tersebut.

Unjuk rasa di Thailand, terus terulang dan sangat masif. Politik Thailand terus bergolak, setidaknya belasan kudeta militer pernah terjadi selama satu abad terakhir di negeri itu. Jumlah itu lebih banyak daripada negara lain di mana pun.

Thailand sangat akrab dengan kekacauan politik. Demonstrasi massal yang menutup jalan-jalan utama di Bangkok menjadi hal biasa, terutama antara tahun 2006 dan 2014. Siklus kekerasan konflik antar faksi politik tampaknya tak terhindarkan.

Unjuk rasa belakangan ini dimulai akhir 2019 setelah Mahkamah Konstitusi mendiskualifikasi pemimpin oposisi Thanathorn Juangroongruangkit sebagai anggota parlemen dan melarang keberadaan partainya.

Gerakan itu mereda pada Maret, ketika pemerintah memberlakukan keadaan darurat untuk mengendalikan virus corona. Namun, suasana kembali memanas pada musim gugur ini, dengan para demonstran menyerukan reformasi konstitusi serta pengunduran diri Prayut Chan-o-Cha, mantan jenderal yang mengambil alih kekuasaan dalam kudeta militer dan menjadi perdana menteri dalam pemilihan kontroversial tahun lalu.

Perbedaan terbesar dalam protes kali ini dari aksi sebelumnya adalah, untuk pertama kalinya oposisi secara langsung menghadapi monarki. Pada masa lalu, keluarga kerajaan aman bertahan di tengah keributan. Namun, pada 14 Oktober, demonstran bentrok dengan polisi saat mengejek iring-iringan mobil Raja Maha Vajiralongkorn.

Sebelumnya, pada awal Agustus, pengunjuk rasa mengadakan rapat umum bertema Harry Potter yang mengkritik raja sebagai “dia yang tidak boleh disebutkan namanya”.

Para pengunjuk rasa menuntut adanya pembatasan kewenangan konstitusional raja dan pencabutan undang-undang lèse-majesté yang terkenal keras di Thailand. UU itu dapat menjatuhkan hukuman penjara hingga 15 tahun kepada siapapun yang menghina keluarga kerajaan. UU itu kerap ditafsirkan secara luas dan sering digunakan oleh pemerintah sebagai senjata untuk mengkriminalisasi perbedaan pendapat politik.

Bangkok Post menguak mengapa saat ini pedemo mengejar raja? Salah satu alasan besarnya, rakyat Thailand tidak menyukai raja saat ini. Raja kali ini, beda dengan ayahnya, Bhumibol Adulyadej, yang memerintah Thailand selama 70 tahun hingga kematiannya pada 2016.

Bhumibol benar-benar dihormati di seluruh perpecahan politik yang terjadi di Thailand. Ia secara berkala dapat melakukan intervensi untuk menyelesaikan krisis politik sebelumnya. Termasuk pada 2014 ketika dia mendukung Prayuth sebagai perdana menteri setelah kudeta.

Tampaknya tak mungkin raja saat ini dapat memainkan peran serupa kali ini, mengingat dia adalah salah satu target utama pedemo.

Raja saat ini masih diam. Kredibilitas raja pun diragukan. Apalagi dia lebih banyak menghabiskan waktu di Jerman daripada di Thailand. Apalagi, sejumlah media internasional mulai menggali hal rinci gaya hidup kotornya dan kekayaan yang mencapai US$ 40 miliar.



Sumber:Bangkok Post


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Tunangan Khashoggi Gugat Putra Mahkota Saudi

Tunangan dari jurnalis yang menjadi korban pembunuhan, Jamal Khashoggi, menggugat putra mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS) di pengadilan federal AS

DUNIA | 22 Oktober 2020

Vaksin Covid-19 Sinovac Akan Masuk Program Imunisasi Brasil

Brasil berencana menggunakan vaksin virus corona atau Covid-19 buatan Tiongkok sebagai bagian dari program imunisasi nasional,.

DUNIA | 22 Oktober 2020

Survei: Pemilih AS Condong ke Joe Biden untuk Berbagai Isu

Calon presiden AS dari Partai Demokrat Joe Biden (77) mencatat keunggulan dalam hampir dalam semua isu dibandingkan Presiden Donald Trump

DUNIA | 22 Oktober 2020

AS dan Tiongkok Coba Libatkan Indonesia dalam Persaingan Global

AS dan Tiongkok menggunakan berbagai cara untuk melibatkan Indonesia dalam persaingan global mereka, baik secara langsung atau tidak langsung.

DUNIA | 22 Oktober 2020

Para Korban Tolak Penghapusan Sudan dari Daftar Pendukung Terorisme

Para korban menolak kesepakatan yang dibuat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mencabut Sudan dari Daftar Negara Pendukung (Sponsor) Terorisme.

DUNIA | 22 Oktober 2020

Akademisi Thailand Desak Pemerintah Hentikan Kekerasan

Sejumlah dosen dan mahasiswa mengajukan petisi kepada Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha agar pemerintah berhenti menggunakan kekerasan

DUNIA | 22 Oktober 2020

Sejak Pandemi Covid-19, Hampir 300.000 Warga AS Meninggal Dunia

Hampir 300.000 lebih orang telah meninggal dunia di Amerika Serikat sejak pandemi Covid-19 terjadi di negara itu.

DUNIA | 22 Oktober 2020

Korban Tewas Banjir dan Longsor Vietnam Jadi 105 Orang

anjir, tanah longsor, dan bencana alam lainnya telah menyebabkan 105 orang tewas dan 27 orang lainnya hilang di wilayah Vietnam

DUNIA | 22 Oktober 2020

Situasi Mengerikan, Spanyol Negara Eropa Pertama yang Lampaui 1 Juta Kasus Covid-19

Data Kementerian Kesehatan Spanyol menunjukkan total kasus mencapai 1.005.295, naik 16.973 dari hari sebelumnya.

DUNIA | 22 Oktober 2020

Saham AstraZeneca Tertetan Setelah Relawan Uji Klinis Covid-19 di Brasil Meninggal

Brasil saat ini menempati urutan kedua di dunia kasus Covd-19 setelah Amerika Serikat, dengan 115.914 kematian, menurut data Universitas Johns Hopkins.

DUNIA | 22 Oktober 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS