Bima Sakti Tidak Salah, Dia Hanya Korban

Kamis, 29 November 2018 | 11:19 WIB
JS
JS
Penulis: Jaja Suteja | Editor: JAS
Pelatih Bima Sakti.
Pelatih Bima Sakti. (Goal)

Jakarta - Tim Nasional Indonesia gagal total di Piala AFF 2018. Alih-alih mewujudkan target menjadi juara, prestasi Tim Merah Putih malah jeblok. Hansamu Yama dan kawan-kawan terhenti di babak awal.

Mereka tak mampu lolos setelah hanya menempati posisi keempat dari lima tim yang bersaing di Grup B. Indonesia takluk 0-1 oleh Singapura, lalu menang 3-1 dengan perjuangan yang alot atas Timor Leste.

Saat tandang ke Thailand, Tim Garuda kembali mengalami kekalahan. Kali ini gawang Indonesia yang dijaga Awan Setho dibobol empat kali. Sementara Indonesia hanya mampu membalas dua kali.

Indonesia dipastikan tersingkir sebelum memainkan laga terakhir setelah Thailand dan Filipina bermain imbang pada 21 November.

Laga terakhir melawan Filipina pun menjadi partai formalitas bagi Indonesia. Stefano Lilipaly dan kawan-kawan sebenarnya bermain ngotot untuk bisa meraih kemenangan. Namun serangan demi serangan tak juga membuahkan gol. Laga berakhir imbang tanpa gol.

Indonesia pun mengulangi kegagalan seperti pada Piala AFF tahun 2007, 2012, dan 2014. Pada tahun-tahun tersebut, Tim Garuda juga memang terhenti di babak grup.

Tudingan pun mengarah kepada pelatih kepala Timnas Indonesia, Bima Sakti. Dia dianggap sebagai biang kegagalan skuat Garuda mewujudkan impian merebut juara.

Bima mengaku bertanggung jawab penuh atas kegagalan ini. "Saya pikir ini bukan kesalahan pemain, tetapi pelatih," ujar Bima Sakti, 22 November lalu seperti dikutip dari Antara.

Oleh karena itu, lanjut Bima, dirinya dan seluruh staf pelatih timnas siap menerima keputusan apapun dari Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) terkait masa depan mereka.

Bima menegaskan siap jika tidak lagi melatih tim nasional lagi. "Kami tim pelatih menerima seluruh konsekuensi dan keputusan yang diambil federasi," kata Bima.

Bima Sakti mewakili tim nasional Indonesia juga mengucapkan permintaan maaf kepada masyarakat Tanah Air atas prestasi Indonesia di Piala AFF 2018.

Namun pantaskan kesalahan ditimpakan kepada pelatih berusia 42 tahun itu? Padahal Bima sebenarnya tidak dipersiapkan mengemban tugas yang amat berat ini.

Persiapan Timnas Indonesia menjelang Piala AFF 2018 memang jauh dari ideal. Saat akan menghadapi turnamen penting di Asia Tenggara ini PSSI justru tengah dalm proses negosiasi, tepatnya tarik-ulur, soal perpanjangan kontrak pelatih Luis Milla.

Negosiasi kontrak ini ternyata tak sesuai harapan. Milla menolak melanjutkan perannya di Timnas Indonesia. Saat mengucapkan salam perpisahan lewat media sosial Instagram, sosok yang pernah memperkuat Barcelona sebagai pemain ini mengungkapkan beberapa hal negatif selama dirinya "berurusan" PSSI.

Meski mengaku senang dan bahagia selama tinggal di Indonesia, namun Milla tak menampik dirinya mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan selama menangani timnas Merah Putih. Dalam unggahan tersebut, ia juga menyentil kinerja buruk manajemen yang dinilainya tidak profesional.

"Sebuah proyek yang berlangsung lebih dari satu setengah tahun telah berakhir. Meskipun dengan manajemen yang buruk, pelanggaran terhadap kontrak yang terus-menerus, dan rendahnya profesionalisme para pemimpin selama sepuluh bulan terakhir. Saya pergi dengan perasaan telah melakukan pekerjaan yang baik," papar Milla dalam unggahan pada 21 Oktober lalu.

Bima Sakti, yang selama ini menjadi asisten Milla, akhirnya ditunjuk sebagai pelatih kepala setelah PSSI gagal "merayu" pelatih asal Spanyol itu untuk bertahan. Seperti sudah diutarakan sebelumnya, Timnas ternyata gagal bersinar. Untuk keempat kalinya dari 12 edisi Piala AFF, Indonesia terantuk di babak grup.

Bima pun dituding tidak becus menangani Hansamu Yama dan kawan-kawan. Namun beberapa kalangan membela pelatih kelahiran Balikpapan ini.

Pengamat sepakbola Mohamad Kusnaeni menyatakan kesalahan justru ada pada pihak PSSI. "Ini kesalahan PSSI karena menunjuk pelatih dengan pengalaman terbatas. Sebagai pelatih, Bima tidak bisa menolak penunjukan itu," paparnya.

"Buat saya, Bima justru korban dari sikap gegabah PSSI dalam menunjuk pelatih. Saya ikut bersimpati atas banyaknya kritik publik kepada Bima. Padahal Bima hanya korban," kata sosok yang pernah mengelola klub Liga Primer Indonesia, Bandung FC ini.

Menurut alumni Institut Teknologi Bandung tersebut, pelatih tim nasional itu lebih ketat kriterianya. Selain harus berpengalaman, dia juga harus punya rekam jejak yang bisa diterima publik. Supaya dukungan terhadap tim nasional juga kuat.

Kusnaeni juga membantah anggapan bahwa Bima tak bisa menyerap "ilmu" dari Milla. "Setelah jadi asisten harusnya Bima diberi kesempatan menangani tim secara penuh tetapi bertahap. Misalnya pegang timnas U-16 dulu, lalu U-19, U-23, baru timnas senior," papar sosok yang kerap menjadi komentator acara olahraga di televisi itu.

"Jangan ujug-ujug pegang timnas senior. Prosesnya terlalu dipercepat sehingga pelatih potensial seperti Bima pun jadi gagap. Seperti mengalami gegar budaya," katanya lagi.

Hal senada juga diungkapkan pengamat sepakbola lainnya, Akmal Marhali. "Ya...Bima adalah korban. Dia tidak dalam posisi yang patut disalahkan," ujarnya.

"Begitu juga pemain adalah korban. Bagaimana bisa fokus dan konsentrasi penuh ketika event Piala AFF digelar kompetisi tetap berjalan bahkan memasuki fase krusial penentuan juara dan degradasi," ungkapnya.

Menurut dia, Bima sebenarnya memiliki prospek yang bagus sebagai pelatih muda potensial. "Cuma belum dimatangkan dalam iklim yang kompetitif. Bima belum sekalipun jadi pelatih kepala di kompetisi," ujar koordinator Save Our Soccer ini.

Bima, kata Akmal lagi, belum punya pengalaman ketika harus melakukan perubahan strategi di lapangan atau transisi permainan serta pergantian pelatih saat tim dalam tekanan.

"Seharusnya Timnas Indonesia tidak ditarget juara (setelah pergantian pelatih). Seperti Fandi Ahmad yang menangani Timnas Singapura. Fandi tidak dibebani target juara karena bermaterikan pemain muda. Mungkin itu bisa dicoba kepada Bima," katanya lagi.

Namun karena PSSI tetap menargetkan juara, beban berat pun harus dipikul Bima. "Bisa apa tanpa pengalaman dan cuma punya waktu persiapan seminggu?"

Akmal mengungkapkan, seharusnya PSSI merevisi target ketika menunjuk Bima Sakti. "Itu akan fair buat Bima. Masyarakat saya kira juga akan memahaminya," tuturnya lagi.

"Persiapan mepet, jadwal kompetisi yang bentrok dengan timnas. Fisik dan mental pemain terkuras. Sulit untuk mewujudkan target Juara. Bukan salah Bima Sakti. Bukan salah para pemain. Semua karena salah PSSI," paparnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon