ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

APBI Akan Lakukan Pengendalian Ekspor Batubara

Selasa, 8 Oktober 2013 | 17:54 WIB
RP
B
Penulis: Rangga Prakoso | Editor: B1
Ilustrasi pengiriman batubara.
Ilustrasi pengiriman batubara. (AFP)

Jakarta - Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) berencana melakukan pengendalian ekspor komoditas batubara pada 2014. Pengendalian ini dimaksudkan untuk mendongkrak harga batubara acuan (HBA) Indonesia yang berada di bawah US$100 per metric ton pada saat ini.

Ketua APBI, Bob Kamandanu mengatakan, komoditas batubara menjadi penyumbang devisa terbesar pada periode 2009-2011. Namun karena faktor melemahnya harga batubara, membuat komoditas ini tidak lagi menjadi primadona devisa.

"Semua produsen batubara akan duduk bersama membicarakan pengendalian ekspor ini. Batubara bukan produksi elektronik atau kalengan. Ini produk yang bisa habis," kata Bob, di Jakarta, Selasa (8/10).

Bob menuturkan, produksi batubara pada kuartal III 2013 mencapai 300 juta ton, dan diperkirakan mencapai 400 juta ton hingga akhir tahun ini. Harga batubara diperkirakan menyentuh US$90 per metric ton pada akhir tahun ini.

ADVERTISEMENT

Disampaikan Bob lagi, pengendalian ekspor ini akan dituangkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2014. Oleh sebab itu, pihaknya akan melibatkan pemerintah untuk memuluskan rencana ini. Menurutnya, dalam RKAB tersebut produksi batubara akan berkurang 5-10 persen. Hal ini untuk mencegah hal yang tidak diinginkan.

"Ketika harga batubara naik, nanti ada produsen yang tetap menggenjot produksi dan memanfaatkan itu. Diperkirakan permintaan dan harga batubara akan menguat pada pertengahan 2014," ujarnya.

Dikatakannya pula, sebagai negara pemasok batubara terbesar di dunia, aksi pengendalian ekspor ini tidak akan merugikan pengusaha di Tanah Air. Berdasarkan kalkulasinya, sejumlah negara penghasil batubara tidak akan mampu memanfaatkan momentum ini.

Bob menyebut, komoditas batubara asal Australia sulit diterima pasar lantaran kualitasnya yang baik dan harga yang terlalu mahal, sedangkan Amerika Serikat (AS) masih sibuk memikirkan penghentian layanan pemerintah (government shutdown).

"Kebutuhan China sangat besar sekali untuk dalam negerinya, dan dia sedang bersih-bersih di dalam," jelasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon