Pasokan Freeport Kurang, Pemerintah Minta NNT Talangi
Rabu, 16 November 2011 | 20:01 WIB
Penurunan produksi tembaga Freeport mempengaruhi kinerja smelter tembaga di Gresik.
Pemerintah meminta PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) menutup kekurangan pasokan konsentrat tembaga dari Freeport Indonesia untuk pabrik pengolahan tembaga Smelting Gresik, di Jawa Timur.
Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dede Ida Suhendra, mengakui penurunan produksi tembaga Freeport Indonesia mempengaruhi kinerja smelter tembaga di Gresik.
"Saat ini stok di smelter hanya tinggal 10 hari, rencananya kami akan meminta Newmont untuk menutup kebutuhan tembaga dalam negeri," ujarnya di di Jakarta, hari ini.
Menurut dia, penurunan produksi Freeport akibat kondisi keamanan di tambang Grasberg di Timika, Papua. Hal ini menyebabkan aktifitas produksi dan penyaluran konsentrat ke kapal pengangkut di perusahaan tersebut terhambat.
Sebanyak 8.000 karyawan Freeport Indonesia melakukan pemogokan kerja sejak 15 September lalu. Mereka memprotes gaji yang tidak sesuai standar karyawan Freeport di Freeport dunia.
Protes karyawan tersebut semakin parah sehingga Freeport menghentikan produksinya sejak 17 Oktober lalu. Saat ini, Freeport hanya mampu memroduksi 5 persen saja.
Sementara PT Smelting Gresik mempunyai kapasitas produksi sebanyak 285 ribu ton per tahun untuk mengolah tembaga, adapun cadangan konsentrat tembaga disediakan 30 ribu untuk 10 hari. "Karena Freeport kandungan tembaganya kecil, Newmont mempunyai porsi 30 persen dari produk olahan," ujar Dede.
Juru Bicara NNT Rubi Purnomo, mengatakan saat ini sedang mempelajari permintaan penambahan pasokan untuk Smelting Gresik. "Tentu kami akan membantu pabrik pengolahan konsentrat di Gresik semaksimal yang kami dapat," ujar dia.
Pemerintah meminta PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) menutup kekurangan pasokan konsentrat tembaga dari Freeport Indonesia untuk pabrik pengolahan tembaga Smelting Gresik, di Jawa Timur.
Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dede Ida Suhendra, mengakui penurunan produksi tembaga Freeport Indonesia mempengaruhi kinerja smelter tembaga di Gresik.
"Saat ini stok di smelter hanya tinggal 10 hari, rencananya kami akan meminta Newmont untuk menutup kebutuhan tembaga dalam negeri," ujarnya di di Jakarta, hari ini.
Menurut dia, penurunan produksi Freeport akibat kondisi keamanan di tambang Grasberg di Timika, Papua. Hal ini menyebabkan aktifitas produksi dan penyaluran konsentrat ke kapal pengangkut di perusahaan tersebut terhambat.
Sebanyak 8.000 karyawan Freeport Indonesia melakukan pemogokan kerja sejak 15 September lalu. Mereka memprotes gaji yang tidak sesuai standar karyawan Freeport di Freeport dunia.
Protes karyawan tersebut semakin parah sehingga Freeport menghentikan produksinya sejak 17 Oktober lalu. Saat ini, Freeport hanya mampu memroduksi 5 persen saja.
Sementara PT Smelting Gresik mempunyai kapasitas produksi sebanyak 285 ribu ton per tahun untuk mengolah tembaga, adapun cadangan konsentrat tembaga disediakan 30 ribu untuk 10 hari. "Karena Freeport kandungan tembaganya kecil, Newmont mempunyai porsi 30 persen dari produk olahan," ujar Dede.
Juru Bicara NNT Rubi Purnomo, mengatakan saat ini sedang mempelajari permintaan penambahan pasokan untuk Smelting Gresik. "Tentu kami akan membantu pabrik pengolahan konsentrat di Gresik semaksimal yang kami dapat," ujar dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




