Kuartal II, Ekonomi RI Melambat Hanya Tumbuh 5,12%
Selasa, 5 Agustus 2014 | 11:36 WIB
Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2014 mencapai 5,12 persen atau mengalami perlambatan dibanding dibandingkan dengan kuartal II-2013 (year on year/yoy) yang tumbuh 5,76 persen.
"Memang secara year on year ada perlambatan. Hal ini dikarenakan beberapa alasan," ujar Kepala Badan Pusat Statistik, Suryamin dalam konferensi pers di Kantornya, Jakarta, Selasa (5/8).
Suryamin mengatakan, perlambatan tersebut dikarenakan melemahnya pertumbuhan sejumlah industri seperti sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh negatif 0,15 persen sebagai dampak pembatasan ekspor mineral dan batu gara (minerba)
Alasan kedua kata Suryamin, industri pengolahan yang tumbuh hanya 5,04 persen, atau melambat dari periode yang sama tahun lalu sebesar 5,97 persen. Perlambatan ini, lanjut Suryamin, utamanya terjadi di industri manufaktur. "Beberapa di antaranya industri tekstil, industri kertas dan kayu, industri cetakan, pupuk, kimia dan barang-barang karet," paparnya.
Dia melanjutkan, perlambatan juga terjadu di sektor perdagangan, hotel dan restoran yang pada kuartal II-2014 hanya tumbuh 4,53 persen dibandingkan kuartal II-2013 sebesar 6,37 persen.
Penyebab keempat kata Suryamin adalah sektor keuangan, real estate dan jasa keuangan yang tumbuh hanya 6,18 persen. Padahal pada kuartal II-2013 sektor ini tumbuh 7,96 persen.
Sementara pertumbuhan ekonomi berdasarkan kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal II-2014 dibanding kuartal I-2014 mencapai 2,47 persen. Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia semester I-2014 dibandingkan dengan semester I-2013 tumbuh 5,17 persen.
"Diukur berdasarkan besaran PDB atas dasar harga berlaku pada kuartal II-2014 mencapai Rp 2.480,8 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan 2000 mencapai Rp 724,1 triliun," tulis keterangan resmi BPS.
Dibandingkan kuartal II-2013, ekonomi tumbuh 5,12 persen didukung komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,59 persen; komponen pembentukan modal tetap bruto yang tumbuh 4,53 persen.
Sedangkan komponen pengeluaran PDB yang lain mengalami kontraksi pertumbuhan. Komponen pengeluaran konsumsi pemerintah tumbuh minus 0,71 persen, dan komponen ekspor barang dan jasa minus 1,04 persen.
Dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi kuartal II-2014 dibandingkan kuartal II-2013 didorong hampir semua sektor. Pertumbuhan tertinggi dicapai sektor pengangkutan dan komunikasi yang tumbuh sebesar 9,53 persen. Sementara dibandingkan dengan kuartal I-2014, pertumbuhan tertinggi dicapai sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 4,17 persen.
Pertumbuhan semester I-2014 dibanding semester I-2013 didukung semua sektor, kecuali sektor pertambangan dan penggalian yang mengalami penurunan sebesar 0,21 persen. Pertumbuhan tertinggi dicapai sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 9,87 persen.
Struktur PDB kuartal II-2014 didominasi oleh sektor industri pengolahan, sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran masing-masing memberikan kontribusi sebesar 23,75 persen, 14,84 persen, dan 14,61 persen.
BPS juga mencatat, pertumbuhan PDB pada kuartal II-2014 dibandingkan dengan kuartal I-2014 sebesar 2,47 persen ditopang pengeluaran konsumsi rumah tangga yang tumbuh sebesar 1,50 persen; sementara pengeluaran konsumsi pemerintah meningkat 25,39 persen; pembentukan modal tetap bruto 4,61 persen; ekspor barang dan jasa 2,14 persen; dan impor barang dan jasa 5,32 persen.
Hasil yang dirilis BPS tidak jauh beda dengan prediksi Bank Indonesia (BI) yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II akan bergerak di kisaran 5,1-5,3 persen dengan titik tengah di kisaran 5,2 persen. Bahkan, pada medio bulan lalu merevisi target pertumbuhan ekonomi Indonesia 2014. Target pertumbuhan ekonomi diturunkan dari 5,5 persen-5,9 persen menjadi 5,1 persen-5,5 persen. Revisi ini merupakan yang kedua kalinya dilakukan BI pada tahun ini. Pada Maret lalu, BI juga merevisi ke bawah pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2014, dari semula 5,9 persen-6,2 persen menjadi 5,5 persen hingga 5,9 persen.
Koreksi atas pertumbuhan ekonomi Indonesia juga dilakukan Bank Dunia (World Bank). Mereka memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2014 berada pada kisaran 5,2 persen atau lebih rendah jika dibandingkan dengan proyeksi Bank Dunia sebelumnya pada Maret 2014 sebesar 5,3 persen.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




